Hari ini mas Tonny cuti, khusus buat ngurus surat-surat yang diminta KUA Semarang buat pernikahan. Unfortunately, despite understanding the secrets, deep down inside, aku merasa, it is gonna be a looooong day.
09.00 WIB Berangkat dari Bintaro ke Tangerang
10.00 WIB Mulai ngurus surat pengantar RT & RW, practically lancar dengan sedikit bersabar buat nerima wejangan, nungguin suratnya ditulis tangan, nungguin Pak RW bangun karna baru pulang drai kebun, Intinya lancar deh.
11.00 WIB Sampai di kelurahan, tapi petugasnya lagi sibuk mondar-mandir. Pas kita dateng, sudah ada 3 orang di dalam kantor kelurahan yang kayaknya lagi nunggu. Atas nama kesopanan dan keinginan buat antri, kita nunggu. Tapi tiba-tiba terpikir, wah ntar udah terlanjur nunggu, taunya ada syarat-syarat yang harus dibawa dan belum kita bawa, jadi deh kita tanya dulu, syarat apa yang harus dibawa ke petugas yang sibuk itu.
11.40 WIB Ada berita, ternyata harus bawa KK buat ngurus surat pengantar nikah, baiklah, kita pulang dulu buat ambil KK.
11.45 WIB Sampai rumah, ambil KK. Pas mau ke kelurahan, tiba-tiba kepikir, jangan-jangan ntar diminta fotokopi, jadi sebaiknya kita fotokopi dulu deh. Selesai fotokopi, langsung meluncur ke Keluruhan lagi.
12.05 WIB Sampai di kelurahan LAGI, petugas gak ada di tempat. Gak ada satu orang pun berseragam yang bisa ditemui, cuman kedengeran suara kenceng banget, beberapa orang lagi ngobrol santai sambil ketawa-ketawa. Gak lama, masuklah satu orang berseragam dari luar (fyi, dia nyeker, gak pake sandal atau sepatu), katanya begini, “Lagi istirahat mas petugasnya, tunggu aja, mungkin jam setengah 1 dia kembali”
-keputusan sementara, kita tunggu aja, daripada ntar kelewatan lagi-
12.20 WIB Ada lagi orang dateng pake seragam, agak lebih tua kali ini, katanya, ”Wah, lagi istirahat mas, mungkin sampai jam 1, tunggu aja, gak lama kok.”
-gimana? Tetep ditunggu aja? Ok-
12.35 WIB Seorang perempuan tanpa seragam berjilbab keluar dari dalam kantor keluarahan (lagi-lagi, juga gak pake sepatu atau sandal) sambil teriak-teriak mau nitip beliin aqua ke petugas lain yang juga berseragam (yang juga gak pake sepatu atau sandal)
-mulai heran and look to each other, ini kelurahan, kok semua orang pada gak pake sandal atau sepatu?-
12.40 WIB Seorang petugas yang (sepertinya) berseragam keluar. Kostum kali ini lebih seru, celana panjang warna khaki khas PNS, kaos oblong tanpa lengan warna putih di bagian atas, tetap tanpa sepatu dan sandal
-sedikit jengkel-
13.05 WIB Sambil tetap diiringi suara obrolan yang kenceng dari dalam, aku ngetuk pintunya, mau ngecek siap atau mereka yang di dalam gak tau Kalau jam istirahatnya udah habis. Begini percakapan kami yang dihalangi tembok, aku berdiri di depan pintu, mereka (aku gak tau siapa dan berapa orang) di balik tembok sepertinya duduk di atas tikar, karna aku bisa liat kakinya. Tidak satu pun dari orang yang ada di belakang tembok itu berdiri sampai akhir percakapan, jadi aku juga gak tau orang mana yang jawab pertanyaanku.
“Permisi Bu, Pak”
“Iya?” (Nada: teriak, kan dari belakang tembok)
“Mau ngurus surat pengantar nikah pak, bu”
”Oiya, orangnya lagi istirahat, tunggu aja”
”Katanya istirahatnya sampai jam 1, ini sudah jam 1 lebih 5 bu, pak”
”Oiya, kalau gitu tunggu aja, sebentar lagi!”
”Maaf pak, bu, saya nunggu dari jam 12 tadi, katanya istirahat sampai jam 1, dan ini udah lebih”
”Petugasnya gak ada mbak, belum pulang”
”Jam berapa ya bu, pak, pulangnya?”
”Mungkin jam setengah 2. Tunggu aja mbak. Silakan duduk”
”Ibu, maaf, soalnya kita harus kembali ke kantor sebentar lagi”
13.10 WIB Seorang bapak berseragam keluar dari ruangan yang tadi penuh orang lagi ngobrol itu, yang di balik tembok itu, begini katanya, ”Ada apa?”
”Mau ngurus surat nikah”
”Udah bawa surat drai RT RW?”
”Sudah, pak.”
”Mana?”
-surat-surat diserahkan-
-sambil nunggu, mas Tonny sempet bilang, katanya, ”tenang dek, nanti kite dipersulit kalau kayak gitu” Dalam hatiku, tentu ini yang dipikirin sama semua orang kalau lagi ngurus surat ke kelurahan, biar jengkel mereka pilih diam dan gak protes karna takut dipersulit. Haaaah, lha wong memang udah sulit kok mau dipersulit lagi, gimana caranya?-
13.15 WIB Bapak yang sama keluar lagi dari ruangan, katanya, ”Tunggu bentar ya mas, petugasnya belum dateng”
13.25 WIB 3 orang ibu-ibu berseragam masuk kantor keluarahan
-kayaknya itu petugasnya yang tadi mas, kataku ke mas Tonny-
13.30 WIB Salah seorang dari 3 ibu yang baru datang tadi memegang surat pengantar RT/ RW kami, sambil dia ngobrol sama temennya yang juga baru dateng dan sambil ikut ngerubung satu orang lagi yang juga ngurus surat di kelurahan
13.40 WIB Suara mesin ketik mulai terdengar dari ruangan dalam keluarahan
-Alhamdulillah mas, akhirnya…-
13.45 WIB Bapak yang tadi keluar lagi sambil bilang, ”Sebentar ya mas, lagi diketik. Pak Lurahnya juga lagi keluar. Kalau selesai diketik juga kan harus ditanda-tangani Pak Lurah, jadi tetep harus nunggu, hehe.”
14.15 WIB Mas Tonny dipanggil ibu petugas loket. Gak lama kemudian mas Tonny deketin aku, nanyain punya meterai atau gak.
”Buat apa?”
”Karna aku udah lebih dari 30 tahun, aku harus bikin surat pernyataan belum pernah menikah, ditanda-tangan di atas meterai dengan 2 saksi”
”Siapa tahu di sini bisa beli”
”Gak ada”
”Di mana beli meterai deket sini bu?”
”————-” (Gak ada jawaban, ekspresi flat, semacam gak denger kalau barusan aku nanya sesuatu ke dia)
-keputusannya adalah keluar untuk beli meterai, sekalian cari saksi buat tanda tangan surat pernyatan- intinya, if you are above 30 and you are not married, there must be something wrong, hiks.
14.25 WIB Sampai di rumah lagi buat minta tanda tangan bapak dan ibunya mas tonny atas pernyataan belum pernah menikah itu. Bapaknya mas Tonny gak bisa tanda tangan jadi harus cari saksi lain, tetangga, ok, get it.
14.35 WIB Sampai di kelurahan lagi, nunggu lagi
14.50 WIB Pak satpam kelurahan bilang, mas Tonny dipanggil, suruh masuk
-Alhamdulillah, kata kita-
15.15 WIB Mas tonny keluar dengan muka yang sangat tidak bagus, katanya, ”Ayo, gak bisa”
-menurut keterangan mas Tonny, tadi dia dipanggil buat ngasih tahu kalau kelurahan gak bisa ngeluarin surat pengantar nikah karna agama dia yang tertulis di KK beda sama agama dia sekarang, yang tertulis di Pengantar RT/ RW-
Disarankan mas Tonny minta surat ke mana gitu (ini keterangan dari kelurahan lho) yang menerangkan bahwa mas Tonny sudah pindah agama. Ditanya kemana mintanya, katanya mesjid mana aja bisa.
Telpon sana sini. Berita sementara, karna mas Tonny dulu masuk Islamnya di Semarang tanggal 31 Maret 2007, dia harus minta surat dari Semarang. Kalau mau minta surat lagi di Jakarta, harus ngulang lagi (pura-puranya masuk Islam buat pertama kali). Hmpf.
Hasil cuti hari ini? Nol besar selain rasa jengkel yang luar biasa dan gak habis pikir sama mekanisme kerja para PNS (maaf ya yang bapak ibunya PNS), I really can not understand.