Arsip untuk Oktober, 2005

How Much WOuld You Invest?

How much would you invest?
How much return would you like to get?


Sejak lulus S2 dan kemudian sibuk jadi tentara bayaran dengan bayaran yang gak jelas tiap bulannya, jelas otakku berputar semakin keras untuk memastikan masa depanku aman secara finansial. Didukung my private “A” yang punya kemampuan manajemen keuangan jauh di atas rata-rata, kami berdua sepakat untuk mencari bentuk investasi paling tepat buat kondisi keuangan kami. Setiap peluang investasi kami analisis, berapa modal pertamanya, berapa return-nya, berapa lama harus invest-nya, gimana keamanannya, bisa gak jadi jaminan masa depan kami. Terus-terusan kami lakukan proses itu, sampai sekarang.
Lucunya beberapa hari yang lalu saat aku (lagi-lagi) jadi tentara bayaran di salah satu training di Kecamatan Pancawati, Sukabumi, lagi-lagi pertanyaan tentang investasi kembali diulang. Pertanyaannya sama, berapa investasi yang mau ditanam dan berapa return yang mau didapat. Tapi hebatnya, kali ini bukan uang yang jadi konteks. Tebak investasi apa kali ini yang mau dibicarakan! Tanah? Bukan. Property? Juga bukan. Ini clue-nya, yang ini jenis investasi dengan tingkat resiko terendah dan jaminan rasa aman yang paling tinggi. Hayo apa? Emas? Masih salah, emas sekarang makin mahal. Reksa dana? Kalau itu gak perlu sampai Sukabumi.
Mau tahu apa yang diomongin gak di pucuk hutan pinus itu? Kami lagi bicara tentang investasi dalam hubungan antara manusia. Iya, ternyata hubungan antar manusia juga menganut prinsip yang sama, seberapa banyak kita berinvestasi, segitu juga return yang bakal kita dapat. Di tengah derai air mata 17 orang laki-laki hebat ditambah beberapa orang perempuan luar biasa, aku tiba-tiba merasa ditampar. Bagaimana mungkin aku segitu keras menganalisis kondisi keuangan dan kesempatan investasiku di bidang finansial tapi lupa bahwa aku juga harus investasi dalam konteks hubungan antar manusia? Ihiks, aku merasa memukul air ke muka sendiri…
Sering kali aku lupa bahwa investasiku dalam hubungan antar manusia begitu sedikit tapi berharap buat mendapatkan return yang besar. Gak mau senyum pada orang-orang yang menurutku mengesalkan tapi tetep aja marah-marah kalau mereka bertingkah semakin menyebalkan. Ya jelas lah, return-nya 0% karna investasinya pun relatif kecil. Gak mau mulai pembicaraan dengan orang baru sementara berharap dia memulai pembicaraan lebih dulu. Gak mau membuka diri lebih dulu pada lingkungan tapi berharap lingkungan bisa memahami pikiran dan mimpi-mimpiku. Gak mau jujur sama diri sendiri dan lingkungan tapi berharap lingkungan bisa jujur pada diriku sendiri. Gimana mungkin?
Bukankah itu seperti berharap mendapatkan bunga deposito yang tinggi tapi gak bersedia menaruh sejumlah uang di bank untuk didepositokan? Sama juga seperti berharap mendapatkan return reksa dana jutaan rupiah tapi hanya bersedia menyisihkan ratusan ribu rupiah sebagai investasi? Hitungan di atas kertas tentunya itu gak mungkin dan supaya bisa disebut orang pintar, aku juga tidak akan berharap atas hal-hal gak mungkin di atas kan? Lucunya, dalam hubungan antar manusia sering kali aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Berharap return yang besar tanpa mau berinvestasi lebih dulu. Ihiks, ya Allah, sungguh kerdil makhluk-Mu ini.
Aku masih ingat kata-kata yang selalu diulang-ulang oleh senior trainer-ku di Sukabumi minggu lalu;
”Anda akan mendapatkan return sebesar investasi Anda!”
”Anda investasi apa pada teman Anda?”
Sekali lagi aku tertampar, aku bertanya, iya ya, investasi apa yang sudah kutanam pada hubungan antar manusia? Investasi apa yang kutanam pada teman-temanku? Tanpa maksud menjadi individu yang itung-itungan, aku coba mengingat-ingat, walah, tiba-tiba aku merasa menjadi orang bodoh, yang berharap return besar dari investasi yang tak seberapa. Ampun teman-teman, maafkan temanmu yang bodoh ini. Itu tentunya yang bikin kalian lupa ulang tahunku, lupa menelponku saat datang di kota tempat tinggalku, lupa mengajakku saat ada kumpul-kumpul, tidak membalas sms-sms-ku, tidak menengokku saat sakit, juga tidak melakukan hal-hal lain yang kuharapkan.
Ya, I got your message my dearest friend, I didn’t invest enough on our relation. But please do remind me to do more in the future ‘cause I do expect lots of return. Hehehe.

Pancawati, Sukabumi, 9 Oktober 2005.
With my deepest respect for Bu Rhieny & Pak Julius Hasan.
And also big & warm hug for 17 strong men I met & 3 wonderful young lady
.

Komentar (1)

When Love Comes

When Love Comes…
(from bu Rhieny to one of my new friend, Sukabumi, 7 Oktober 2005)
Udaranya waktu itu dingin banget di Pancawati, Sukabumi. Secara fisik, yes, aku merasa kedinginan. Tapi kalau boleh jujur, secara psikologis, aku merasa jauh lebih dingin. Gak tau kenapa. 2 hari yang lalu aku menahan tangisku di tenggorokanku (yang berefek sakit tentunya di bagian leher atas) menyaksikan 17 orang laki-laki luar biasa berbagi cerita paling tertutup dalam hidupnya (sebenarnya ada tambahan 1 orang perempuan juga pada kesempatan itu, cuman itu kusimpan buat tulisan lain ya?). Hidup sungguh penuh misteri ya? Pertama kali ketemu 17 orang laki-laki itu, gak ada hal lain yang terlintas di kepalaku selain, ”Inilah sekelompok laki-laki muda yang beruntung dalam hidupnya.” Gimana gak? Mereka adalah sekelompok karyawan baru sebuah perusahaan telekomunikasi yang terkenal punya gaji yang tinggi dibandingkan perusahaan lain.
Tapi memang ternyata hidup menyimpan misterinya masing-masing. Kelompok inilah yang kemudian terbukti adalah kelompok laki-laki kuat yang menanggung hidup keluarganya, yang ditinggal keluarga terdekatnya, yang terus bertahan hidup walaupun cobaan gak berhenti mendatanginya. Mereka adalah orang-orang yang sangat perlu diacungi jempol atas caranya menjalani hidup. Beberapa dari mereka bahkan memutuskan tidak akan pacaran lebih dulu sampai mencapai target-target pribadi yang mereka tetapkan bagi dirinya sendiri. Aduh, para idealis hebat bukan? Gara-gara itu, keluarlah kalimat judul di atas dari trainer-ku ke salah seorang dari mereka.
Kalimat itu nampak muncul begitu aja, mengalir keluar dari mulut sang trainer. Sementara sang trainer melihat ke arah sang peserta, aku yang berdiri di belakangnya seperti merasa tertusuk jauh sampai ke ulu hati mendengarkan kalimatnya, ”When love comes…” katanya, ”gak ada yang bisa berbuat apa-apa.” Hihi, rasa dinginnya udara malam Sukabumi makin merasuk ke tulangku. Ya, tanpa sadar aku menganggukan kepala, when love comes, sungguh manusia gak bisa berbuat apa-apa. Kayak yang pernah dilakukannya ke aku sendiri yang pernah diketuk cinta yang datang bersama sejumlah laki-laki dengan atribut yang tidak bisa dikategorikan dalam kelompok tertentu.
Ada seorang laki-laki yang datang berusia jauh lebih muda dariku atau juga pernah seorang laki-laki yang jauh lebih tua datang dan bahkan dia sudah menikah. Di kesempatan lain cinta datang bersama seorang keras kepala dengan mimpi-mimpii besarnya. Cinta juga pernah datang menggandeng laki-laki dengan masa lalu abu-abu yang membangun kembali masa depannya. Sebelumnya juga pernah ia datang bersama teman sekelas yang bahkan tidak tahu dirinya berhasil mengetuk pintu cintaku, bersama kakak kelas yang baik hati dengan jiwa petualang yang tinggi atau juga kelompok laki-laki lain yang pernah (disadari maupun tidak) datang ke pintuku diantarkan cinta.
Wah, sejak kapan aku jadi begini romantis bicara tentang cinta ya? Kelompok laki-laki di atas gak semuanya jadi pacarku lho, in case kalian bertanya-tanya, tapi semuanya pernah mencuri mimpiku selama beberapa malam. Sebagian bertahan beberapa tahun, yang lain cuman mampu beberapa bulan bahkan ada juga yang cuman hitungan hari dan minggu. Buatku, semuanya indah, karena when love comes betul gak ada manusia yang bisa berbuat apa-apa. Sayang norma sosial kadang membuatku gak bisa mengekspresikan cintaku dengan baik tapi mengingatnya saja membuatku makin percaya bahwa Tuhan punya persediaan cinta yang besar buatku, buatmu, buat kita semua.
Itu mungkin yang membuatku nampak kuat. Membuatku memiliki persediaan cinta yang cukup buat kuberikan ke orang-orang yang kucintai. Melihat kelompok orang yang begitu haus akan cinta, sungguh aku bersyukur memiliki persediaan cinta yang besar buat kubagi. Untung aku bukan jenis orang penolak cinta, karna when love comes, memang gak ada yang bisa kulakukan selain merengkuh dalam pelukannya. Karena when love comes, target, norma, rencana, prasangka, luluh seperti es di pelukan sinar matahari. (Kenapa aku jadi romantis gini ya?) Makanya malam itu rasa dingin masuk sampai menembus perutku mendengar ada orang yang memasang target-target dalam hidupnya sampai menghalangi cinta menghiasi hidupnya. Oh, semoga saja Tuhan memberinya sayap lain untuk terbang karena menurutnya Ia melakukan itu demi Tuhannya. Semoga…
Pancawati, Sukabumi, 7 Oktober 2005
When love comes, what would you do? Btw, do you believe in love? I do.

Tinggalkan sebuah Komentar