Arsip untuk Agustus, 2007

Akhirnya Datang Juga (Pementasan)

Jam 19.20 acara dimulai…   ”Semua siap?”

”SIAAAP”

”Yok kita mulai, Bismillahirohmanirrohim…”

Fatriya tanya –”gimana ni mulainya”

Kataku –”Ya udah, disuruh masuk aja rombongannya”

Fatriya bilang –”nah, ini ada Tante Titik sama Om Iwang. Ayo om, tante, tamunya disuruh masuk”

Tante Titik & Om Iwang (*bingung berat*) bilang –”aku kon piye? Kata-katane opo? Sante wae tho iki?”

Bersama-sama kita jawab –”Iyaaaaaa, sante aja, suruh masuk aja” 

-Fatriya, Fauziah, Tante Titik dan Om Iwang bergerak ke pintu depan- 

Entah apa yang mereka omongin, semenit kemudian rombongan bergerak ke panggung utama. (aku masih senderan di lemari di bawah jam, sambil mikir, ni kapan ya aku duduk di deket mereka, sekarang apa nunggu dipanggil?) Belum sempet kejawab, tau-tau semua orang pada teriak-teriak manggil aku, dikiranya aku lupa kalo ini acaraku (ya nggak lah….). –aku menuju panggung utama- 

Lalu acara dimulai…Om Marwoto memperkenalkan diri (which is udah dia lakukan pagi hari tadi pas dia dateng pertama kali, hehe)

-”Suaranya kurang keras pak”- ni omongannya om Iwang

*Volume dibesarin dikit, gak berapa lama mbleret lagi*

Dilanjutkan dengan papahku memperkenalkan keluargaku, SEMUANYA, yak betul semua yang dateng diperkenalkan ke rombongan mas Tonny.Masih gak puas juga perkenalannya, dilanjutkan mas Tonny angkat suara….

”….dari dulu tahun 94 tuh saya sudah naksir Fanny, ada saksinya kalo gak percaya…”

Dari belakang muncul suara ”…aaah, gombil gombil…., jangan percaya….”

Disambut oleh aku yang kayak ngimpi aja bilang –

”…aku percaya bahwa kita akan sampe titik ini, cuman masih nggak nyangka kalo titik ini-nya itu ya sekarang…” 

Bla bla bla-bla bla bla-bla bla bla 

Cincin diselipin. Tangan kita gak mau lepas. ”I love you” tanpa suara. Tepuk tangan jadi background. Alhamdulilah juga terdengar. Sebuah beban berat terangkat dari bahu kami berdua. Selangkah lagi mendekat ke our little perfect world. Langkah yang bahkan 2 tahun yang lalu cuman kayak mimpi ditulis di atas pasir. Tapi sekarang, nyata!, senyata fakta bahwa kami tak lagi muda. Hehe. 

Acara dilanjutkan dengan makan malam. Menunya agak lupa, tapi kalo gak salah soto kuning resep mamah. Yummy. Acara dilanjutkan dengan ramah tamah (untungnya gak pake nyanyi Kemesraan, hihi).  Bapak Sekayu manggil mas Tonny dan menyampaikan segala wejangannya tentang pernikahan. Ibu Sekayu terharu, negluarin arimata, ngerangkul aku sambil bilang, ”Selamat ya?” Tante Oeti juga terharu, matanya merah. Om Iwang tetep aja celelekan. Iya dan Ciez kelihatan lega. Tari dan Ino kelihatan merasa bersalah karna datang terlambat (really hope mereka merasa bersalah). Mamah langsung sibuk dengan proses nambahin makanan di meja yang udah mau habis. Papah ngobrol sama om Marwoto. Eko dan Budi sibuk makan, sambil kadang-kadang dipanggillin keluargaku buat motret. Mbak Nunik sibuk berat di dapur. Aku dan mas Tonny duduk di pojokan, sambil makan, both of us masih amazed, speechless, cuman senyum-senyum to each other, pegangan tangan, sangat bersyukur. 

Acaranya berlangsung persis seperti bayanganku. Akrab, gak terlalu rame, cuman orang-orang terdekatku yang ada, gak terlalu formal, singkat, gak bertele-tele, indah. PERFECT! Begitu tamu pada pulang, aku siap-siap mau tidur. Ngelepas gelang, jam tangan, ganti celana pendek, gelar kasur,ups…satu lagi, ngelepas cincin putih dengan bentuk crown dari jariku. Dan malem ini, we crown our heart for the only prince and princess to each other. 

Kelud, 17 Agustus 2007

Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya Datang Juga (Persiapan)

Akhirnya setelah a long and winding road, sampai juga perjalanan kami ke titik ini. Hehe. Diawali dari bulan Juli lalu, waktu keluargaku mulai dengan sedikit agresif bertanya, “Kapan keluarga-ne Tonny arep mrene?”. Gitu katanya. Setiap pertanyaan di-brought-up dengan cara yang sangat halus. Membuatku berpikir bahwa itu cuma sebuah keingin-tahuan. Tapi melihat seringnya pertanyaan itu keluar, akhirnya aku jadi sungguh-sungguh merasa bahwa ini bukan cuman sekedar pertanyaan ingin tahu. Ini lebih kayak pertanyaan “memaksa”, hihi.

Dan kami berdua, aku dan mas Tonny tentunya, akhirnya membicarakan topik itu di sela-sela acara wiken kami yang padat. Keluarlah kata-kata dari dia bahwa dia juga udah dari lama pengin dateng secara resmi ke Semarang sama keluarganya. Yang bikin kami bingung adalah, bapaknya mas Tonny yang baru aja kena stroke bulan Maret lalu. Apakah dia mampu bertahan di perjalanan Jakarta-Semarang?

Conversation after conversation after conversation. Masih dicari jalan keluar buat urusan “perkenalan” resmi keluarga kami. Bapaknya mas Tonny gak mau ke Semarang, katanya kesehatannya gak mendukung. Ibunya mas Tonny juga jadi gak mau, karna mau nemenin bapaknya (tepatnya begini kalimatnya -nek ibu melu, terus bapak karo sapa?-). Kakaknya mas Tonny yang cowok, menurut beberapa referensi, gak bisa ngomong di depan umum. Kakaknya mas Tonny yang cewek dan suaminya, sempet bersedia, tapi terus gak jadi, karna pas di hari yang ditentukan ada upcara bendera dalam rangka 17-an katanya (ihiks, ihiks, ihiks, mode-dont know what I feel). Mas Tonny dah kenceng banget, kalo perlu katanya, aku berangkat sendiri, toh kalo laki-laki gak perlu wali kan?

Sungguh, airmata dan airmata. DI satu sisi berusaha mengerti bahwa ini semua cuman kondisi aja yang sulit. Tapi di sisi lain juga (hampir) bertanya-tanya, why me? Why? WHY? Usul berikutnya adalah om-nya mas Tonny yang paling tua setelah bapaknya, mas Tonny langsung gak setuju, gak bisa ngomong katanya. Kalau begitu, om Jono aja, om yang paling deket sama dia, waktu itu tinggal di Yogya. Udah jauh hari dikasih tau, si om bersedia, bapaknya gak keberatan, mas Tonny ok. Pas menjelang harinya, om-nya sakit, masuk Sardjito, gejala gagal ginjal (now he has passed away dan masih ada di RS saat acaranya dilangsungkan). -ngedrop lagi

Terus siapa dong nih? Sebenernya mau nikah gak sih? Sebenernya mau ngelamar gak? Pengin kita kawin apa nggak nih sebenernya? Tim sementara yang berangkat adalah mas Tonny (tokoh utama), Budi (sepupu mas Tonny yang deket banget sama dia), Eko (sahabat mas Tonny, yang udah like a brother) en Cak Is sebagai pihak yang dituakan. Thinking-thinking-thinking, harus ada yang lebih tua. Baiklah, cari om yang lain. Aha, ada om Marwoto namanya. Pilihan kedua-nya mas Tonny tapi bukan pilihan keluarganya mas Tonny buat mewakilin. Converstaion after conversation after conversation…..diputuskan….

OK, om Marwoto berangkat ditambah kakak kandung laki-laki-nya mas Tonny. Cocok. Om Marwoto agamanya Islam juga. Pas deh. Keputusan sudah bulat. Tanggal 17 Agustus, Indonesia merdeka, upacara bendera, panjat pinang, lomba makan krupuk, juga hari lamaranku. Hehe. Rombongan berangkat dari Jakarta, sesuai skenario, kecuali Cak Is (yang ini butuh waktu sendiri buat ceritanya). Selama mereka di perjalanan, persiapan sedang dilakukan di Kelud (rumahku di Semarang).

 

Beli barang-barang yang nanti pura-puranya dibawa sebagai oleh-oleh. Ok. Beli buah-buahan buat hantaran. Beres. Hias rumah. Done. Sewa kursi. Hampir lupa, but then done. Practically, ni acara kayak pentas theatre, semua dah ada skenarionya. Keluargaku play along. Untungnya generasi orang tuaku di keluarga gak ada yang complaint. Sip. Tinggal manggung.

Rombongan sampe di Semarang pagi, mampir ke rumah, kenalan, basa-basi, dianter ke penginapan buat istirahat. Jam 1-an Eko, Budi dan mas Tonny siap bertugas, ambil bakpao, atur kursi, angkat meja, ambil pesenan roti di Purimas, hapalin rute jalan di Semarang. Semua beres. Baju seragam sudah ditentukan, semua (dari keluargaku) nanti pakai atasan putih. Baju yang dipakai sama aku dan mas Tonny, juga udah dibeli kemarin (hehehe). Semua terlibat, kecuali Ino dan Tari (dari pihakku) dan mas Novi & Om Marwoto (dari pihak mas Tonny, which is understandable).

Acara akan dimulai habis Isha’, jadi mungkin sekitar jam setengah 8 malam. Semua persiapan udah selesai jam 5. Semua mandi, gentian, habis kamar mandinya cuman 2 di Kelud. Keluarga dari Sekayu datang satu satu. Dari Kudus, juga dateng. Dari Sampangan, hadir. Mulai lengkap. Sekitar jam setengah 7, pas kita lagi guyon-guyon, rombongan Jakarta dateng. Walah, ini kan kecepetan, aku aja baru selese mandi. Apa dimulai aja tanpa aku? Weee, lha wong ini acaraku ee…Baiklah… Rombongan dipersilakan menunggu di teras depan, hahaha. Aneh banget kok sesi yang ini. Sementara rombongan menunggu di depan, di dalem keluargaku mempersiapkan diri. Siapa nanti duduk di mana, siapa duduk di mana, papah ngapalin kata-kata pembukaannya, mamah nervous dan bertahan supaya gak kumat sakitnya, pakdhe sibuk sama jengkelnya karena baru dikasih tahu 2 hari belakangan, bapak sekayu sibuk kasih amanat, seru deh pokoknya….

Jam 19.20, acara dimulai……

Kelud, 17 Agustus 2007

Tinggalkan sebuah Komentar