Jam 19.20 acara dimulai… ”Semua siap?”
”SIAAAP”
”Yok kita mulai, Bismillahirohmanirrohim…”
Fatriya tanya –”gimana ni mulainya”
Kataku –”Ya udah, disuruh masuk aja rombongannya”
Fatriya bilang –”nah, ini ada Tante Titik sama Om Iwang. Ayo om, tante, tamunya disuruh masuk”
Tante Titik & Om Iwang (*bingung berat*) bilang –”aku kon piye? Kata-katane opo? Sante wae tho iki?”
Bersama-sama kita jawab –”Iyaaaaaa, sante aja, suruh masuk aja”
-Fatriya, Fauziah, Tante Titik dan Om Iwang bergerak ke pintu depan-
Entah apa yang mereka omongin, semenit kemudian rombongan bergerak ke panggung utama. (aku masih senderan di lemari di bawah jam, sambil mikir, ni kapan ya aku duduk di deket mereka, sekarang apa nunggu dipanggil?) Belum sempet kejawab, tau-tau semua orang pada teriak-teriak manggil aku, dikiranya aku lupa kalo ini acaraku (ya nggak lah….). –aku menuju panggung utama-
Lalu acara dimulai…Om Marwoto memperkenalkan diri (which is udah dia lakukan pagi hari tadi pas dia dateng pertama kali, hehe)
-”Suaranya kurang keras pak”- ni omongannya om Iwang
*Volume dibesarin dikit, gak berapa lama mbleret lagi*
Dilanjutkan dengan papahku memperkenalkan keluargaku, SEMUANYA, yak betul semua yang dateng diperkenalkan ke rombongan mas Tonny.Masih gak puas juga perkenalannya, dilanjutkan mas Tonny angkat suara….
”….dari dulu tahun 94 tuh saya sudah naksir Fanny, ada saksinya kalo gak percaya…”
Dari belakang muncul suara ”…aaah, gombil gombil…., jangan percaya….”
Disambut oleh aku yang kayak ngimpi aja bilang –
”…aku percaya bahwa kita akan sampe titik ini, cuman masih nggak nyangka kalo titik ini-nya itu ya sekarang…”
Bla bla bla-bla bla bla-bla bla bla
Cincin diselipin. Tangan kita gak mau lepas. ”I love you” tanpa suara. Tepuk tangan jadi background. Alhamdulilah juga terdengar. Sebuah beban berat terangkat dari bahu kami berdua. Selangkah lagi mendekat ke our little perfect world. Langkah yang bahkan 2 tahun yang lalu cuman kayak mimpi ditulis di atas pasir. Tapi sekarang, nyata!, senyata fakta bahwa kami tak lagi muda. Hehe.
Acara dilanjutkan dengan makan malam. Menunya agak lupa, tapi kalo gak salah soto kuning resep mamah. Yummy. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah (untungnya gak pake nyanyi Kemesraan, hihi). Bapak Sekayu manggil mas Tonny dan menyampaikan segala wejangannya tentang pernikahan. Ibu Sekayu terharu, negluarin arimata, ngerangkul aku sambil bilang, ”Selamat ya?” Tante Oeti juga terharu, matanya merah. Om Iwang tetep aja celelekan. Iya dan Ciez kelihatan lega. Tari dan Ino kelihatan merasa bersalah karna datang terlambat (really hope mereka merasa bersalah). Mamah langsung sibuk dengan proses nambahin makanan di meja yang udah mau habis. Papah ngobrol sama om Marwoto. Eko dan Budi sibuk makan, sambil kadang-kadang dipanggillin keluargaku buat motret. Mbak Nunik sibuk berat di dapur. Aku dan mas Tonny duduk di pojokan, sambil makan, both of us masih amazed, speechless, cuman senyum-senyum to each other, pegangan tangan, sangat bersyukur.
Acaranya berlangsung persis seperti bayanganku. Akrab, gak terlalu rame, cuman orang-orang terdekatku yang ada, gak terlalu formal, singkat, gak bertele-tele, indah. PERFECT! Begitu tamu pada pulang, aku siap-siap mau tidur. Ngelepas gelang, jam tangan, ganti celana pendek, gelar kasur,ups…satu lagi, ngelepas cincin putih dengan bentuk crown dari jariku. Dan malem ini, we crown our heart for the only prince and princess to each other.
Kelud, 17 Agustus 2007




