(Really hope there is –in a good way-)
Aku selalu memulai tulisanku dengan pertanyaan. Kali ini pasti pertanyaannya cukup kontroversial, khususnya bagi beberapa orang yang sering membicarakan topik ini denganku belakangan. Sejak kecil, aku sering mendengar istilah yang disebut sebagai ”kode etik laki-laki”, entah apa itu arti sebenarnya. Kalau malem-malem adek cowokku buka botol minuman punya mamah terus ngabisin isinya bareng temen-temennya, papahku yang ngeliat gak akan cerita hal itu ke mamah atau anak-anak perempuannya. Walaupun akhirnya ketahuan juga sama mamah, yang mengkoleksi botol-botol itu, tapi jelas ketauannya bukan karena papah ngelapor. He..he.. Kalo udah kayak gitu, kata mamah, papah dan Ino (adikku) sedang berbagai pengalaman dengan kekuatan kode etik laki-laki.
Waktu salah seorang kenalan orang tuaku ketemu dengan kenalan lainny yang sedang menggandeng perempuan lain (bukan istrinya tentunya) dan kemudian menceritakannya ke mamahku. Kata mamah, dasar laki-laki, kode etiknya kuat banget. Yang artinya sang kenalan yang pertama kusebut tidak bersedia kasih tahu istri kenalan satunya (yang menggandeng perempuan lain itu…) tentang adanya kemungkinan suaminya selingkuh. Alasannya, itu bukan urusan kita. Hmpf? Waktu itu aku langsung gak setuju, tapi siapa aku, status keponakan, seumur hidup tetap anak-anak, yang pasti akan tetap tidak tahu apa-apa di mata orang yang lebih tua. Tapi FYI, aku sungguh gak setuju sama alasan ”bukan urusan kita”.
Waktu dulu aku sempat dekat dengan seorang laki-laki yang kurang ”sesuai”, teman laki-lakiku semua menghindariku dan memilih gak bicara apa pun tentang DIA. Waktu akhirnya aku dan DIA berpisah jalan, baru terus semua orang bilang bahwa itu memang keputusan yang paling baik buat kami berdua. Yang alasannya , karena DIA begini-lah, DIA begitu-lah, DIA anu-lah, aku yang anu-lah, aku yang gak seimbang-lah. Waktu kutanya, ke mana aja kalian selama kemarin aku dekat sama DIA? Mereka jawab, ya waktu itu kupikir itu urusan kalian, gak berani lah aku buat ngomong gimana-gimana. What?-kataku waktu itu. Jadi temen-temenku bahkan memilih diam di saat kritis, saat aku membutuhkan pendapat mereka tentang seorang pendamping. Aku yakin kalo mamahku denger cerita ini, dia pasti akan dengan segera bilang ”Ya itu yang dulu mamah bilang bahwa laki-laki tu punya kode etik sendiri yang gak bisa ditembus sama perempuan”. Hmpf. Aku makin gak setuju.
Belakangan aku ngobrol sama seorang sahabat tentang topik ini dan menurut dia, itu gak serumit itu kok, laki-laki cuman gak mau mikir rumit. Hah? Aku jadi makin merasa gak tahu apa-apa tentang dunia laki-laki, kalo begitu. Tapi setelah kupikir-pikir mungkin memang ada yang disebut sebagai kode etik laki-laki sama seperti perempuan juga punya kode etik antar perempuan. Apa salahnya punya kode etik? Bahkan keilmuan aja harus ada landasan kode etiknya. Kenapa juga kali ini aku justru mempertanyakan keberadaan kode etik laki-laki? Bukannya seharusnya itu semacam ”sunnah” yang kalo ada baik, kalo gak ada juga gak pa-pa? Dan kali ini terbukti banyak laki-laki di sekitarku punya kode etik yang tinggi, what’s up gitu loh? (baca – so what gitu lho?).
Mungkin aku bertanya karena rasanya ada yang gak bener sama hal-hal di atas. Mungkin aku bertanya karena menurutku, kode etik harusnya berdasarkan sama nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kebenaran yang sifatnya universal, bukan Cuma demi kepentingan sebagian pihak. Kalo kamu perempuan, punya temen perempuan yang selingkuh, apa yang bakal kamu lakuin? Pasti ngajak ngobrol dia buat bilang bahwa itu hal yang salah kan? Sekarang, kalo kamu laki-laki, punya temen laki-laki yang ketauan selingkuh, pertanyaannya sama, apakah kamu akan ngajak ngobrol dia, ngingetin dia? Kupikir sebagian besar laki-laki akan milih diam dengan alasan, itu (lagi-lagi, sayangnya, ihik…) bukan urusan kita. Tadi katanya kode etik harus berdasarkan nilai-nilai kebaikan universal? Kok malah bersikap ”sendiri-sendiri” gitu ya? Aku sedih, kalo seperti ini aktualisasi-nya ”kode etik laki-laki”, karena kan seharusnya gak kayak gitu?
Gak tahu deh, kadang kupikir aku yang terlalu memper-rumit segala sesuatu. Jangan-jangan ini emang cuma masalah sederhana yang membedakan orang yang ”mind their own business” sama orang yang sukanya ikut campur urusan orang lain (kayak aku, he..he..). Tapi aku, tetap bertahan (bukti lain kalo aku seriously keras kepala), bahwa kode etik seharusnya dipakai demi kebaikan, bukan untuk menutupi laki-laki lain yang selingkuh, atau menutupi fakta dari teman yang sedang mengumpulkan info tentang calon suaminya. Itu kalo aku. Kalo kamu?
Fa-Laksmi-22 Juni 2005 (pas ulang taun Jakarta – ke Jakarta Fair yuk?)
Buat semua teman yang memilih diam ketika melihat orang lain selingkuh, please speak up… it’s someone’s life… it’s the children’s life… and it could be yours also, one day… please at least do something… take a risk… it’s a worth risk…




