Arsip untuk Februari, 2006

My Favourite Song

What’s Your Favorite Song?

Yes, pertanyaan yang biasa kudengar dari teman-teman baru, apa lagu favoritmu? Aku punya banyak lagu favorit dan tentu punya alasan kenapa aku suka lagu itu. Yang pertama dan terutama, aku suka That’s The Way It Is-nya Celine Dion. Why? Karena kalimat-kalimatnya membuatku selalu bangun kembali setiap kali habis terjatuh. Liriknya membuatku menangis di siang bolong bahkan ketika sedang mengetik proposal buat salah satu klien. Karena by support of this song I decided not to quit from where I was at that time. You know, I save some of my story to be my little secret. Anyway, It is a great song. Don’t give up on your faith.

Terus, aku juga sangat suka sama lagu yang ada kata-kata ini, aku gak tau judulnya:
I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
I spread my wings and fly away
Yang ini, apa juga perlu diterangkan? Hehe, pilihan jalanku sering kali sepi dan tidak populer. Kayak memutuskan buat sekolah lagi saat sudah punya pekerjaan yang menurut beberapa orang baik. Terus memutuskan buat memulai usaha sendiri saat beberapa perusahaan bersedia menggajiku dengan angka yang membuatku sempat tergoda. Dan tentu memutuskan untuk mencintai laki-laki satu ini, sementara banyak laki-laki ”mudah” yang bisa kudapatkan. Ada-lah gak banyak juga, hehe. Lagu ini membuatku semangat setiap kali aku merasa kesepian di jalan pilihanku. Aku gak pernah menyesal sama pilihan jalanku, tapi kadang aku merasa lelah jalan sendirian dan lagu ini membuatku yakin, it’s worth to do. Yes!

Ada lagi lagu Indonesia yang kusuka, lagunya Jikustik yang 1000 tahun. Kenapa ya, karena kesannya itu lagu sangat sopan dan romantis menurutku. For me, lebih romantis dari lagu yang cuman menyediakan Sabtu dan Minggu buat pacarnya (hehe). Karena as a woman, aku merasa perlu diperjuangkan, ditunggu dan diusahakan keras. Lagu ini membuatku merasa jadi perempuan spesial karena bersedia menungguku 1000 tahun, walaupun nyatanya Cuma 7 tahun but feels like 1000. Huahaha. Lagu ini mengingatkanku sama beberapa laki-laki luar biasa yang bersedia menunggu 1000 tahun bagi orang yang dicintainya dengan cara-cara terhormat. Menunggu man, bukan berselingkuh lho. Hmm, gini perbedaannya. Menunggu means you have to be passively involved dalam kehidupan perempuan yang kamu cintai. Tapi selingkuh berarti you are actively involved, dengan pura-pura memeluknya saat dia bermasalah sama pacarnya atau mengajaknya makan malam saat pacarnya di luar kota. No, itu selingkuh, berbeda sama filosofi menunggu 1000 tahun. Hehe. Don’t take it personal.

Masih banyak lagu lain yang kusuka, tapi 3 lagu ini sungguh-sungguh menemaniku di saat the lowest part of my life. A-must-work season (ihiks). Skripsi. The-I-Hate-Myself moment. My forbidden boyfriend (not anymore now, thank God). Tugas akhir with that respectful lecturer. The crawling moment of Arupakarta!. Huuh, jalan-jalan menuju kebenaranku yang (hampir) selalu sepi. But I survive man, I do survive.

Ya, all I wanna say is, God do wink to me, to you, to us, through many different tools. Song is one of them for me. And I thankful for that.

So, do you have favorite song? What is it? And why? The moment you find the reason may be is the moment God winks to you.

With unbelievably huge love,
Di meja kerja baruku, 24 Februari 2005

Tinggalkan sebuah Komentar

Getting 30?

Getting Closer to My 30

Yes. It is getting closer to that number. Angka yang sebelum kupikirkan nampak sangat menakutkan. Apa arti 30 tahun untukku? Aku berharap banyak pada angka yang menunjukkan setengah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw ini. Apa ya artinya?
Kalimat pertama yang terlintas di kepalaku adalah di usia 30 aku akan berusaha keras melupakan pertengkaran, permusuhan, sakit hati yang kualami sebelum-sebelumnya. Come on, it’s 30. Gak mungkin banget aku akan mempermasalahkan teman SD yang lupa mengundangku ke pesta ulang tahunnya kan? Juga rasanya gak akan aku sibuk dengan teman kuliah yang entah kenapa selalu punya cara untuk menyakitiku? Itu yang pertama. Bahwa semuanya pernah terjadi, so sorry, I can not forget. Tapi aku gak akan terlalu sibuk dengan itu. I promise. Karena itu menghabiskan energiku sendiri.
Oprah suatu hari pernah cerita di salah satu shownya, tentang betapa dia membenci seseorang sampai-sampai selalu berusaha menghindarinya. Dan suatu hari, dia bertemua orang tersbeut baru keluar dari mal bersama seorang perempuan dan mereka sedang nampak bahagia. Senyum kecutlah aku mendengarnya. Jadi, belajar darinya, moga-moga aku bisa untuk berhenti membenci orang.
Tapi, apakah orang bisa berhenti membenciku? AH, gak tahu. Dan itu di luar wilayahku. Semoga saja mereka juga memutuskan untuk lelah dari segala kebencian yang mereka punya untukku.
Apa lagi ya arti 30 untukku. Oiya, satu lagi. Sudah harus mulai serius memikirkan pernikahan. Aha… getting scary ya? Kemarin-kemarin aku sibuk berkelit, kubilang aku pengen menikah umur 30-an supaya paling tidak separuh dari hidupku kuhabiskan untukku sendiri bukan untuk orang lain. Hehehe, so selfish, isn’t it? Tapi now, rasanya sudah saatnya bicara berapa biaya catering, baju seragam buat keluarga, tinggal di mana setelah menikah. Wah, jadi terasa menyeramkan. Tapi aku excited, sama kayak dulu aku excited masuk dunia mahasiswa.
Hmm, 30 juga nampak jadi zona nyaman buatku. Gak perlu lagi takut ada orang yang naksir dan aku gak suka. Sekarang kalau ada orang suka, somehow mereka paham apa yang kurasakan tanpa harus ”nembung” (meminjam istilah mas Sonny kecil-ku). Iya, sungguh nyaman berdekatan dengan banyak lelaki di usia ini karena hampir yakin gak akan ada tahap-tahap menebak-nebak lagi kayak jaman 20-an.
30 membuatku makin memperhatikan juga pola makan. Makan sayur. Minum juice. Olahraga. Minum vitamin. Yoga. Hindari daging merah. Kurangi cabe (ihiks.)

Make up things with your family.
Understand others (men especially w/ different software plug into their head) more.
Enjoy life, read, write, travel, have fun on my own way.
Do things I forget this 10 years, like play the piano.
SHOLAT ?
Takut mulai keriput dan menggelambir.
Penuaan dini?
Kehilangan pesona?

Haha… jadi banyak. Intinya aku Cuma pengen jadikan usia ini tonggak buat melompat jadi a better person. Dan tentu melupakan segala kesalahan masa lalu, baik milikku maupun milik-mu. Hehe.

Kata Gede Prama, aku harus siap merengkuh usia 30. Yes. Sini, I think I am ready. Come to mama, 30.

After some thoughts, ternyata gak beda banyak ya ulang tahun 30 dan 20? Sungguh lo. Gak banyak bedanya. Now I feel better, rasanya ulang tahun 30 sungguh SAMA. How do I explain this? Gini, apa bedanya orang umur 29 dan orang umur 30? Hayo apa bedanya? Orang umur 29 ada yang belum nikah, umur 30 juga ada. Penuaan dini bisa dimulai umur 29 juga bisa umur 30. Meninggal bisa 29 juga bisa 30. Apa ya jadinya, kupikir-pikir. Dan kesimpulanku, didukung oleh beberapa orang yang sudah melewati usia yang menurut mereka rawan, ternyata sama aja kok. Tuntutan luar yang berubah but not really change your existence, unless you say so.

Big love, warm hug to all who’s coming 30.
Depok, 23 Februari 2006.

Tinggalkan sebuah Komentar

Viva VIna

Puncak Gunung Es

Menonton konser Viva Vina, airmataku turun. Entah kenapa. Malam-malam aku coba ngobrol dengan diriku sendiri, kenapa kau menangis, ku? Jawabannya aku menangisi setiap tetesan keringat dari semua pihak yang terlibat dalam konser itu. Buatku konser itu sendiri Cuma sebuah puncak gunung es, paling nampak dan diperhatikan tapi tidak mewakili keseluruhan kerja keras itu sendiri. Ya, kupikir itu alasan aku menangis.
Semakin angin malam bertiup, makan aku berpikir, bukannya hidup memang selalu seperti Viva Vina? Sebagian kecil dari kerja keras yang tampak diperhatikan, sisanya hanyalah keringat, air mata dan kesendirian.
Pesta wisuda adalah puncak gunung es, lembahnya adalah pertemuan alot dengan para dosen pembimbing, penjaga perpusatakaan yang kurang kooperatif, orang tua yang menuntut segera lulus, pacar yang minta ditemani menonton. Anyway, toh puncak gunung es-nya tetaplah indah.
Kelahiran adalah puncak gunung es. Tentunya ngidam, perubahan bentuk tubuh, tendangan halus di perut, dorongan ingin mengeluarkan isi perut, kaki yang berubah jadi kaki bebek, ketakutan rasa sayang suami yang berkurang, itu semua lembah-lembahnya. Toh, puncaknya tetap ingin dinikmati semua wanita di dunia.
Orgasme adalah puncak gunung es. Bagaimana tidak? Bagaimana mungkin tercapai orgasme yang sesungguhnya jika tak melalui lembah cinta, keringat, penyesuain ritme, gairah, keinginan menyatu yang luar biasa besar? Dan nyatanya, banyak orang menyukai dan mengejarnya.
Bob Sadino once said di sebuah stasiun TV, katanya, kalau bisnis saya lancar-lancar saja saya akan curiga, kapan jatuhnya nih? Begitu jatuh dan gagal, saya senang, artinya saya sedang menumpuk gunung keberhasilan. Om Bob sudah belajar dari lama tentang puncak gunung es, makanya ia tak takut akan kegagalan.
Palapsiku tercinta juga tak berhenti mendaki gunung, walau dingin, mengeluarkan banyak uang, lelah, jengkel dengan para pendaki lambat sepertiku. Tapi mereka tahu, puncak gunung sana, walaupun bukan es, layak diperjuangkan.
Dan aku? Aku akan mulai dengan lembah gunung esku sendiri. Yes! Yes! Yes!

Marsini, 18 Februari 2006

Tinggalkan sebuah Komentar