(a proud way of living my professional life)
Pertama kali diajak ngisi training pakai bahasa Inggris sama temen dosen di Untar, langsung aku samber ya. As orang dengan kecenderungan extroversion, sedetik kemudian baru kepikir. Aku kan udah lama gak pakai bahasa Inggrisku, gimana ini nanti? Waktu akhirnya ketemu sama ketua panitia dan timnya dari mahasiswa Binus, tambah deg-degan juga ngeliat gimana lidah mereka kelihatan snagat lancar sama bahasa Inggrisnya.
Masuk bulan Desember, tambah bingung akunya. Kalo ngajar bahasa Inggris tentu aku pernah. Banyaklah saksi hidupnya. Hehe. Ngisi training juga ok lah, ini juga ada saksinya. Tapi ngisi training pake bahasa Inggris yang udah beberapa tahun terakhir gak pernah secara aktif aku pakai? Hemm, ini baru tantangan. Despite apakah ini risky challenge atau calculated risk, toh nyatanya tantangan sudah kuterima, en tugasku tinggal pentas pada hari-H membuktikan kompetensi atau menghancurkan nama baik. After seond thought, speerti pilihan kedua sama sekali bukan pilihan. Soa pilihannya cuman kompeten titik.
Berangkat naik taksi ke puncak karna jadwalku kurang cocok sama jadwal keberangkatan mahasiswa Binus. Sampai di puncak, setelah botol kecap kedua, belok kanan, langsung disambut panitia en timku yang udah duluan dengan pandangan khawatir. Karena menurut jadwal terbaru yang mengalami perubahan, aku terlambat setengah jam. Anyway, the show must go on…
5 menit pertama, tentunya aku bingung. Tarik napas karna diteror melalui hp, tarik napas karna lupa bayar taksi, tarik napas karna jengkel jadwal berubah tanpa konfirmasi, tarik napas karna tatapan para senior mahasiswa yang ****, tarik napas intinya adalah tarik napas dalam-dalam…en the show starts…
Iya yang mulai dengan ice breaking. Good start…. Then I started my debrief. Setelah beberapa waktu berinteraksi sama peserta yang ternyata adalah pimpinan-pimpinan klub di BINUS International Program, tiba-tiba aku tercenung… anak-anak ini sama sekali berbeda sama bayanganku… they are much better…
Kelasnya berisi sekitar 40-an usia awal 20-an, seumuran cicis adekku. Sebagian besar etnisnya Cina, ada India, mungkin juga sedikit Arab dan Melayu. Mereka berinteraksi dengan sangat baik. Very open minded. Critical thinking. Sangat positif. Appropriate level of self confidence. Intinya excellent! Tiba-tiba energiku yang hampir habis, langsung naik ke level optimal. Aku dapet suntikan energi dari mereka. Dan training makin lama berjalan makin seru.
Untuk ukuran anak seumur mereka yang tinggal di Jakarta, kota besar ini, ihiks. Menurutku mereka represent generasi yang sangat menjanjikan. Sopan santunnya ada. Kepedulian sama orang lain juga masih ada. Hormat sama pihak yang lebih tua kelihatan. Halus budi pekertinya. Sementara di sisi lain juga tetep menyimpan keceriaan masa muda, keingin-tahuan, flirting-flirting gak penting antar mereka. Tapi secara umum, again, excellent, tiba-tiba aku mau merevisi kata-kataku soal gak mau nyekolahin anakku di Jakarta. Hehe.
Tiba-tiba aku ingat gambaranku tentang anak-anak seusia mereka yang sering kutemui di mal-mal di Jakarta atau bahkan di pertemuan keluargaku sendiri. Ihiks.
Gak punya sopan santun.
Manggil gue elu sama yang lebih tua.
Ngobrol sambil teriak-teriak di tempat umum.
Ngerokok sembarangan di tempat umum.
Gaya-gayaan pakai bahasa Inggris yang belepotan.
Secara ya…
Ya iya lah…
Gak bisa, tauk….
Sibuk sama rambutnya yang sengaja dimodel berantakan.
Sibuk sama hp-nya yang the latest version.
Tapi yang kutemui di sini, jauh berbeda. Sebagian dari mereka bahkan kalau di total baru tinggal di Indonesia selama 6 tahun, tapi bahasa Indonesianya lancar berat dan sopan. Gak kayak Cinta Laura yang tetep gak bisa bahasa Indonesia padahal dah 7 tahun lebih tinggal di Indonesia. Ada ketua panitianya yang sangat humble dan bersedia buat ngelayani kebutuuhan temen-temennya. Ada anggota panitia yang bahkan namanya gak kukenal, tiba-tiba ngasih segelas air hangat waktu liat mukaku pucet kedinginan.
Hah, I learn a lot from them. Tiba-tiba aku gak terlalu skeptis sama anak-anak Jakarta. Bikin aku gak heran kenapa orang tua memilih menyekolahkan anak-anaknya di tempat yang relative lebih mahal, karena ternyata memang hasilnya beda kok. Rasanya mereka gak cuman dikasih content tentang pengetahuan yang jadi major mereka. Mereka juga dikasih sentuhan khusus yang bikin hati mereka jauh lebih hangat dan lembut; sehingga overall perilaku mereka juga lebih utuh dan bijaksana untuk usia mereka; dibanding anak-anak Jakarta lain yang pernah kulihat.
Alhamdulillah. Mungkin in the future, aku mau nyekolahin anakku di Jakarta.
Ps. Bahasa Inggrisku ternyata masih ada, lancar, training selesai jam 10 malam.





widia berkata
Waduh “Anak Jakarta yang (gak) jakarta banget” aih syereemmm… semoga aku tidak termasuk dalam golongan orang2 yang gak banget itu yah . . .