We found a house we want to live in…
Ya, setelah pencarian selama seminggu ini, didukung dengan cutinya mas Tonny, sepertinya kami menemukan rumah yang pengen kami tinggalin. Ceritanya panjang kalo inget pencarian drai awal.
Pencarian dimulai di daerah Depok, mengingat aku yang sudah merasa sangat familier sama daerah depok. Terutama dengan warnet dan fedex-nya yang sangat membantu pekerjaan. Perhentian pertama di Pesona Depok; harga sewanya 19 juta/ tahun. Lumayan menarik, kamarnya ada 3 dan rumahnya 2 lantai. Dalam bayanganku, kamar ketiga yang ada di lantai 2 bakal kujadiin taman bacaan gratis buat anak-anak; seperti yang selama ini aku pengin. Tapi 19 juta bok? En gak ada space tanah buat mas Tonny tanem-tanem, kesukaannya.
Pencarian masih dilanjutkan di sekitar Depok, tapi gak ada yang memuaskan. Jadi dilanjutkan ke lokasi berikutnya, yaitu Bintaro. Langsung menuju sektor 9 yang katanya banyak rumah mungil dan affordable. Wah, ternyata lumayan banyak. Harganya pun variatif. Ada yang 8 juta/ tahun sampai ada yang 17,5 juta per tahun. Pilihan mulai mengerucut nih, sama Pesona Depok atau Permata Bintaro yang 9 juta/ tahun.
Dalam perjalanan pulang ke Depok, karena dah agak sore, iseng-iseng kita nanya sama satpam yang lagi jaga kalo-kalo ada rumah yang mau disewain sepengetahuan dia. Diiringin sebungkus marlboro kretek hasil keringatnya Ino, eh ternyata jawabannya semakin kooperatif. Bahkan kita dianterin ke kompleks satu lagi, yang katanya ada yang disewain, bahkan dia escort kita pakai motornya, hehe. Di daerah Trulek ini, ada juga rumah, ok juga, harganya 16 juta/ tahun. Wah, pilihan semakin sulit nih.
Nah, dalam perjalanan keluar dari Trulek, tiba-tiba kita kepikiran buat belok kanan, instead of kiri. Ternyata ada lagi kompleks perumahan di kanan ini, namanya Taman Permata 2. Puter-puter di sini, Cuma ada 1 rumah yang mau disewain dan ada nomor yang bisa dihubungin. Mas tOnny kayaknya langsung jatuh cinta sama rumah ini, jadi dia semangat banget buat nelponin yang punya rumah.
Singkat cerita, malem itu kita narrow down pilihan jadi 3, yaitu Permata Bintaro 9juta/ tahun, Trulek 16 juta/ tahun, Permata 2 11 juta/ tahun. Dan hari ini, kita survey ketiganya sebelum aku pergi ke Semarang ntar malem. Aku jatuh cinta sama yang Trulek, karna menurutku ini rumah udah jadi dan pernah ditempatin, jadi kerasa gitu feel rumahnya. Selain itu, dia juga ada line telponnya jadi bisa dipakai buat fax dan internet; syarat rumah yang akan kita tempatin mengingat nature pekerjaanku yang possible dikerjain di rumah. Tapi harganya memang jadi keberatan yang utama. Mas Tonny? Tetep jatuh cinta sama yang Permata 2, rumah di pojokan memang jadi impian dia yang seneng berkebun. Ditambah yang punya orang Jawa yang sangat njawani, bikin dia sangat nyaman buat berkomunikasi.
Well, negosiasi dimulai antara aku dan mas Tonny. Panjang, berbelit dan hampir memasuki area personal. Haha. Semua aspek dibahas, harga, jumlah kamar, akses transportasi, telpon fix line, tingkat kooperatif-ness si pemilik, kemungkinan kalo keluarga kita nengok mau ditidurin di mana, dll. Panjang, diikuti gelas-gelas kopi, berpotong-potong gorengan; keputusan akhirnya dibuat dengan bismillah…
Pilihan jatuh sama yang Permata 2, semua syarat memang terpenuhi sama rumah satu ini kecuali telpon fix line; tapi ini pun katanya masih bisa diusahain. Well, sekali lagi pakai bismillah, kita transfer tanda jadi sewa sebesar 1 juta ke pemilknya.
Keluar dari ATM, both of us senyum-senyum sendiri, bayangin masak bener sih segampang ini punya rumah sendiri? We both sangat excited sama pengalaman baru ini. Mas Tonny dulu udah pernah sewa rumah di Yogya bareng kakaknya dan beberapa temennya, tapi buat aku ini pengalaman pertama sewa rumah, dan rasanya memang sangat exciting.
Langsung deh bayang-bayangin bakal diapa-in rumahnya…
Sayangnya aku harus segera berangkat ke Semarang buat kerjaan, jadi we could not share the moment a little longer. Kalo inget rasanya, aku jadi pengen senyum lagi. Mungkin, bisa jadi bukan rumahnya yang bikin jadi punya arti sebesar ini buatku, tapi usaha kami berdua bersama buat nemuin rumah ini, usaha kami buat mikirin gimana caranya bayar sewa rumah dan juga obrolan kami berdua tentang rumah itu; yang bikin kami makin deket; bikin rasanya ini sebuah milestone yang boleh dirayain. Alhamdulillah.
Depok, 6 January 2008




