Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars – Les Brown
kuambil dari emailnya Desy (garudafood)
Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars – Les Brown
kuambil dari emailnya Desy (garudafood)
Pagi-pagi aku dapet berita dari Iya kalo ssaudara-saudara kami di Kudus kebanjiran sampai 2 meter di rumahnya. Salah satu rumah yang selamat katanya sekarang jadi base camp. Pabrik pemotongan plastik yang jadi sumber pendapatan mereka juga habis, mesin dan bahan bakunya. Salah satu omku belum pulang, katanya bantuin evakuasi. Tanteku kontak Iya buat nanyain dana bencana Arupakarta.
Sendirian di Depok, tiba-tiba merasa helpless, merasa kecil, gak bisa ngapa-ngapain. Inget tsunami waktu itu d Aceh. Inget gempa bumi di Yogya. Sekarang banjir di Kudus. Setelah beberapa saat bingung harus ngapain buat ngerespon kondisi ini, I decided to sms semua kontak di hp-ku. Sapa tau, pikirku, mereka lihat di TV dan pengen nolong tapi gak tau harus lewat mana. Sapa tau juga, tadi malam mereka gak lihat TV soal banjir di Kudus, kayak aku. Sapa tau, ini barokah, jadi jalan kebaikan buat banyak orang.
Sms awal disusun, harus singkat, informatif, jadi yang tertarik bisa langsung hubungi aku dan akan kukirim bales sms detail. Sengaja sms pertama gak kutulis semua alamat kirim, kontak ataupun nomor rekening bank. Dalam hatiku, itu semua data confidential, hanya bgai mereka yang memang tertarik.
Beberapa teman langsung merespon. Sms masuk, nanyain bantuan apa yang bisa mereka kasih. Sebagian langsung nanya nomor rekening. Beberapa ngerahin temen wartawan buat bantuin. Ada lagi yang langsung bilang baju-baju bekas dan baju bayi yang belum sempet dipakai mau dikirim. Ada yang langsung kirim mie instan. Sebagian lagi share cerita kalo mereka juga lagi bantuin bencana lain di tempat lain, Solo, Sragen, Madiun, Karanganyar. Hebat deh. Semuanya bergerak. Sampai merinding aku baca sms, terima telpon en nulisin ceritanya.
It’s like a snow ball. Jumlah uang yang dikirim per orang anggap saja 100.000 IDR, which is berdasarkan berita yang kuterima adalah jumlah minimal transfer dari temen-temenku yang masuk ke Rekening mamahku sebagai respon atas smsku. Aku mulai menghitung, setahuku, gaji temen-temenku hampir semua di atas 3.000.000 IDR. Tentunya 100.000 IDR, apalagi di Jakarta, jadi kerasa sangat ringan, gak ngurangi kekayaan, gak bikin miskin, cuman gak nonton 1x, hehe. Tapi yang merespon 30 orang, 40 orang, yang Kalau dikaliin jumlahnya jadi fantastis, 4.000.000 IDR.
Kerasa powerful-nya gak? 100.000 IDR per individu, yang relatif pengeluaran yang gak terlalu signifikan buat kita, dikumpulin, jadi 4.000.000 IDR, jumlah yang sangat signifikan buat saudara-saudara kita di KUDUS yang sangat butuh bantuan. Kebayang berapa kilo beras bisa dibeli. Berapa baju bayi bisa dibeli. Berapa jenis obat-obatan bisa dibeli. Berapa bayi bisa dikasih makanan. Berapa bola bisa dibeli buat mainan anak-anak. Unbelievable.
Tiba-tiba aku merasa gak helpless lagi. Mungkin memang gak bisa kasih bantuan berjumlah miliaran. Atau bantuan dalam bentuk bangunin jalan lagi. Atau bantu nyariin korban di lokasi. But at least, we move, gak diem aja, liat berita. Aku merasa jadi bagian kelompok manusia yang sangat powerful, yang bisa ngelakuin sesuatu buat bikin dunia jadi lebih baik. Wah, what a feeling.
Semoga jadi barokah buat semua yang terlibat!
Pagi-
Itu judul berita di An-Teve pagi ini, pas aku jalan-jalan sama remote-ku. Aku heran, kenapa sih media cuman merendahkan peran mereka sebagai penyaji fakta instead of sebagai agen informasi yang memberikan pengaruh baik bagi masyarakat yang lebih luas. Dari sejak jaman SCTV mulai ”memposisikan” dirinya sebagai TV yang kritis, aku mulai heran sama etika yang harus dijunjung sama media.
Beberapa waktu yang lalu pas lagi jalan di pameran buku, tiba-tiba aku dan Iya tertarik sama satu buku tentang jurnalisme. Dan memang ternyata di dalamnya, yang kubaca sekilas menekankan tentang pentingnya skeptisme terhadap hal-hal yang terjadi di luar untuk membuat berita yang bagus. Lepas dari apakah buku itu benar atau nggak; aku jadi curious sebenarnya ada nggak kode etik yang mengatur para jurnalis?
Semacam dokter dengan kode etiknya; harus siap sedia melayani pasien kapan pun di mana pun, berapa pun duit yang mereka punya. Walaupun nggak totally dilakukan; at least profesi ini punya kode etik; jadi pelanggaran yang dilakukan oleh sesorang bisa langsung di-judge pake kode etik yang ada.
Atau psikolog; yang juga punya kode etik yang sangat dinjunjung tinggi sama beberapa orang. Lepas dari detailnya yang (beberapa pointer-nya) aku kurang setuju; paling gak itu kasih rel yang lebih pasti untuk profesi psikolog.
Tapi jurnalis? Bukannya harusnya ada ya? Tapi selama ini yang digede-gedein cuman kebebasan mereka untuk mendapatkan berita. Covering both sides of story. Boikot selebritis yang gak mau pernikahannya diliput. Bakar kartu pers karena gak boleh ngeliput Beyonce lebih dari 1 menit. Hmm, sementara mereka sibuk memperjuangkan hak-hak mereka sebagi jurnalis; aku pengin bertanya, mereka berpikir nggak tentang hak penonton & pemirsa untuk mendapatkan berita berkualitas?
Menurutku berita berkualitas gak cuman tentang detail berita yang harus akurat, atau berita yang update, tapi juga berita yang memberikan dampak emosi positif bagi penontonnya. Bahwa di luar sana ada bencana dan kita harus empati; ok lah; tapi bukannya jurnalis juga harus memberikan berita bahwa masih ada harapan, masih banyak orang yang mau membantu?
Kalau toh mau ngomongin korupsi; ada juga berita tentang guru-guru yang gajinya kecil dan tetap bertahan sama mimpinya mencerdaskan kehidupan bangsa? Kalau toh ngomongin tentang KKN; ada juga berita tentang seorang petinggi negara yang walaupun duduk di kursinya selama 30 tahun; begitu pensiun ternyata dia gak punya apa-apa?
Aku inget dulu pernah ada berita dengan jenis kayak gini; judulnya GOOD NEWS di Trans-TV; disiarkan jam 16.00 WIB. Tapi gak berapa lama, malah ilang acaranya. Entah karna gak ada penontonnya. Gak ada iklan yang masuk. Atau memang karna TV-nya orientasi sama duit aja; jadi melupakan nilai-nilai kebaikan utama dalam hidup.
Usulku judul ”INDONESIA DIKEPUNG BENCANA” yang terdengar terlalu provokatif mungkin akan lebih baik kalau diganti judul yang sedikit lebih faktual kayak ”Banjir di Madiun” atau ”Longsor di Karanganyar”. Terdengar lebih netral rasanya…
Tapi, lagi-lagi, kalao tulisan ini didenger sama Rosiana Silalahi, mungkin dengan segera dia akan bilang; kami ahli di jurnalisme, you psychologist, sebaiknya urus bidangmu sendiri. Hehe.