Juni 30, 2006 pada 9:41 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Haha, mesti terdengar terlalu bitchy ya pertanyaannya. Ini pertanyaan diinspirasi beberapa orang teman serta pertemuanku sama beberapa orang yang signifikan. Ya intinya, aku cuman bertanya-tanya, mungkin gak sih pada akhirnya orang akan menaiki bus mana aja yang lewat di depannya karena capek kelamaan nunggu bis idamannya? Aha, sebuah analogi, favoritku, analogi.
Iya, beberapa tahun yang lalu aku pernah bilang sama one of my best friend. Keputusan menikah itu kayak keputusan apakah kita mau naik taksi nanti atau masih menunggu bis jurusan depok yang jelas lebih murah tapi beresiko penuh? Gitu deh, bayangin aja, berdiri setengah jam di pinggir jalan sudirman Jakarta sekitar jam setengah 6 sore. Blue bird lewat, kosong sih, tapi mungkin sekitar 90 ribuan sampai depok. Depok-Tanah Abang lewat, murah sih, tapi penuhnya minta ampyun. Gak berapa lama Depok-Kuningan lewat, what would you decide? Naik atau gak? Kalau semua itu berlangsung sampai sekitar jam setengah 7, bukannya kemudian kalian akan memutuskan naik bis apa aja? Gak ke depon juga gak apa-apa, kampong rambutan juga fine, paling gak sudah lebih deket dari tujuan kan?
Nah tepat kayak gitu analogiku tentang menikah. Apakah kamu cukup sabar untuk menunggu angkutan yang affordable, cukup kosong sehingga kamu bisa duduk dan sungguh-sungguh menuju depok, tempat tinggalmu? Atau you choose to hop into any public transportation yang membawamu makin dekat ke depok, walaupun gak sampai depok? Untuk orang-orang yang terakhir ini pertanyaan judul di atas muncul.
After you are in that chosen vehicle, tiba-tiba kendaraan yang sungguh-sungguh kamu tunggu lewat. Padahal kamu dah terbiasa sama kendaraan yang satu ini yang menuju Pasar Minggu. What do you feel? Are you still in love with that “DEPOK” vehicle? Or have you fallen in love with the “PASAR MINGGU” one”? Or do you in love with both of them but unfortunately can only hop into one of them? Is it possible to be in love with both of them (still)?
Gimana? Apa jawabannya? How can we be sure that the man/ woman we are marrying is the one that would take us to DEPOK? What are the signs?
Marsini, 30 Juni 2006 (doesn’t mean that I haven’t made my own choice to go to DEPOK, hehe)
Permalink
Juni 2, 2006 pada 10:02 am
· Disimpan dalam Uncategorized
Pertanyaan ini mengiang-ngiang di kepalaku sejak gempa menggoyang Yogya sehari setelah ulang tahunku. Aku takut excitement untuk membantu justru bukanmuncul dari besarnya rasa empati terhadapp korban namun justru besarnya dorongan untuk menunjukkan eksistensi diri. Aku ingat istilah terakhir ini kupakai terakhir kali saat sidang senang mahasiswa UGM sekitar tahun 97-98 saat berantem sama my best friend tentang kepentingan politik para pemimpin mahasiswa. Loh? Back to the topic.
Ya, I get confused. Setiap kali datang kesempatan menolong orang lain, orang pada umumnya, atau aku minimal sangat ingin segera bergerak dan menolong. I love making people feel loved. But why do I do that? Ada temanku menolong tanpa peduli apakah besok dia bisa makan atau gak, yang ini aku percaya pasti karena empatinya yang tinggi. Ada teman juga yang menolong dengan sikap yang sangat keras gak mau ketahuan oleh orang lain, walaupun itu artinya menolak memberi bantuan via orang yang dia kenal. Ada orang yang menolong sambil bekerja, ya semacam bekerja, digaji untuk menolong orang lain. Sampai beberapa waktu yang lalu, yang terakhir ini terkesan memiliki misi hidup yang luar biasa.
Kalau aku? Aku menolong karena apa ya? Is it because of Yogya, kota yang punya ikatan emosional denganku karna aku pernah tinggal di sana hampir 8 tahun lamanya? Is it because I have the ability to help dan membuatku merasa berdosa kalau tidak menolong? Is it because I feel related to them and merasa berkewajiban untuk menolong? Apakah eksistensiku ditentukan dengan pemberian bantuan? Apakah empatiku cuman bisa ditunjukkan dengan bantuan? Gimana kalau aku gak punya ability to help? Terjebak jadwal misalnya, kondisi keuangan yang gersang atau janji dengan klien yang sudah kutunggu-tunggu selama bertahun-tahun?
Aha, so tanpa membaca buku social psychology-nya bandura, perilaku menolong secara umum ditentukan oleh 2 hal, ability to help and willingness to help. Bukankah semua perilaku ditentukan oleh 2 hal tersebut? Hahaha, dasar psikolog amatir. Well, anyway, dari sudut pandang “yang ditolong”, tentunya bukan masalah alasan apa pun yang jadi pendorong kita menolong. Dari sudut pandangku, juga gak penting apa alasan orang lain menolong orang lainnya, tapi jadi penting ketika subjeknya kuganti jadi aku. Apa alasanku menolong sangat menentukan self image-ku, karena personally aku akan jadi sangat malu kalau aku menolong karena ingin eksistensiku diakui atau karena takut merasa berdosa.
Yes, benar kata mas Tonny, kalo bener karena alasan itu aku menolong, maka nilai pertolongannya jadi berkurang atau bahkan gak ada nilainya. But still, aku belum mengerti apa alasan aku menolong. Tapi bahwa pertolongan ini dimulai dengan niat baik untuk meringankan penderitaan orang lain, Insya Allah, aku bisa sure atas itu, tapi the real reason behind that, I need Freudian untuk mengeksplor motif-motif-ku, hehehe.
Depok, 2 Juni 2006
Tanggal 27 Mei lalu, gempa berskala 5.9 Richter menggoncang my favorite town, Yogya. Sekitar 5000 individu (real individuals, not just numbers & figures, someone’s father or mother or sister or brother) meninggal dunia karena gempa yang mengguncang Yogya di pagi hari itu. Beberapa rumah teman ambruk dan keluarganya mengungsi, salah seorang temanku bahkan kehilangan ibunya. Satu-satunya kebaikan yang muncul karena gempa ini adalah Indonesia lagi-lagi bersatu teguh untuk menolong saudaranya, dan aku selalu senang melihat kebaikan-kebaikan melayang-layang di udara, keluar dari hati-hati manusia yang paling dalam. Do we really need bencana untuk memersatukan kita? Hah, one question leads to another. Survive Yogya….
Permalink