Lama Gak Update

Hmmm, jadi malu, kemarin pas hectic banget bisa update blog. Sekarang acara berakhir malah gak sempet update. Anyway, I promise akan update. Sementara ini, ada cerita lanjutan kemarin yang menarik

Di Semarang, setiap pasangan yang mau menikah harus wawancara. Aku bilang di Semarang, karena walaupun itu aturan standar tapi di Jakarta You dont have to do it. Tapi di Semarang tetap harus dilakukan, dengan selipan uang sekitar 300.000 IDR. Hmmm, sudahlah, gak usah dibahas soal untuk apa uang itu. Yang mau kuceritain adalah wawancaranya. Begini.

Siang itu, calon pengantin diharuskan datang bersama dengan orang tuaku. Berangkatlah kami berempat, sengaja, menyempatkan diri buat datang ke KUA —–, demi menghormati aturan negara Indonesia tercinta ini, hiks. Sampai sana, diminta menunggu sama petugasnya. It was 10.00 am. Ada 4 orang di kantornya. 1 di meja depan, lagi ngerokok. Satu di ruang tersendiri, yang kemudian ternyata adalah kepala KUA-nya, yang kemudian hari juga terbukti jauh lebih proper perilakunya dibanding anak buahnya. Satu orang lagi lagi buka-buka map di ruang lain yang isinya banyak meja dan kursi. Satu orang lagi, sepertinya habis sholat, masih basah gitu muka dan rambutnya dan lagi naikin kaki ke kursi buat pakai kaos kaki. I remember it well, dont I? Ya, karna ini hari traumatis.

Percakapan satu arah yang kemudian terjadi, dianggap sebagai proses wawancara, berlangsung kurang lebih setengah jam dengan si petugas yang baru selesai sholat tadi. Karena baru selesai sholat, dalam bayanganku terbayanglah segala sifat-sifat Allah yang Ar-Rahman Ar-Rahim itu. Hmmm, tenang nih hati melihat yang dihadapi orang baru selesai sholat.

Wawancara dimulai. Nama? Antonius Busi Priyantoro. Tanggal Lahir? 23 Januari 1975. Alamat? Dan seterusnya. Selanjutnya wawancara terjadi satu arah, begini —–

——-Masuk Islam karena? Ojo-ojo karna mau nikahi cewek Muslim.Piye Pak? (sambil nengok ke Papah). Nek ternyata habis nikah, deknen balik ——— (demi sopan santun, agama awal dihilangkan), Bapak Ibu seng kalah lho pak. Yo tho mbak? Mbake kalah. (Papah en mamah jawab, kan bukan soal menang kalah tho pak? Lagian Budi ini sudah jadi muslim sejak lama, cuma suratnya saja yang baru diurus. Bla bla bla). Lha tapi yo memang ngono, saiki ngaku Muslim, mengko bar ijab balik ——, kalah keluargane Bapak.—

itu satu fragmen so-called wawancara yang dilakukan petugas KUA Semarang. Fragmen berikutnya.

—–Nah, iki intine. Iki intine wing kawin. (Dia sambil senyum, yang menurutku sangat mesum dan membuka buku pedoman pernikahan pas di bagian doa sebelum berhubungan suami istri, sambil tangannya nunjuk ke doa itu, dia lanjutkan wawancaranya) Iki doa sebelum berhubungan suami istri. Dadi mengko nek wis Ijab, bengine, arep campur (perhatikan istilah yang dipake ya), kudu baca doa dulu. Dhisik bapak ibune iki mesti ora tau maca donga tho, hahaha. Terus nek uwis awor-awor-awor, rame-rame, terus mandi wajib, iki dongane—–

Hmmm, masih banyak fragmen lainnya. Tapi aku menyerah. Mengingatnya dan menuliskannya bisa bikin MARAH berat.

Pulang dari KUA, harusnya masih banyak kerjaan yang menunggu, tapi kam berempat memutuskan buat mengasingkan diri di SOTO PAK NO Semarang. Takutnya emosi negatif, perasaan habis ditelanjangi, habis dilecehkan sama petugas KUA ini kebawa sampai rumah dan mengganggu dinamika persiapan yang memang makin tegang.

Sungguh keluar dari sana, aku lupa kalau si bapak tadi habis sholat. Dan sungguh sebelum malam pertama aku merasa telanjang di depan petugas KUA G–A itu. Malu. Sangat dilecehkan.

1 Komentar »

  1. teddy berkata

    Apa urusan KUA ya, kalau orang pindah agama? Apa urusan KUA ya, kalau orang pindah agama lagi? Untung bukan aku yang diwawancara, tak sobek sobek mulutnya.. ^_^

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar