Arsip untuk Maret, 2008

Jadi Cermin?

Salah satu tugas konsultan yang tidak kusukai adalah menyampaikan kabar buruk buat klien bahwa perusahaannya selama ini menyalahi norma tertentu sehingga membutuhkan pembetulan di sana sini. Kalau gak dikasih tau, katanya sebagai konsultan kurang lengkap memberikan datanya. Kalau dikasih tahu, katanya orang luar tahu apa soal internal organisasi. Hmpf, susahnya cari duit, hehe.

Ditambah beberapa wajah yang cukup muda di tim-ku, pada perusahaan yang semi tradisional, selalu jadi masalah. Selalu ditanya-tanya soal, tahu apa anak muda, gak punya pengalaman apa-apa. Wah, susah juga ya kalau anak muda dianggap gak bisa apa-apa sampai tiba waktunya tua nanti?

Serunya adalah ketemu sama orang-orang yang walaupun nggak terima sama hasilnya, tapi setelah melalui perdebatan yang panjang kemudian mengakui bahwa beberapa hal dari presentasi ku ternyata ada benernya. Serunya juga ngeliat para orang tua yang sangat terbuka sama kemungkinan perubahan tanpa merasa ada serangan secara pribadi buat dirinya sendiri.

Haaaah, ternyata berusaha jadi cermin itu memang susah ya? Buruk muka cermin dibelah kalau kata peribahasa. Tapi cermin kan sudah pasti objektif. Lha kalau manusia kayak aku, belajar jadi cermin, lumrah kan kalau orang jadi bertanya-tanya apakah aku objektif atau gak? Toh mereka gak pernah liat dalam hatiku. Hehe.  

Kelud Utara, 13 Maret 2008

After a very long discussion with a client.

Tinggalkan sebuah Komentar

Ibu & Anak

Anak temenku ada yang dirawat di RS. Katanya habis dioperasi karena invaginasi. Hmm. Ususnya melilit dan masuk ke dalam ususnya. Harus pakai peragaan nih biar lebih jelas. Bayangin aja kalau usus tu kan kayak pipa yang empuk gitu kan, dan dia punya gerakan peristaltik yang kayak ngunyah makanan di dalamnya. Kadang kalau usus gak ada makanannya, dia ngunyah dindingnya sendiri. Nah, ini bayangkan usus kosong, ngunyah dindingnya sendiri, sampai muntir, jadi lebih kecil dari ukuran usus lain di sekitarnya, sampai bisa masuk ke dalamnya, kayak kesedhot gitu. Katanya itu sakit banget, tapi karna anaknya kelihatan gak sakit, jadi sempet salah diagnosis sebentar. Sebelum akhirnya ketahuan, langsung dioperasi. Pas aku dateng, anaknya dah agak seger. Bapak ibunya bahkan guyonan terus. Tapi aku tetep bayangin pada hari anaknya diare dan pup darah. Am I strong enough to face that kind of challenge?

Anak temenku yang lain perlu terapi bicara karna sesuatu hal, yang aku masih belum mengerti sejelas invaginasi. Karir ibunya yang lagi bagus harus ditinggal karna ibunya harus nemenin dia terapi 5x dalam seminggu. What a strong mom.

Keponakanku yang masih kecil, terpaksa diasuh sama neneknya, karena orang tuanya bercerai. Neneknya udah usia 50-an dengan energi yang terbatas mengurus cucunya karena anaknya –bapak keponakanku- lagi ada urusan di luar kota sehingga harus ninggalin anaknya berbulan-bulan. Sementara si ibu, udah gak pernah lagi nengokin keponakanku. Buat anaknya, si nenek mengambil alih peran orang tua buat cucunya. What a huge effort.

Adek iparku lagi hamil anak pertama, badannya kecil tapi perutnya luar biasa besar. Buat jalan, berdiri dari duduk, duduk di lantai, turun dari mobil, semuanya butuh kerja keras. Bahkan kantornya masih meminta dia bekerja di masa cuti melahirkannya. Wah. Hubungan ibu anak tu luar biasa ya? Aku sampai speechless kalau liatnya.

Mamahku kemarin ngingetin aku buat sholat, sampai nangis. Jadi gak enak ati aku. Walau kadang ibu terluka karna anaknya, anak terluka karna ibunya, tapi yang namanya ibu anak, memang gak ada matinya.  

Semarang, 11 Maret 2008

-mengingat ulang taun mamah-

Tinggalkan sebuah Komentar