Arsip untuk April, 2006

BBM-related Link

BBM Naik Lagi

Hahaha. Tenang aja. Walaupun judul di atas terdengar klise dan tidak lagi original, tapi tulisan ini bukan tentang kenaikan harga BBM itself. Aku pengin cerita tentang sebuah puisi yang dibacakan oleh seorang “pengamen” di bis jurusan Tanah Abang Depok, judulnya ya seperti di atas BBM Naik Lagi, puisinya begini:

BBM naik lagi bulan depan
Aku bilang, isu
BBM naik lagi hari ini
Aku bilang, a-u
Original kan? Di tengah bis AC yang seharusnya dingin, matahari jam 4 sore yang lumayan panan, penumpang yang cukup penuh serta jalanan Jakarta yang super macetnya di jam-jam menjelang 3 in 1 itu, puisi di atas kurang menghiburku malah membuatku semakin ”dikipasi”. Ingin marah pada pihak-pihak di luar sana.
Untungnya duduk di sebelahku 2 orang mbak-mbak cantik yang ngobrolin hal-hal ringan yang menurunkan tensiku. Hehe.
Tiba-tiba sekelompok kata menggantung di kepalaku, orang-orang dengan kemarahan yang menggumpal di belakang lidahnya. Terasa agak berlebihan ya kata-kata itu keluar drai mulutku?

Salah seorang temanku pernah bilang bahwa orang-orang yang punya unfinished business dalam hidupnya, entah kemarahan karena di-PHK, kemarahan karena skripsi yang tak kunjung selesai, kemarahan menumpuk yang tidak disadari dari perlakuan tidak adil di masa kecil, kemarahan karena ada sedikit kecurigaan bahwa Tuhan tidak memperlakukannya dengan adil, kemarahan karena gaji orang yang dibencinya lebih tinggi, kemarahan karena teman seangkatannya yang (menurutnya) lebih bodoh bisa diterima di perusahaan dengan fasilitas yang lebih baik, kemarahan apa pun, memiliki keunikan tertentu dalam menjalani hidupnya.
And aku gak bisa gak setuju. Orang-orang dengan kemarahan ini menghalalkan segala cara, menyakiti orang lain tanpa disadarinya, membanggakan dirinya di depan teman yang sedang bersedih, menimpali curhat temannya dengan ceritanya sendiri yang lebih ”hebat”. Intinya mereka sangat unik.

Aku pribadi, merasa kasihan sama orang-orang ini. Karena menurutku mereka nampak kaku, tegang dan menghabiskan banyak energinya untuk mempertahankan hal-hal yang ”unik”.
Seperti kata sebuah buku yang dibaca oleh seorang teman, kebencian dalam diri seseorang merusak orang tersebut jauh lebih parah dibandingkan dengan kanker prostat. Wuih. Menurutku kemarahan juga menimbulkan efek yang sama seperti kebencian. Worse than kanker prostat. Kanker is not something we choose, but anger and hatred are those we choose to feel. Sedih ya kalau kemudian ada orang-orang yang memilih untuk mengidap kanker prostat, or at leasr memilih untuk mengidap penyakit yang sama bahayanya seperti kanker prostat? Aku sedih…

Aku rasanya pernah mengidap penyakit itu…
Marah karena orang lain lebih langsing dan lebih cantik
Marah karena orang lain lebih cepat lulus
Marah karena orang lain gak perlu ngalamin fase ”work or die”
Marah karena orang lain sudah beli laptop duluan
Marah sama sistem pendidikan indonesia yang lambat
Marah sama diriku sendiri, marah sama angkot, marah sama semua hal

Aku inget rasanya nyakitin banget di dadaku kalau pas penyakit itu kambuh. Rasanya aku sudah ketemu dokter yang tepat buat penyakitku, moga-moga sih penyakit itu gak dateng lagi. I can not stand the pain. Inget-inget rasa sakitnya aja yang pernah muncul, air mataku mengetuk kelopaknya.

Sungguh. Penyakit yang gak tahu diri. Pelan-pelan datang. Menumpuk. Dan tiba-tiba semua hal di dunia bisa bikin kita marah. Mulai dari kalung yang harganya kemahalan sampai kucing yang hobinya ngejar-ngejar orang. Hehe.

Hati-hati my friends, penyakit ini sungguh bahaya.

After a long journey with 102
Depok, 7 April 2006

Tinggalkan sebuah Komentar

Gosip Glen & Dewi Sandra (ihiks…)

Glen, idolaku. Idolamu?

Pernah ngerasain sakit hati atau patah hati karena ada seorang jauh yang gak kamu kenal menikah sama perempuan lain? Aha, aku ngerasain-nya beberapa hari belakangan. Ihiks, Glen akhirnya menikah sama Dewi Sandra. Despite all the controversy tentang agama, aku tertarik sama perasaan yang muncul saat ngeliat Glen mengucapkan janji setianya sama Dewi, bahkan lewat layar TV. Aku pikir, ini aneh sekali, karena belum pernah dalam hidupku aku merasa ”sedih” atas pernikahan seseorang, even ketika itu pernikahan mantan pacarku. Aku tahu gimana carany menunjukkan rasa ikut bahagia ketika temanku menikah. Tapi soal yang satu ini, agak sulit. Ihiks…
Terus terang, rasa ini membuatku heran, kok bisa ya aku merasa sedih atas sesorang yang gak kukenal? Dari dulu aku selalu bilang bahwa aku gak punya idola artis, kecuali Denzel Washington ya? Hehe. Tapi ternyata aku punya lho idola orang Indonesia, ya mungkin Glen itu ya? Tapi apa ini namanya idola? Sedih ketika dia bahagia, bahagia ketika dia sedih putus sama pacarnya? Kok jadi jelek ya kesanku tentang memiliki seorang idola?
Anyway, aku jadi paham gimana perasaan para remaja yang sampai nangis-nangis kalo liat Ariel Peter Pan lewat di deket mereka. Atau perasaan Rere, sepupuku, yang setiap kali senyum-senyum menyudut sendiri kalo lagi nonton Bojes konser di Indosiar. Oiya, aku jadi inget pernah ada masa dalam hidupku, setiap jam 5 sore aku nungguin acara TV karena waktu itu biasanya lagu jalan-jalan sore-nya Denny Malik diputer. Atau aku juga pernah mengidolakan West Life (walaupun kata Loren, temenku, aku bukan termasuk segmen pasarnya mereka, ketuaan, hehehe). Percaya gak percaya aku juga pernah mengidolakan pemain theater yang namanya Agus siapa gitu, karena menurutku maen theater-nya keren.
Hahaha, sedihku berkurang, ternyata idola-idola itu Cuma refleksiku tentang ”lelaki ideal” di masa itu. Mungkin menurutku, dari jauh para idolaku itu mewakili sifat-sifat laki-laki yang kusukai, dan akhirnya aku jadi mengidolakan mereka. Bisa jadi dulu aku suka laki-laki berambut bob yang pintar menari. Hah? Rambut bob? Hehehe. Apakah itu artinya sekarang aku suka laki-laki berkulit hitam dengan mata indah? Aha….

Marsini, 5 April 2006
#dan beruntunglah Dewi Sandra yang menikahi 2 lelaki terbaik di dunia artis#ihiks

Tinggalkan sebuah Komentar