Arsip untuk Februari, 2008

Gito Rollies vs. Nh. Dini

Pagi-pagi menjelang berangkat ke Bandung, sempat-sempetin nonton TV, berita infotainment terpagi bilang, Gito Rollies meninggal dunia di usia 62 tahun. Banyak pikiran mampir di kepala. Oh, ternyata memang benar, setiap orang itu mati pada akhirnya.Wah sesungguhnya kita gak tahu kapan kita akan dipanggil mati.Beruntung banget Gito Rollies meninggal malam Jumat, setelah beberapa tahun terakhir jadi dai yang sangat kukagumi.Lagi ngapain ya dia sekarang di sana?Apa yang dia rasain ya melihat semua pemberitaan yang menyebut ”hanya” kebaikannya?Iya sedih, katanya dia merasa kehilangan Gito Rollies.Aku terus terang gak sedih. Aku gak kenal Gito Rollies secara personal. Tapi menurutku, saat ini dia udah dapetin apa yang selama ini dia inginkan, hidup di alam ruh setelah berusaha keras membayar semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa hidup sebleumnya.What in the world would you ask?Aku puas, bahagia, terharu, wondering if I would, dengan cara Gito mengucapkan “selamat tinggal” sama kehidupan yang fana ini. What a lucky person. Jumat, 29 February 2008, hari terakhir bulan February di tahun kabisat iniJayakarta Hotel, BandungPs. Di hari yang sama Gito Rollies meninggal, bibiku ulang tahun sekaligus meluncurkan buku terbarunya di Semarang. Congratulations!  Pagi-pagi menjelang berangkat ke Bandung, sempat-sempetin nonton TV, berita infotainment terpagi bilang, Gito Rollies meninggal dunia di usia 62 tahun. Banyak pikiran mampir di kepala.

Oh, ternyata memang benar, setiap orang itu mati pada akhirnya.

Wah sesungguhnya kita gak tahu kapan kita akan dipanggil mati.

Beruntung banget Gito Rollies meninggal malam Jumat, setelah beberapa tahun terakhir jadi dai yang sangat kukagumi.

Lagi ngapain ya dia sekarang di sana?

Apa yang dia rasain ya melihat semua pemberitaan yang menyebut “hanya” kebaikannya?

Iya sedih, katanya dia merasa kehilangan Gito Rollies.

Aku terus terang gak sedih. Aku gak kenal Gito Rollies secara personal. Tapi menurutku, saat ini dia udah dapetin apa yang selama ini dia inginkan, hidup di alam ruh setelah berusaha keras membayar semua kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa hidup sebleumnya.

What in the world would you ask?

Aku puas, bahagia, terharu, wondering if I would, dengan cara Gito mengucapkan “selamat tinggal” sama kehidupan yang fana ini. What a lucky person.

Jumat, 29 February 2008, hari terakhir bulan February di tahun kabisat ini

Jayakarta Hotel, Bandung

Ps. Di hari yang sama Gito Rollies meninggal, bibiku ulang tahun sekaligus meluncurkan buku terbarunya di Semarang. Congratulations!

Komentar (1)

SIDANG SUSILA

Salah satu keuntungan baru pindah ke kompleks perumahan adalah bahwa aku dapetin semua koran gratis selama beberapa hari, semua tawaran pemasangan AC dengan harga yang sangat variatif, pembuatan taman, pokok segala jasa yang berhubungan dengan rumah lah, aku dapet. Salah satu yang paling menyenangkan adalah koran gratis selama beberapa hari, korannya KOMPAS lho, lumayan kan?

            Nah, dari Kompas ini aku dan Iya dapet info soal pentas Theater Gandrik, yang judulnya Sidang Susila. Dengan semangat 45, langsung kita susun rencana nonton theather ber-4; aku, Iya, mas Tonny dan dek Rommy. Karena posisi yang menyebar, dek Rommy yang tugasnya membeli tiket seharga 50 ribu per orangnya, itupun posisi duduk di balkon, nontonnya miring, bahkan Iya & Rommy gak bisa lihat seluruh panggung. Lucky us, masih bisa lihat semuanya. Wah, di Yogya seingetku gak pernah tuh nonton theather semahal itu, tapi pengen nonton, tapi lumayan mahal juga ya, tapi, hah sudahlah, akhirnya kita beli juga itu tiket. Pokok nonton Gandrik.

            Awal yang buruk dimulai ketika teringat bahwa itu hari Jumat, hari macet sedunia-nya Jakarta, belum lagi tambah agak gerimis, wah double trouble nih. Akhirnya datangnya jadi agak telat. Rommy yang udah nunggu di TIM, sedikit panic dan menyalurtkan kepanikannya ke Iya, tentunya Iya adalah filter yang baik buat semua. Jadi kepanikan hanya dishare mereka berdua, hehe. Masuk gedung pentasnya, 3 di antara kami ber-4 sebenarnya pengen pipis, tapi ditahan, gak mau rugi lihat orang Yogya pisuh-pisuhan. Hahaha.

            Tokoh utamanya namanya Susila, yang berbadan besar (ceritanya), jadi Kalau kepanasan senengannya buka baju. Sayangnya karna badannya yang besar, susunya ikut membesar, dan dianggap mempertontonkan Anggota tubuh di bawah UU Susila. Ha, ceritanya seputar itu. Cuman yang maen memang orang-orang Yogya, ada Jadug, Butet, Den Baguse Ngarso, Pak Bena, sama satu orang lagi yang belum kukenal namanya, main jadi Jaksa, en menurutku paling TOP penampilannya. Lucu banget. Semua pisuhan keluar, semua istilah khas Yogya keluar, ra gagas, njuk piye, pokok semua lah, jadi ada sensasi nostalgia.

            Memang sedikit terganggu sama penonton lain yang gak ngerti bahasa Jawa dan minta temen yang duduk di sebelahnya buat nerjemahin secara kontinyu, kupingku terdistrak. But anyway, cukup menghibur, walaupun ever watched better show sebenarnya, kalo menurutku. Yang paling menonjol menurutku yang bagusnya adalah teknik ganti settingnya. Karena biasanya theather ganti setting kan panggung digelapin atau paling pol mainan lampu di beberapa sudt panggung yang terpisah. Tapi yang ini nggak, pergantian setting diramu sama plot cerita itu sendiri. Bagus deh.

Pulang drai TIM, janjian mau jemput Angki, temen mas Tonny di debrito, yang lagi dateng ke Jakarta. Diajak janjian di Menteng, tempet jualan makanan kaki lima itu, malah dia nyasar sampai jalan Sabang. Oalah. Beberapa hal terjadi di Menteng.

Ketemu pengamen ganteng, lirik-lirikan kayak jaman muda lagi.

Lirik-lirikan berakhir, waktu mas Tonny dengan yakinnya memluk di depan umum, yes, kencingi teritori, itu prinsipnya.

Ada mas-mas yang habis operasi hidung karna hidungnya kurang mancung, katanya.

Sama ada mbak-mbak yang pesen sate padang, yang menurutnya bisa ngeluarin toksin-toksin nikotin dari dalam tubuh.

Well, hidupku rasanya sangat berwarna.

Malam ini kami tidur berempat sama Angki, hore, rame rumahnya….

Permata 2, 22 February 2008

Pulang dari TIM en jemput Angki yang nyasar dari Menteng sampai Jalan Sabang, aduh biyung, biyung…

Tinggalkan sebuah Komentar