Hahaha. Tenang aja. Walaupun judul di atas terdengar klise dan tidak lagi original, tapi tulisan ini bukan tentang kenaikan harga BBM itself. Aku pengin cerita tentang sebuah puisi yang dibacakan oleh seorang “pengamen” di bis jurusan Tanah Abang Depok, judulnya ya seperti di atas BBM Naik Lagi, puisinya begini:
Aku bilang, isu
BBM naik lagi hari ini
Aku bilang, a-u
Untungnya duduk di sebelahku 2 orang mbak-mbak cantik yang ngobrolin hal-hal ringan yang menurunkan tensiku. Hehe.
Tiba-tiba sekelompok kata menggantung di kepalaku, orang-orang dengan kemarahan yang menggumpal di belakang lidahnya. Terasa agak berlebihan ya kata-kata itu keluar drai mulutku?
Salah seorang temanku pernah bilang bahwa orang-orang yang punya unfinished business dalam hidupnya, entah kemarahan karena di-PHK, kemarahan karena skripsi yang tak kunjung selesai, kemarahan menumpuk yang tidak disadari dari perlakuan tidak adil di masa kecil, kemarahan karena ada sedikit kecurigaan bahwa Tuhan tidak memperlakukannya dengan adil, kemarahan karena gaji orang yang dibencinya lebih tinggi, kemarahan karena teman seangkatannya yang (menurutnya) lebih bodoh bisa diterima di perusahaan dengan fasilitas yang lebih baik, kemarahan apa pun, memiliki keunikan tertentu dalam menjalani hidupnya.
And aku gak bisa gak setuju. Orang-orang dengan kemarahan ini menghalalkan segala cara, menyakiti orang lain tanpa disadarinya, membanggakan dirinya di depan teman yang sedang bersedih, menimpali curhat temannya dengan ceritanya sendiri yang lebih ”hebat”. Intinya mereka sangat unik.
Aku pribadi, merasa kasihan sama orang-orang ini. Karena menurutku mereka nampak kaku, tegang dan menghabiskan banyak energinya untuk mempertahankan hal-hal yang ”unik”.
Seperti kata sebuah buku yang dibaca oleh seorang teman, kebencian dalam diri seseorang merusak orang tersebut jauh lebih parah dibandingkan dengan kanker prostat. Wuih. Menurutku kemarahan juga menimbulkan efek yang sama seperti kebencian. Worse than kanker prostat. Kanker is not something we choose, but anger and hatred are those we choose to feel. Sedih ya kalau kemudian ada orang-orang yang memilih untuk mengidap kanker prostat, or at leasr memilih untuk mengidap penyakit yang sama bahayanya seperti kanker prostat? Aku sedih…
Aku rasanya pernah mengidap penyakit itu…
Marah karena orang lain lebih langsing dan lebih cantik
Marah karena orang lain lebih cepat lulus
Marah karena orang lain gak perlu ngalamin fase ”work or die”
Marah karena orang lain sudah beli laptop duluan
Marah sama sistem pendidikan indonesia yang lambat
Marah sama diriku sendiri, marah sama angkot, marah sama semua hal
Aku inget rasanya nyakitin banget di dadaku kalau pas penyakit itu kambuh. Rasanya aku sudah ketemu dokter yang tepat buat penyakitku, moga-moga sih penyakit itu gak dateng lagi. I can not stand the pain. Inget-inget rasa sakitnya aja yang pernah muncul, air mataku mengetuk kelopaknya.
Sungguh. Penyakit yang gak tahu diri. Pelan-pelan datang. Menumpuk. Dan tiba-tiba semua hal di dunia bisa bikin kita marah. Mulai dari kalung yang harganya kemahalan sampai kucing yang hobinya ngejar-ngejar orang. Hehe.
Hati-hati my friends, penyakit ini sungguh bahaya.
After a long journey with 102
Depok, 7 April 2006




