Annapurna
(from a book with the same title, written by Arlene Blum)
Waktu akhirnya aku beli buku tentang pendakian Annapurna itu, Yulie, one of my best friend komentar, entah ada apa between you and the mountain. Hehehe, aku juga bingung ada apa. Tapi rasanya setiap lihat buku tentang gunung, tentang sungai, tentang Tibet, tentang alam, aku pengen banget beli. Walaupun gak langsung kubaca, karna masih harus nyelesin buku yang lain, tapi akhirnya sekali buku itu dimulai, langsung habis sampai saatnya penurunan gunung. Setiap cerita tentang gunung selalu membuat aku tercengang, gak tau kenapa. Mungkin karena kekuatan yang tersimpan di baliknya, atau keindahan di antara bukit-bukitnya, mungkin bayangan tentang orang-orang yang mendakinya atau mungkin juga perjuangan untuk mendakinya.
Gak tau apa sebabnya, yang jelas ketertarikanku sama gunung bukan dimulai baru belakangan ini saja. Waktu SMA, aku sangat pengen ikut pecinta alam sekolahku (namanya Lopala, aku bahkan masih ingat kan?), tapi karna mamah ku gak ngijinin, akhirnya aku “cuman” ikut kegiatan theater. Waktu kuliah, akhirnya, aku beranikan diri buat ikut kelompok pecinta alam. Itu pun cuman mendaki 2 gunung, Gunung Lawu dan Gunung Sindoro, yang berakhir cukup tragis, karena aku jatuh di gunung yang kedua sampai akhirnya harus membatasi gerakan kakiku. Omong-omong pengaruh jatuhku di Gunung Sindoro 10 tahun yang lalu itu, masih terasa sampai sekarang lho, terutama kalao hawa dingin atau aku kecapekan.
Anyway, balik lagi tentang Annapurna dan setiap gunung yang bisa didaki. Buatku, gunung-gunung itu menyimpan misteri yang hanya bisa dirasakan kalau kita mendakinya. Dulu sempet aku pengen naik gunung just to prove myself bahwa aku bisa dan aku bukan anak rumahan. Hehehe, untungnya waktu itu, waktu SMA aku gak boleh, jadi akhirnya aku gak naik dan mungkin terhindar dari kesalahan besar yaitu mendaki gunung untuk “menaklukkannya”.
Salah seorang teman baikku, juga hobi naik gunung, tapi dia lebih suka mendaki sendirian. Bukan kayak aku, yang pilih ditemani, dihibur bahkan kalo perlu digandeng. Menurutnya, naik gunung adalah olahraga sekaligus melatih pengalaman spiritual yang mungkin kurang terasah kalo di ketinggian yang sama sama permukaan laut. Aku setuju sama yang terakhir, buatku naik gunung adalah pengalaman spiritual yang gak bisa digambarin dengan kata-kata. Ya, cuman mereka yang mendaki yang bisa mengerti apa maksudnya. Aku sangat bersyukur aku pernah naik gunung, even cuman 2. hehehe.
Soal Annapurna, gunung yang dibilang sangat tidak tertebak itu, sekelompok pendaki perempuan yang waktu itu masih dipandang sebelah mata (atau sampai sekarang juga masih begitu ya kondisinya?), memutuskan untuk mendakinya. Sebagian sungguh-sungguh menginjak puncak tertingginya, sementara secara tim, tim berhasil mencapi puncaknya, walaupun ada 2 orang yang tertinggal di atas dan seolah-olah ”menyerahkan” hidupnya pada kehidupan gunung favoritnya. As perempuan aku bisa bayangin betapa tekanan dunia luar sangat mempengaruhi emosi tim Annapurna itu.
Arlene, sang ketua tim belajar banyak dari pendkaiannya, salah satunya adalah bagaimana cara memimpin tim. Bahwa kadang dalam kondisi yang sangat kritis, memang demokratis bukan lagi cara yang paling tepat. Otoriter, stau-staunya pilihan, atau nyawa taruhannya. Pyro, yang sudah begitu dekat sama puncak, karena terserang ”gigitan salju”, terpaksa melupakan mimpinya dan turun segera untuk merawat jari-jarinya. Joan, yang sangat kuat, diprediksi bakal sampai ke puncak, tumbang di base camp, karena pneumonia. Hehehe, what a life ya? Betapa hidup sungguh gak bisa diprediksi sampai-sampai kita harus selalu siap akan “bahaya” apa pun yang bakal kita hadapin.
Aku, manusia biasa, kadang lupa bahwa di sini, di depok yang ketinggiannya bahkan gak mencapai 5000 dari permukaan laut, juga punya bahaya-nya sendiri. Karena merasa bukan termasuk daerah bahaya, sering kali aku lupa “berhati-hati” dan akhirnya terjatuh pada jurang yang dalam pada ketinggian yang jauh di bawah 5000m di atas permukaan laut. Mana yang lebih memalukan? Jatuh di jurang yang sungguh-sungguh tinggi, yang memang menuntut ketrampilan fisik yang tinggi atau jatuh di “jurang” yang tidak tinggi dan bahkan tidak menuntut ketrampilan fisik apa pun? Aku lebih malu jatuh yang ke-2, hehehe, tapi nyatanya aku masih juga sering jatuh yang ke-2, ihik…
Sekarang aku ngerti kenapa gunung selalu menarik buatku, karena di sana ada miniatur hidup yang sesungguhnya. Tempat aku bisa mengapresiasi diri, lingkungan, teman, kebesaran-Nya. Tempat aku berlatih untuk waspada dan tetap menikmati pada saat yang bersamaan. Tempat aku menerapkan ilmu dan belajar juga di saat yang sama. Tempat aku belajar mendengar diriku sendiri sekaligus menantangnya untuk melebihi kemampuannya sekarang. Tempat aku mengenal teman-temanku yang sesungguhnya sekaligus mengenal diriku sendiri. Tempat aku mengucap nama-Nya tak henti-henti sambil tetap ngobrol dengan teman seperjalanan.
Gunung, buatku seperti pengingat akan bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan. Kalau begitu, bukannya seharusnya setiap orang paling gak 1 kali dalam hidupnya mendaki gunung? Hehehe, yang ini berlebihan ya? Anyway, aku senang aku pernah mendaki gunung…
Satu lagi, mungkin juga gunung menarik karena memorinya (ihik) yang indah.
Hehehe, buat Jambul, my first companion mendaki gunung.
Buat Beye, teman seperjalanan mendaki gunung kedua.
Juga buat Palapsi, yang menginspirasiku untuk mendaki gunung “kehidupan”.
Fa Laksmi – Depok, 15 Agustus 2005
Dalam rangka perdamaian Aceh-Indonesia.
Dalam rangka perdamaian orang tuaku dan him.
Dalam rangka perdamaian “kualifikasi”-ku dan “cinta”.
Dalam rangka perdamaian impian masa muda dan kenyataan yang sesungguhnya.
Hidup perdamaian!!