Arsip untuk Oktober, 2007

Pak Kun : Wali Kelas 6 SD Gergaji Semarang

Waktu itu aku kelas 6 SD. Mens pertamaku waktu aku kelas 5 SD, semester ke-2. Aku inget betul kejadian itu. Karena itulah titik di mana secara fisik, aku mulai gak percaya diri, sehubungan sama berat badanku yang terus naik. Kelas 6 konsentrasiku penuh ke ujian keluluasn dan berharap dapat NEM yang bagus supaya bisa masuk Domenico atau SMP 3, SMP favorite di Semarang. Ha, tapi ternyata tugas anak kelas 6 mulai macem-macem. Mulai dari ngurus koperasi sekolah yang usaha jualan alat-alat tulis, bantu menghias kelas anak yang lebih kecil, bantuin kelas 5 buat beresin amplop uang sekolah, lomba upacara bendera, latihan koor buat lomba, macem-macem deh. En aku ikut semua itu, yang sekarang kupikir-pikir mungkin memang indikasi energiku yang berlebihan atau sekedar cari kegiatan buat melupakan PD-ku yang berkurang sejak kelas 5 SD.

Banyak temen perempuanku mulai menghindari aku. Sampai sekarang aku gak tahu alasannya. Satu-satunya alasan yang mungkin ada adalah karena aku bukan dari kalangan orang yang kaya raya. Mereka sering pergi bareng di hari Minggu naik mobil salah seorang bapaknya terus langsung ke Matahari (waktu itu satu-satunya mall di Semarang), makan siang, ngobrol, nongkrong lah. Selain karena memang aku gak akan punya uang buat bayar itu semua, mamah memang gak pernah ngijinin anaknya maen ke luar umah tanpa alasan yang jelas gitu. Mungkin itu alasan pertama mereka mulai menjauh dari aku, padahal waktu kelas 5 mereka teman-teman baikku. Entahlah.

Aku ingat satu kejadian, yang sampai sekarang gak pernah lupa. Salah seorang teman baikku di kelas 5 itu ulang tahun. Setelah dirayain di sekolah, rencananya ada acara khusus buat temen-temen deketnya. Tahun lalu aku diajak, tapi tahun ini aku gak diajak. Bahkan aku sempet lihat undangan yang buat beberapa temenku yang lain, tapi gak pernah ada undangan buatku. Kupikir-pikir, ini titik di mana aku merasa bukan orang yang menyenangkan, yang pada akhirnya nanti di usia remajaku, bikin aku jadi sangat pemarah. Tapi ada 3 hal yang selalu menenangkanku setiap kali di sekolah. Yang pertama, kalau kelas udah mulai konsentrasi sama pelajaran, karena aku hampir pasti menguasai keadaan, hehe. Kedua, kalau setiap kali lihat temenku yang namanya Dicky. Dia yang belain aku kalau aku digangguin sama temen-temen lainnya. Terakhir dan paling utama adalah Pak Kun.

Pak Kun itu wali kelasku di kelas 6. Buatku dia my guardian angel. Aku belum tahu istilah ini waktu kelas 6. Tapi aku ingat rasanya kalau ada di deket dia, dan sekarang, hampir 20 tahun kemudian, aku merasa itulah perasaan aman pertamaku berada di lingkungan luar keluargaku. Pak Kun guru matematika kalau gak salah. Tapi yang paling menonjol, dia itu guru nyanyi yang OK banget. Dia, bareng sama Bu Mar, wali kelas 6 yang satunya, ngelatih kami sampai akhirnya bisa menang di beberapa lomba paduan suara. Aku inget setiap berangkat sekolah di kelas 6 itu, aku selalu deg-degan, terutama waktu lewat pintu gerbang masuknya. Tapi begitu lihat Pak Kun berdiri di depan pintu kelas, aku langsung senyum dan merasa baik-baik saja.

DI hari-hari aku bosen sama pelajaran di kelas, aku selalu berharap ada panggilan keluar buat tim paduan suara. Dan kalau panggilan itu bener-bener ada, aku masih inget bau ruangan tempat kami latihan paduan suara dan kulintang. Pak Kun dan Bu Mar semangat banget kalau melatih kami. Sungguh, aku merasa kayak suaraku sungguh-sungguh bagus kalau lihat cara mereka ngelatih. Aku gak yakin betul, tapi rasanya mereka pasti gak cuman ngelatih nyanyinya aja ya. Somehow mereka bisa memotivasi kami, terutama aku, buat sungguh-sungguh nyanyi. Dan bener, sampai sekarang bahkan aku masih inget lagunya. Pulang sekolah, aku sering nyanyiin lagu itu sama mamah di kamar.

Aku masih inget baunya Pak Kun, bau minyak rambutnya yang bikin rambutnya selalu klimis. Mobil colt tuanya warna abu-abu. Gaya celana panjang cutbrai dengan potongan kantong lurus dan garis celana yang diseterika halus banget. Kalau diinget, dia bukan guru baik hati lho. Dia guru yang sangat keras, dia bisa marah di depan kelas kalau kelas gak bisa jawab pertanyaan dia dengan baik. Dia bisa marah kalau rata-rata ulangan kami jelek. Dan dia guru yang cukup ditakutin sama temen-temenku yang lain. Tapi buatku, gak ada rasa nyaman yang menyamai waktu deket sama dia di sekolah.

Of all the story yang aku inget tentang dia. Ada satu cerita yang aku gak bakal lupa seumur hidupku. Hari itu kami baru aja belajar tentang serangga, termasuk nyamuk atau lalat yang punya mata facet. Waktu jam istirahat tiba-tiba aja tanpa ada cerita apa pun sebelumnya, Hengki, salah seorang temenku bilang, ”Haha, Fanny matanya mata facet.” Aku inget aku langsung marah-marah dan sempet berantem mulut sama Hengki. Tapi gak berlangsung lama, karena dia terus-terus ngomong facet, aku akhirnya nangis di depan kelas. Pas waktu itu Pak Kun datang dan tanya, kenapa aku nangis. Aku cerita tentang Hengki dan segala kata-katanya tentang mata facet. Aku inget banget, sampai sekarang, Pak Kun senyum lebar sambil megang kepalaku, terus dia bilang, ”Siapa bilang mata Fanny mata facet? Siapa? Orang matanya Fanny bagus kok. Indah. Kayak bola ping-pong.”

Waktu itu aku bahkan belum kenal istilah Iwan Fals tentang mata indah bola pin-pong. Tapi dari senyumnya Pak Kun aku tahu, itu pasti mata yang bagus banget. Langsung aku brenti nangis dan datengin Hengki, sambil bilang, ”Gak. Kata Pak Kun mataku indah kok kayak bola ping-pong.” Entah karena Hengki juga bingung sama istilah mata bola ping-pong atau karena kaget aku tiba-tiba brenti nangis dan mbales omongannku, tapi sungguh sejak itu dia gak pernah lagi berani ngomong soal mata facet di depanku. Never again.

Kalau sekarang kupikir, apa yang bikin aku begitu tenang waktu Pak Kun bilang mata bola ping-pong. I did not understand the meaning. Aku cuma tahu kalau itu pasti hal yang menyenangkan dan membanggakan, cuma dari senyum dan matanya. Ucapan Pak Kun juga bikin aku mulai PD lagi sama fisikku. Karena paling gak, aku punya mata indah kayak bola ping-pong. Haha.

Segitu berharganya Pak Kun selama aku sekolah di SD Gergaji, aku bahkan gak pernah menyangka bahwa dia sudah berumur cukup tua dan bisa meninggal sewaktu-waktu. Sungguh, dalam bayanganku, aku akan bisa ketemu dia terus-terusan. Jadi aku kaget setengah mati waktu akhirnya denger kabar dia BISA meninggal. Aku gak pernah betul-betul sadar artinya Pak Kun dalam hidupku sampai beberapa tahun kemudian. Waktu itu, dia udah meninggal. Tapi setiap kali lewat di deket gank rumahnya di Lemah Gempal, aku selalu nengok dan kayak lihat semua pemandangan yang sama terakhir kali aku ke sana. Mobilnya diparkir di depan rumah. Pager besinya warna coklat, bisa dibuka kalau digeser. Posisi pintu rumahnya. Posisi sofa di ruang duduknya. Tapi aku gak pernah punya keberanian buat nemuin keluarganya. I wish them happiness.

Now aku ngerti apa maksudnya kalau guru itu pahlawan tanpa tanda jasa.

Komentar (2)