Pernah sesaat dalam hidupku melintaslah seorang teman yang sempat berujar, “Sayang ya buku sebanyak ini tapi gak pernah dibaca.” Kalimat sindiran itu diucapkannya wkatu pertama kali lihat kamar kosku yang penuh dengan buku-buku yang dia yakin 100% tidak pernah kubaca, bahkan sebelum bertanya padaku soal itu. Hehe. Tebaklah seperti apa orang itu.
Beberapa saat kemudian setelah teman itu melintas, aku mengalami kejadian tidak “enak” dengannya. Yang membuat seorang teman lainnya berujar, ”Begitulah kalau perkembangan kognitif tidak diiringi dengan perkembangan afektif dan psikomotorik.” Huahaha. Kalimat ini unfortunately muncul untuk mengomentari teman pertamaku di atas yang berperilaku kurang sesuai dengan peradaban umum.
Itu kejadian di awal tahun 2000-an. Dan sekarang, hari ini, aku hidup di tahun 2007. Tiba-tiba pikiran yang mungkin mirip terlintas. Begini ceritanya.
Today is 9th April 2007, tentunya itu tanggal bersejarah buat kami, aku dan mas Budi (hehe, another story). Hari ini kami pergi nonton Naga Bonar Jadi 2, garapan Dedy Mizwar, film yang highly recommended buat ditonton semua orang, gak cuman movie freak (soal film ini juga another story). Film yang berat muatan valuenya itu digarap dengan sangat segar oleh Dedy Mizwar dan dikemas jadi film semi komedi, unbelievable!
Yang nonton sangat banyak, terutama mungkin juga karena hari ini hari Senin, harinya Nomat. Barengan kami tentunya para ABG. Selesai nonton dengan decak kagum yang masih belum habis dan optimisme yang melambung (kalo sudah nonton filmnya, pasti tahu kenapa-nya), di sekelilingku tetap saja sekelompok orang bicara keras-keras di tempat umum, nyerobot jalan antrian orang, meniru-niru gaya jalan Naga Bonar sambil tertawa terbahak-bahak. DI sudut hatiku yang sepi, aku berbisik, ”Semoga mereka tahu tujuan dibuatnya film ini. Semoga mereka tahu value apa yang sedang didelivery.”
Walau aku tahu setiap perbuatan baik selalu ada gunanya, berlaku juga tentunya untuk perbuatan baik Dedy Mizwar dalam kasus ini. Jauh di dalam hatiku aku berharap, 1 di antara puluhan penonton setiap hari dan jam tayangnya, mengerti betul makna film Naga Bonar Jadi 2. Dengan begitu, masa depan yang lebih baik buat kita semua, bangsa Indonesia dan umat manusia, bisa sungguh-sungguh tercapai. Insya Allah.
Ps. Beginilah kalo semangat untuk bercerita, jadi gak sistematis penyampaiannya. Tentunya kemudian pertanyaannya, apa hubungannya sama pernyataan dua teman di atas kan? Ini hubungannya. Baca buku, nonton film, ikut pengajian, diskusi pada level wacana, aksi pada level praksis, apa pun itu, bukan jumlah yang harus jadi concern. Maka bukan jumlah buku yang dibaca atau film yang ditonton atau berapa banyak pengajian yang kita ikuti maupun bukan berapa bakti sosial yang pernah kita kasih kontribusi. Yang paling utama justru, seberapa banyak semua aktivitas itu membawa value kebaikan bagi diri kita dan membiarkan masing-masing aktivitas menambah kesadaran kita akan pentingnya kebaikan (dalma bentuk apa pun) yang akhirnya mengubah perilaku kita sehari-hari sedikit demi sedikit.
Maka di dunia manajemen, istilahnya bukan output yang penting, tapi outcome. That’s it. That’s the relation.
Thank you Mr. G. And thank you Mas Hendro.
Both of you taught me a bit about life, in quite different way. IHiks.
And I thank you, God, for bringing them in.




