Si Gendut, Si Pesek, Si Hitam, Si Nakal dan Si Dodol

Entah dari mana harus dimulai. Sebagai anak kecil dengan berat badan berlebih, sejak kecil saya sudah sangat sering disebut gendut. Tentunya diiringi embel-embel ”siap dibeleh” (bahasa Jawa yang artinya siap disembelih) atau juga ”koyo sapi benggala” (seperti sapi dari benggala India yang terkenal besar). Waktu kecil saya tahu persis bahwa ucapan-ucapan itu membuat saya merasa tidak nyaman. Tapi sungguh saya tidak pernah menyangka bahwa ucapan-ucapan itu bisa mengganggu proses pendewasaan saya di masa-masa yang akan datang.

Seingat saya sejak kelas 3 SD saya tumbuh jadi orang yang pemarah, pembenci dan pemberontak dengan kekerasan. Itu berlangsung bahkan sampai saya masuk kuliah di Yogya. Semuanya baru sedikit demi sedikit berkurang pada tahun 1997, pada waktu itu usia saya sekitar 21 tahun. Selain pemarah saya juga sangat mudah iri dengan orang lain, mempunyai self confidence yang rendah, prejudice, sulit percaya pada orang lain, sulit bergaul dan mempunyai kemampuan menyakiti orang lain dengan kata-kata saya yang pedas.

Melalui psikologi kemudian saya paham bagaimana kata-kata ”gendut” yang saya dengar jutaan kali mungkin dengan feature yang membuat saya waktu itu tidak nyaman, berpengaruh dalam pembentukan kepribadian saya. Begini logikanya.

 

Anak-anak adalah sekelompok individu tanpa cela. Mereka tidak mengenal iri kalau tidak melihat contoh. Mereka akan mudah berbagi dan memaafkan kalau diajari. Mereka tidak pernah berbohong, kalau toh berbohong pasti ketahuan. TABULARASA, mirip dengan lagu ”Harmoni”-nya PADI yang sekarang sedang hit-hitnya. Keluarga, orang tua terutama adalah lingkungan awal di mana seorang anak berinteraksi. Itulah maka peran orang tua menjadi sangat digaris-bawahi dalam segala macam seminar parenting, bahkan disebutkan dalam Al-Quran.

Dua hal paling penting yang perlu dilakukan orang tua untuk memastikan anak-anaknya akan hidup bahagia di masa yang akan datang adalah menumbuhkan rasa percaya diri dan perasaan berharga. Sayangnya 2 hal ini tidak bisa ditumbuhkan dengan sebutan-sebutan yang kadang tanpa sadar sering kita, sebagai orang tua, sebut untuk anak-anak.

Anak perlu merasa dirinya berharga. Dan sayangnya kontribusi terbesar untuk membuat anak merasa berharga adalah orang tua. Itu makanya setiap prestasi kecil yang dilakukan anak sebaiknya diapresiasi. Ranking 13, bagus, semester depan pasti bisa lebih lagi. Ikut pentas menari untuk publik, bagus, gak semua anak lo bisa dapat kesempatan itu. Lupa hapalan puisi di depan kelas, gak apa-apa, kalau bekerja lebih keras lain kali pasti ingat. Tiba-tiba menyanyi di tengah acara keluarga walaupun suaranya fals, jangan ditertawakan, hebat, berani sekali anak mama.

Anak akan merasa DIRINYA beharga ketika penghargaan yang diberikan lingkungannya tidak berhubungan dengan segala atribut di luar DIRINYA sendiri. Penghargaan bukan karena ranking satu, bukan karena raport-nya gak ada merahnya, bukan karena juara menyanyi, bukan karena ingatannya bagus, BUKAN. Semata-mata penghargaan karena being him/herself. Bukan penghargaan namanya kalau hanya diberikan ketika anak mendapatkan juara kelas dan tidak diberikan ketika anak dapat ranking 2. Bukan juga penghargaan namanya kalau hanya diberikan ketika suaranya merdu dan hilang ketika suaranya fals.

Kalau anak tidak mendapatkan rasa berharganya drai keluarga atau lingkungan terdekatnya, maka ia akan mencari di tempat lain. Mungkin di lingkungan teman-temannya. Ini awalnya kenapa remaja ikut tawuran, supaya merasa berharga, di depan teman-temannya. Kenapa memukuli adik-adik kelasnya, supaya merasa berharga, di depan teman-temannya. Love & hate relation dengan orang tua juga bisa muncul dalam diri anak yang membuatnya berkonflik internal lebih dalam. Dan lukanya itu, bapak, ibu, tidak sembuh dalam hitungan 1 tahun. It would take years to heal. And it is painful. Dan saya yakin tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya merasakan semua luka ini.

Percaya diri hanya bisa ditumbuhkan ketika anak merasa yakin dengan dirinya sendiri, merasa nyaman dengan keberadaan dirinya, merasa aman dengan dirinya sendiri. Lalu siapa yang bertanggung-jawab memfasilitasi semua rasa di atas pak, bu? Siapa lagi kalau bukan orang tua. Itu makanya ungkapan-ungkapan seperti pintar, cantik, cakep, hebat akan jauh punya manfaat dibandingkan dengan dodol, bego, jelek, pesek, hitam dan lain-lain. Perhatikan deh bapak, ibu, betapa suku kata untuk masing-masing kata di atas sama, hanya 2 suku kata, namun kelompok yang pertama membuat anak menjadi pribadi yang bahagia sementara kelompok yang kedua membuat anak kehilangan kepercayaan-dirinya.

Dan anak-anak yang tidak percaya diri banyak kita temui dalam lingkungan sehari-hari dalam bentuk orang dewasa yang menjengkelkan. Anak yang tidak percaya diri bisa muncul dalam bentuk perilaku menyontek karena tidak PD dirinya bisa mengerjakan tugas tanpa nyontek, pemarah karena merasa hal itu untuk melindungi dirinya dari lingkungan luar, tidak bisa bergaul karena takut ditolak, over-make-up melalui operasi plastik, pakaian, mobil dll karena merasa hal itu bisa mendongkrak kepercayaan dirinya.

Dalam kondisi yang ekstrem, feeling of not good enough karena kurang penghargaan serta kepercayaan diri muncul dalam perilaku kekerasan dalam rumah tangga baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. Muncul dalam perilaku korupsi karena merasa harta yang bisa membuat bahagia. Muncul dalam perilaku adiksi, baik narkoba, minuman beralkohol, rokok, seks bebas, dll karena merasa butuh pengakuan lingkungan.

Dan saya yakin tidak ada  orang tua yang senang mendampingi anaknya di usia dewasa di pengadilan karena berperilaku melanggar norma. Percayalah bapak dan ibu, perilaku anak saat dewasa sungguh dibentuk oleh bapak ibu di masa kecil.

 

Sekarang dengan jumlah keponakan dan lingkungan anak-anak yang bertambah setiap waktunya, sungguh saya berusaha keras untuk hanya menggunakan kata-kata positif untuk mereka. Tapi sungguh bapak, ibu, saya butuh bantuan, karena tidak artinya seorang bibi yang memuji kalau orang tuanya yang menghina. Saya butuh bantuan untuk membentuk orang-orang dewasa di masa depan yang bahagia, mensyukuri dirinya sendiri dan merasa cukup.

 

29 Agustus 2008, Permata Bintaro

Setelah merasakan luka, melihat akibatnya dan membayar konsekuensinya.

Setelah melihat Al, El dan Dul luka dalam di matanya. (Semoga Ahmad Dani gak protes)

Setelah melihat seorang anak disebut dodol di depan kerumuman orang banyak.

Setelah melihat luka di mata anak perempuan yang berusaha KERAS untuk kurus.

Setelah melihat luka di mata seorang anak laki-laki yang sudah menjadi ayah.

Setelah luka after luka after luka, don’t we need to stop this?

Tinggalkan sebuah Komentar