Arsip untuk Juni, 2005

Man’s Ethics

Is There A Thing Called “Man’s Ethic”?
(Really hope there is –in a good way-)

Aku selalu memulai tulisanku dengan pertanyaan. Kali ini pasti pertanyaannya cukup kontroversial, khususnya bagi beberapa orang yang sering membicarakan topik ini denganku belakangan. Sejak kecil, aku sering mendengar istilah yang disebut sebagai ”kode etik laki-laki”, entah apa itu arti sebenarnya. Kalau malem-malem adek cowokku buka botol minuman punya mamah terus ngabisin isinya bareng temen-temennya, papahku yang ngeliat gak akan cerita hal itu ke mamah atau anak-anak perempuannya. Walaupun akhirnya ketahuan juga sama mamah, yang mengkoleksi botol-botol itu, tapi jelas ketauannya bukan karena papah ngelapor. He..he.. Kalo udah kayak gitu, kata mamah, papah dan Ino (adikku) sedang berbagai pengalaman dengan kekuatan kode etik laki-laki.
Waktu salah seorang kenalan orang tuaku ketemu dengan kenalan lainny yang sedang menggandeng perempuan lain (bukan istrinya tentunya) dan kemudian menceritakannya ke mamahku. Kata mamah, dasar laki-laki, kode etiknya kuat banget. Yang artinya sang kenalan yang pertama kusebut tidak bersedia kasih tahu istri kenalan satunya (yang menggandeng perempuan lain itu…) tentang adanya kemungkinan suaminya selingkuh. Alasannya, itu bukan urusan kita. Hmpf? Waktu itu aku langsung gak setuju, tapi siapa aku, status keponakan, seumur hidup tetap anak-anak, yang pasti akan tetap tidak tahu apa-apa di mata orang yang lebih tua. Tapi FYI, aku sungguh gak setuju sama alasan ”bukan urusan kita”.
Waktu dulu aku sempat dekat dengan seorang laki-laki yang kurang ”sesuai”, teman laki-lakiku semua menghindariku dan memilih gak bicara apa pun tentang DIA. Waktu akhirnya aku dan DIA berpisah jalan, baru terus semua orang bilang bahwa itu memang keputusan yang paling baik buat kami berdua. Yang alasannya , karena DIA begini-lah, DIA begitu-lah, DIA anu-lah, aku yang anu-lah, aku yang gak seimbang-lah. Waktu kutanya, ke mana aja kalian selama kemarin aku dekat sama DIA? Mereka jawab, ya waktu itu kupikir itu urusan kalian, gak berani lah aku buat ngomong gimana-gimana. What?-kataku waktu itu. Jadi temen-temenku bahkan memilih diam di saat kritis, saat aku membutuhkan pendapat mereka tentang seorang pendamping. Aku yakin kalo mamahku denger cerita ini, dia pasti akan dengan segera bilang ”Ya itu yang dulu mamah bilang bahwa laki-laki tu punya kode etik sendiri yang gak bisa ditembus sama perempuan”. Hmpf. Aku makin gak setuju.
Belakangan aku ngobrol sama seorang sahabat tentang topik ini dan menurut dia, itu gak serumit itu kok, laki-laki cuman gak mau mikir rumit. Hah? Aku jadi makin merasa gak tahu apa-apa tentang dunia laki-laki, kalo begitu. Tapi setelah kupikir-pikir mungkin memang ada yang disebut sebagai kode etik laki-laki sama seperti perempuan juga punya kode etik antar perempuan. Apa salahnya punya kode etik? Bahkan keilmuan aja harus ada landasan kode etiknya. Kenapa juga kali ini aku justru mempertanyakan keberadaan kode etik laki-laki? Bukannya seharusnya itu semacam ”sunnah” yang kalo ada baik, kalo gak ada juga gak pa-pa? Dan kali ini terbukti banyak laki-laki di sekitarku punya kode etik yang tinggi, what’s up gitu loh? (baca – so what gitu lho?).
Mungkin aku bertanya karena rasanya ada yang gak bener sama hal-hal di atas. Mungkin aku bertanya karena menurutku, kode etik harusnya berdasarkan sama nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kebenaran yang sifatnya universal, bukan Cuma demi kepentingan sebagian pihak. Kalo kamu perempuan, punya temen perempuan yang selingkuh, apa yang bakal kamu lakuin? Pasti ngajak ngobrol dia buat bilang bahwa itu hal yang salah kan? Sekarang, kalo kamu laki-laki, punya temen laki-laki yang ketauan selingkuh, pertanyaannya sama, apakah kamu akan ngajak ngobrol dia, ngingetin dia? Kupikir sebagian besar laki-laki akan milih diam dengan alasan, itu (lagi-lagi, sayangnya, ihik…) bukan urusan kita. Tadi katanya kode etik harus berdasarkan nilai-nilai kebaikan universal? Kok malah bersikap ”sendiri-sendiri” gitu ya? Aku sedih, kalo seperti ini aktualisasi-nya ”kode etik laki-laki”, karena kan seharusnya gak kayak gitu?
Gak tahu deh, kadang kupikir aku yang terlalu memper-rumit segala sesuatu. Jangan-jangan ini emang cuma masalah sederhana yang membedakan orang yang ”mind their own business” sama orang yang sukanya ikut campur urusan orang lain (kayak aku, he..he..). Tapi aku, tetap bertahan (bukti lain kalo aku seriously keras kepala), bahwa kode etik seharusnya dipakai demi kebaikan, bukan untuk menutupi laki-laki lain yang selingkuh, atau menutupi fakta dari teman yang sedang mengumpulkan info tentang calon suaminya. Itu kalo aku. Kalo kamu?

Fa-Laksmi-22 Juni 2005 (pas ulang taun Jakarta – ke Jakarta Fair yuk?)
Buat semua teman yang memilih diam ketika melihat orang lain selingkuh, please speak up… it’s someone’s life… it’s the children’s life… and it could be yours also, one day… please at least do something… take a risk… it’s a worth risk…

Komentar (2)

That Warm Feeling

Kind of Friends You Don’t Wanna Give Up
(Persembahan buat semua TEMAN!!)


Hari ini, tepatnya malam ini saat aku mengetik every single character ini, aku merasa jadi orang paling bahagia di dunia. Sore tadi aku ngabisin waktuku nonton film Indonesia yang belakangan makin banyak (ucapan syukur 1 di tulisan ini). Salah satu film yang kutonton garapan Rudy Sujarwo, bahkan sekarang aku lupa judulnya, tapi yang pasti ada si ganteng Fauzi Baadila yang di situ mainnya (menurutku) cute abis. Salah seorang pemainnya, yang –katanya- bernama Rudy (aku agak bertanya-tanya, ada kemungkinan ni sutradara maksain namanya buat dipakai di filmnya, he..he..) ngucapin kata-kata yang cukup INDAH, begini katanya, “Kalau yang kamu punya Cuma hari ini dan besok belum mesti ada, gimana?” Gimana coba?
Dan kemudian somehow, sebagai orang sanguin, keluarlah reaksi spontanku dengan meng-sms 3 of my best friend, satu di Tangerang, satu di Yogya dan satu di Semarang, to tell them how much they mean to me. Dan rasanya itu belum cukup, kukirim juga sms ke 27 orang teman lama yang udah lamaaaa banget gak pernah ketemu cuman buat bilang hai dan tanya in case ada yang bisa kulakukan buat hidup mereka. Setelah kukirim, sempet terlintas di kepalaku, apa yang kuharapin ya dari sms itu, respon apa yang kuharapin muncul dari mereka, gimana kalo mereka merasa terganggu, gimana kalo mereka baca sms yang dikirim jam 10 malam itu sambil ngernyitin dahi dan berpikir, “What the hell is she thinking?”
Belum lama sibuk sama pikiranku, beberapa teman membalas sms-ku dengan segala rupa respon yang lucu-lucu, membuatku tersenyum, sebagian membuatku ketawa. Tapi efek general yang muncul di aku adalah rasa hangat di dalam sana yang gak bisa kugambarin, kudeskripsiin atau kushare dengan orang lain. Kali ini, aku punya sesuatu yang 100% milikku sendiri, gak perlu kubagi sama orang lain. Rasa hangat itu, senyum itu, aku yakin adalah rasa nyaman yang sangat nyandu buat semua orang, atau to make it specific, at least buatku. Kemungkinan bahwa sebagian dari mereka merasa bahwa sms-ku aneh jadi gak punya dampak negatif terhadap perasaan hangat “itu”. Resiko yang sangat bisa kutanggung…
Setiap teman punya arti sendiri buatku. Setiap teman punya petak sendiri di dalam sana yang gak bisa diganti sama orang lainnya. Setiap teman punya rasa hangat yang unik. Setiap teman meninggalkan jejak di hidupku. Setiap teman punya kisahnya sendiri yang hanya dimiliki aku dan dia. Setiap teman adalah aset buatku. Aku sempet kepikir sama teman-teman lama yang sekarang entah ada di mana, yang mungkin masih mengingatku sebagai sosok yang dulu mereka kenal, apakah aku berarti buat mereka? Apakah aku meninggalkan jejak di hidup mereka? Apakah ucapan ”hai”-ku menimbulkan rasa hangat di hati mereka?
Dhani, seorang teman dari SMP (kind of friend you really dont wanna give up), punya kisah sendiri buatku. Teman yang tulus, gak berubah biar udah tahunan kita gak pernah ketemu. Waktu aku di Yogya, dia keukeuh di Semarang. Aku pindah Jakarta, dia malah ke Yogya. Tapi sms dari dia selalu menimbulkan hangat di hati. Dari dia aku belajar tentang kesungguhan, tentang ketulusan, tentang being a friend. Dari dia aku belajar gimana cara “mencinta” seorang teman.
Chandra, seorang teman dari SMA (juga termasuk kategori kind of friend you don’t wanna give up), berbagi satu masa dalam hidupku. Diawali di organisasi theater sekolah, sampai akhirnya pertemuan terakhir kami di Plaza Semanggi, Jakarta. Chandra, yang lebih terkenal dengan nama Bona (guess why), mengajariku (again) tentang kerendahan hati, tentang kesungguhan, tentang betapa label sangat bisa mengganggu esensi manusia yang sesungguhnya.
Psst, terus terang, nama-nama yang kusebut di sini, semua masuk kategori kind of friend you don’t wanna give up. Dan urutan penulisan sama sekali gak mencerminkan level mereka buatku. Kulanjutin ya?
Danang, kali ini Danang dari Semarang, seorang teman dari SMA yang sama dengan Chandra. Berbagi masa yang cukup panjang denganku, mulai dari SMP –operet Cinderella, perkelahian memperebutkan perempuan kelas sebelah, marching band- sampai SMA –pecinta alam, kampanye DKKL, kisah cinta dengan teman SD-. Semuanya punya sensasi hangat di dalam sana. Dari Danang aku belajar tentang bagaimana menerima perubahan, bagaiman buat tetap sama dan berubah pada saat yang bersamaan. Fiuh… pelajaran yang berat…
Mas Tonny, seorang teman dari masa kuliah yang indah, seorang ”A” buatku. Berbagi ups and downs in life. Mulai dari nyari uang 225 ribu setiap 6 bulan buat bayar SPP sampai pinjem printer di Lingua, yang bisanya diambil di atas jam 9 malem, supaya bisa ngeprint skripsi yang udah tertunda 4 tahun. Kebetulan-kebetulan yang sampai sekarang masih belum bisa diterangkan why-nya. Dari dia, aku belajar tentang kepasrahan, tentang pentingnya kesempatan ke-2 bagi semua orang yang pernah melakukan kesalahan, tentang cinta… Tentang segala wajah cinta di dunia, yang romantis, yang riil, yang berupa air mata, yang terbuat dari susu ultra, ayam jago, lotek 1500-an, segala versinya cinta…
Mas Arif? Seorang ”kenalan” di Yogya yang baru menjadi teman setelah kita berdua pindah ke Jakarta. Bertemu di satu tempat asing, membuat kami berdua jadi merasa dekat dan aman buat pergi bersama.
Dewo? Bermula dari panitia lomba adu argumen yang ku-ikuti, kakak kelas adik-adikku sampai sekarang pemasok rutin martabak buat geng Kelud Utara 12. Seorang teman yang tentunya dari dia aku belajar tentang menyayangi dengan cara yang unik, tentang ketulusan, tentang pengharapan, tentang masih adanya seorang lelaki di dunia kita ini yang lugu dan baik hatinya…
Mas Soni? Agung-statistik? Yogi teman KKN? Tunggul teman telpon berjam-jam? Yohanes teman ”siaga”? Risa Tar-Q si konde sejati? Nina Erlangga, Lucky suaminya dan bayi kecil yang belum pernah kukenal? Misty akademik bawel yang baeknya setengah mati? Mbak Ayik dengan kamarnya yang mungil tempatku menginap saat yang lain sudah tertutup? Kapri Lingua yang lugu dan suaranya yang ”indah”? Lidwin, si keriting kecil, yang energinya gak bisa dilupakan, si Palembang yang pindah ke Jakarta?
Dicky, seorang teman dari SD, yang sekarang entah ada di mana, muncul tiba-tiba setelah beberapa lama menghilang. Kalau diterusin, jelas nama-nama itu akan makin panjang, tapi sungguh aku sangat pengen mengucapkan nama-nama mereka semua. Semua orang, teman yang mengajariku berenang, teman yang mengajariku membaca, teman yang menggandeng tanganku saat menyeberang, teman yang membantuku ”melarikan diri” dari para ”pengapel” yang tidak diinginkan. Teman makan coklat, es krim atau pempek di samping supermarket Ramai di Yogya. Teman main piano, teman main gitar, teman yang pernah mengusap air mataku, teman yang mengelus rambutku, teman yang melucu untukku.
SEMUA TEMAN. EVEN yang tidak tersebut di sini. Teman-teman penghangat hati, yang even ketika jauh, ingatan tentang mereka membuatku tetap bisa tersenyum. Teman-teman seperti itu jelas adalah kind of friends you dont wanna give up. Tepatnya KIND OF FRIENDS YOU SHOULDN’T GIVE UP. LOVE YOU ALL, my friends. (buat yang punya istri, please jagain istrinya, jangan sampai menelponku dan marah-marah hanya karna bilang “I Love you” ya? Ihik… udah pernah, gak pengen lagi…)

Fa-Laksmi
Marsini, 14 Juni 2005-23.30 WIB

Untuk semua “teman” yang pernah mampir di duniaku…
Karena hidup terlalu pendek to be spent alone…

Komentar (2)

Can People Really Change?

Can People “Really” Change?


Aku tidak pernah berpikir tentang perasaan seorang narapidana saat kembali ke lingkungannya setelah keluar drai penjara sampai hari Senin lalu saat aku bicara dengan salah seorang teman baikku. Buatku, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya dan tetap berhak atas kesempatan lain untuk memperbaiki nama baiknya. Buatku, ketika berhadapan langsung dengan seorang yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu, aku langsung berkaca pada prinsipku sendiri, pengalamanku sendiri, kesalahanku sendiri dan harapanku sendiri supaya orang bisa segera melupakan kesalahan-kesalahan fatal yang pernah kulakukan di masa lalu. (Baca lagi kalimat terakhir, kutulis: kesalahan-kesalahan, yang artinya aku sangat yakin aku sudha melakukan lebih dari satu kesalahan di masa laluku yang sangat fatal).
Jadi dalam bayanganku, menerima seorang narapidana kembali dalam lingkungan dengan niatan besar untuk mengubah perilakunya, sama seperti menerima kembali diriku sendiri setelah melakukan kesalahan. Dan buatku, sepertinya itu makanan sehari-hari orang yang belajar psikologi. Bukankah kita diajarkan tentang bagaimana orang bisa berkembang? Bukankah kita diajarkan tentang bagaimana perilaku bisa dengan mudah berganti? Tapi… sayangnya aku baru ingat kalau kita juga diajari tentang bagian terbawah gunung es yang cenderung tidak mengalami perubahan besar dalam hidup individu. Apakah ini kemudian yang menjadi titik tolak perspektif orang tentang kecilnya kemungkinan orang untuk berubah? Fiuh, sayang sekali kalau begitu ya?
Judul tulisan di atas sungguh mengganggu perjalananku malam itu dari Thamrin ke sekitar Bintaro. Untungnya jalanan macet saat itu, jadi aku punya waktu yang cukup lama untuk berdiskusi dengan diriku sendiri tentang topik itu. Somehow selama perjalanan aku tetap bertahan pada pendapat bahwa “PEOPLE DO CHANGE”. Walaupun masih menyimpan sedikit pertanyaan tentang tingkat kebenaran keyakinanku itu, tapi sampai saat ini, saat aku menulis ini, aku masih sangat percaya bahwa orang pada dasarnya berubaha. Orang yang tidak berubah tentunya sudah mati karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang terus berubah. Jadi semua orang yang bertahan sampai saat ini, tentunya orang-orang adaptif yang memang berubah. Nampaknya sampai titik ini keyakinanku mendapatkan penguatan.
Tapi lalu pertanyaanku kembali sama. Ditambah sedikit ”appendix” mengapa orang sulit sekali percaya bahwa orang lain (selain dirinya, tidak hanya dirinya) juga bisa berubah? Mengapa atribut tidak bisa dilepaskan begitu saja dari orang? Even ketika dia bekerja keras untuk menghilangkan atribut masa lalunya. Mengapa Anton Medan begitu sulit diterima sebagai da’i setelah keluar dari penjara? Mengapa banyak SMU di Jakarta tidak menerima siswa yang punya sejarah dengan narkoba? Mengapa orang-orang ”gila” pada ”Veronica Decides To Die” akhirnya memutuskan untuk tinggal di dalam rumah sakit daripada kembali ke keluarganya? Kenapa ya? Kenapa ya sulit sekali bagi orang untuk menerima bahwa orang lain bisa berubah? (Seharusnya pertanyaannya adalah, kenapa ya aku terlalu banyak bertanya?)
Dalam banyak titik dalam hidupku, aku merasa bingung. Semakin banyak aku belajar, semakin bingung aku dengan perilaku kebanyakan manusia. Semakin aku bertanya, semakin banyak pertanyaan yang tidak bisa kujawab –atau dijawab oleh orang-orang sekitarku. Semakin aku berpikir, semakin pusing kepalaku dibuatnya, semakin sedikit jam tidurku dan semakin gemuklah aku. Can people ”REALLY” change? YES. My answer is still yes, walaupun tidak bisa menerangkan dengan segala teori tentang koneksi yang ada dari keyakinanku dengan teori psikologi yang berjejalan di dalam ”sel abu-abu”-ku. Tapi aku yakin jawabannya iya. Kalau tidak, bagaimana mungkin Allah bisa dengan agung mengatur ritme dunia karena segala sesuatunya sudah jelas bahkan sejak kelahiran awal seorang manusia? Apakah Tuhan se-tidak kreatif itu? Yang ini, aku yakin jawabannya TIDAK.
Jadi, PEOPLE DO CHANGE. Silakan percaya, silakan tidak. Terserah Anda. Toh dari pengalamanku, aku melihat banyak orang berubah walaupun banyak juga yang tetap sama. Apakah kelompok orang terakhir kemudian bisa menafikan kelompok orang yang pertama? Itu kan tidak adil? Seorang ahli statistik pasti akan berkata, itu makanya nilai rata-rata tidak bisa menunjukkan cerita apa pun atas satu kelompok populasi, karena generalisasinya diambil terlalu kasar (Thanks to Pak Jahja & Pak Gagan, para suhu statistik-ku). Jadi walaupun masih banyak orang yang stay the same, some people change. Untuk menghormati para individu “AGUNG” yang bersedia menaklukkan perubahan bukan “takluk” pada perubahan, aku berkeras untuk percaya pada jawaban “YA” atas judul di atas. Kalau Anda?

Fa-laskmi-7Juni 2005 (untuk siapa pun yang pernah merasakan “kesepian” itu; you’re not alone)

Komentar (1)

Tulisan yang Lebih Tua »