How much would you invest?
How much return would you like to get?
Sejak lulus S2 dan kemudian sibuk jadi tentara bayaran dengan bayaran yang gak jelas tiap bulannya, jelas otakku berputar semakin keras untuk memastikan masa depanku aman secara finansial. Didukung my private “A” yang punya kemampuan manajemen keuangan jauh di atas rata-rata, kami berdua sepakat untuk mencari bentuk investasi paling tepat buat kondisi keuangan kami. Setiap peluang investasi kami analisis, berapa modal pertamanya, berapa return-nya, berapa lama harus invest-nya, gimana keamanannya, bisa gak jadi jaminan masa depan kami. Terus-terusan kami lakukan proses itu, sampai sekarang.
Lucunya beberapa hari yang lalu saat aku (lagi-lagi) jadi tentara bayaran di salah satu training di Kecamatan Pancawati, Sukabumi, lagi-lagi pertanyaan tentang investasi kembali diulang. Pertanyaannya sama, berapa investasi yang mau ditanam dan berapa return yang mau didapat. Tapi hebatnya, kali ini bukan uang yang jadi konteks. Tebak investasi apa kali ini yang mau dibicarakan! Tanah? Bukan. Property? Juga bukan. Ini clue-nya, yang ini jenis investasi dengan tingkat resiko terendah dan jaminan rasa aman yang paling tinggi. Hayo apa? Emas? Masih salah, emas sekarang makin mahal. Reksa dana? Kalau itu gak perlu sampai Sukabumi.
Mau tahu apa yang diomongin gak di pucuk hutan pinus itu? Kami lagi bicara tentang investasi dalam hubungan antara manusia. Iya, ternyata hubungan antar manusia juga menganut prinsip yang sama, seberapa banyak kita berinvestasi, segitu juga return yang bakal kita dapat. Di tengah derai air mata 17 orang laki-laki hebat ditambah beberapa orang perempuan luar biasa, aku tiba-tiba merasa ditampar. Bagaimana mungkin aku segitu keras menganalisis kondisi keuangan dan kesempatan investasiku di bidang finansial tapi lupa bahwa aku juga harus investasi dalam konteks hubungan antar manusia? Ihiks, aku merasa memukul air ke muka sendiri…
Sering kali aku lupa bahwa investasiku dalam hubungan antar manusia begitu sedikit tapi berharap buat mendapatkan return yang besar. Gak mau senyum pada orang-orang yang menurutku mengesalkan tapi tetep aja marah-marah kalau mereka bertingkah semakin menyebalkan. Ya jelas lah, return-nya 0% karna investasinya pun relatif kecil. Gak mau mulai pembicaraan dengan orang baru sementara berharap dia memulai pembicaraan lebih dulu. Gak mau membuka diri lebih dulu pada lingkungan tapi berharap lingkungan bisa memahami pikiran dan mimpi-mimpiku. Gak mau jujur sama diri sendiri dan lingkungan tapi berharap lingkungan bisa jujur pada diriku sendiri. Gimana mungkin?
Bukankah itu seperti berharap mendapatkan bunga deposito yang tinggi tapi gak bersedia menaruh sejumlah uang di bank untuk didepositokan? Sama juga seperti berharap mendapatkan return reksa dana jutaan rupiah tapi hanya bersedia menyisihkan ratusan ribu rupiah sebagai investasi? Hitungan di atas kertas tentunya itu gak mungkin dan supaya bisa disebut orang pintar, aku juga tidak akan berharap atas hal-hal gak mungkin di atas kan? Lucunya, dalam hubungan antar manusia sering kali aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Berharap return yang besar tanpa mau berinvestasi lebih dulu. Ihiks, ya Allah, sungguh kerdil makhluk-Mu ini.
Aku masih ingat kata-kata yang selalu diulang-ulang oleh senior trainer-ku di Sukabumi minggu lalu;
”Anda akan mendapatkan return sebesar investasi Anda!”
”Anda investasi apa pada teman Anda?”
Sekali lagi aku tertampar, aku bertanya, iya ya, investasi apa yang sudah kutanam pada hubungan antar manusia? Investasi apa yang kutanam pada teman-temanku? Tanpa maksud menjadi individu yang itung-itungan, aku coba mengingat-ingat, walah, tiba-tiba aku merasa menjadi orang bodoh, yang berharap return besar dari investasi yang tak seberapa. Ampun teman-teman, maafkan temanmu yang bodoh ini. Itu tentunya yang bikin kalian lupa ulang tahunku, lupa menelponku saat datang di kota tempat tinggalku, lupa mengajakku saat ada kumpul-kumpul, tidak membalas sms-sms-ku, tidak menengokku saat sakit, juga tidak melakukan hal-hal lain yang kuharapkan.
Ya, I got your message my dearest friend, I didn’t invest enough on our relation. But please do remind me to do more in the future ‘cause I do expect lots of return. Hehehe.
How much return would you like to get?
Sejak lulus S2 dan kemudian sibuk jadi tentara bayaran dengan bayaran yang gak jelas tiap bulannya, jelas otakku berputar semakin keras untuk memastikan masa depanku aman secara finansial. Didukung my private “A” yang punya kemampuan manajemen keuangan jauh di atas rata-rata, kami berdua sepakat untuk mencari bentuk investasi paling tepat buat kondisi keuangan kami. Setiap peluang investasi kami analisis, berapa modal pertamanya, berapa return-nya, berapa lama harus invest-nya, gimana keamanannya, bisa gak jadi jaminan masa depan kami. Terus-terusan kami lakukan proses itu, sampai sekarang.
Lucunya beberapa hari yang lalu saat aku (lagi-lagi) jadi tentara bayaran di salah satu training di Kecamatan Pancawati, Sukabumi, lagi-lagi pertanyaan tentang investasi kembali diulang. Pertanyaannya sama, berapa investasi yang mau ditanam dan berapa return yang mau didapat. Tapi hebatnya, kali ini bukan uang yang jadi konteks. Tebak investasi apa kali ini yang mau dibicarakan! Tanah? Bukan. Property? Juga bukan. Ini clue-nya, yang ini jenis investasi dengan tingkat resiko terendah dan jaminan rasa aman yang paling tinggi. Hayo apa? Emas? Masih salah, emas sekarang makin mahal. Reksa dana? Kalau itu gak perlu sampai Sukabumi.
Mau tahu apa yang diomongin gak di pucuk hutan pinus itu? Kami lagi bicara tentang investasi dalam hubungan antara manusia. Iya, ternyata hubungan antar manusia juga menganut prinsip yang sama, seberapa banyak kita berinvestasi, segitu juga return yang bakal kita dapat. Di tengah derai air mata 17 orang laki-laki hebat ditambah beberapa orang perempuan luar biasa, aku tiba-tiba merasa ditampar. Bagaimana mungkin aku segitu keras menganalisis kondisi keuangan dan kesempatan investasiku di bidang finansial tapi lupa bahwa aku juga harus investasi dalam konteks hubungan antar manusia? Ihiks, aku merasa memukul air ke muka sendiri…
Sering kali aku lupa bahwa investasiku dalam hubungan antar manusia begitu sedikit tapi berharap buat mendapatkan return yang besar. Gak mau senyum pada orang-orang yang menurutku mengesalkan tapi tetep aja marah-marah kalau mereka bertingkah semakin menyebalkan. Ya jelas lah, return-nya 0% karna investasinya pun relatif kecil. Gak mau mulai pembicaraan dengan orang baru sementara berharap dia memulai pembicaraan lebih dulu. Gak mau membuka diri lebih dulu pada lingkungan tapi berharap lingkungan bisa memahami pikiran dan mimpi-mimpiku. Gak mau jujur sama diri sendiri dan lingkungan tapi berharap lingkungan bisa jujur pada diriku sendiri. Gimana mungkin?
Bukankah itu seperti berharap mendapatkan bunga deposito yang tinggi tapi gak bersedia menaruh sejumlah uang di bank untuk didepositokan? Sama juga seperti berharap mendapatkan return reksa dana jutaan rupiah tapi hanya bersedia menyisihkan ratusan ribu rupiah sebagai investasi? Hitungan di atas kertas tentunya itu gak mungkin dan supaya bisa disebut orang pintar, aku juga tidak akan berharap atas hal-hal gak mungkin di atas kan? Lucunya, dalam hubungan antar manusia sering kali aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Berharap return yang besar tanpa mau berinvestasi lebih dulu. Ihiks, ya Allah, sungguh kerdil makhluk-Mu ini.
Aku masih ingat kata-kata yang selalu diulang-ulang oleh senior trainer-ku di Sukabumi minggu lalu;
”Anda akan mendapatkan return sebesar investasi Anda!”
”Anda investasi apa pada teman Anda?”
Sekali lagi aku tertampar, aku bertanya, iya ya, investasi apa yang sudah kutanam pada hubungan antar manusia? Investasi apa yang kutanam pada teman-temanku? Tanpa maksud menjadi individu yang itung-itungan, aku coba mengingat-ingat, walah, tiba-tiba aku merasa menjadi orang bodoh, yang berharap return besar dari investasi yang tak seberapa. Ampun teman-teman, maafkan temanmu yang bodoh ini. Itu tentunya yang bikin kalian lupa ulang tahunku, lupa menelponku saat datang di kota tempat tinggalku, lupa mengajakku saat ada kumpul-kumpul, tidak membalas sms-sms-ku, tidak menengokku saat sakit, juga tidak melakukan hal-hal lain yang kuharapkan.
Ya, I got your message my dearest friend, I didn’t invest enough on our relation. But please do remind me to do more in the future ‘cause I do expect lots of return. Hehehe.
Pancawati, Sukabumi, 9 Oktober 2005.
With my deepest respect for Bu Rhieny & Pak Julius Hasan.
And also big & warm hug for 17 strong men I met & 3 wonderful young lady.




