“Jagalah mulutmu karena dia adalah harimau-mu”
(a quiet lesson from a friend who doesn’t even know he’s teaching me this)
Aku yakin semua orang yang usianya di atas 25 tahun atau bahkan semua orang tepatnya pernah mendengar kalimat di atas barang sekali atau dua kali dalam hidupnya. Paling tidak satu kali mendengar belakangan ini dari Aa’ Gym yang sering banget bicara kalimat di atas di acara-acara dakwahnya di televisis. Dan aku juga yakin setiap orang yang mengerti artinya pasti sepakat dengan maknanya.
Tapi pernah gak kebayang kalau kalimat di atas bisa dirubah jadi ”jagalah mulutmu karena dia adalah harimau bagi orang lain”. Aku ngerti maksud mulutmu adalah harimau-mu tapi gak pernah kebayang dalam imajinasiku bahwa mulutku bisa jadi harimau buat orang lain, tapi belakangan ini aku sungguh mengerti arti kalimat itu. Beberapa kejadian belakangan membuatku merasa harus makin berhati-hati sama mulutku sendiri kalau aku tidak mau menerkam orang lain dengan mulutku, lebih kacau lagi kalau aku menerkam temanku sendiri.
Dan begitulah kejadian yang kusaksikan belakangan ini. Sebut saja temanku yang seorang ini, seorang perempuan cantik yang dianugrahi muka jutek. 2 tahun yang lalu dia bahkan tidak tahu bahwa kata-katanya sering menyakiti hati teman-temannya. Walaupun sekarang kami semua bisa tertawa kalau mengingat betapa sakit hatinya kami mendengar kata-katanya, tentunya ada masa saat mulut harimau teman perempuanku yang cantik itu sempat menerkam teman-temannya sendiri. Tapi sekarang temanku yang cantik ini sudah tidak memelihara harimau di mulutnya bahkan dia sangat terbuka atas feedback apa pun demi perkembangan dirinya.
Atau mau ambil contoh yang lebih dekat? Tahun 1994, seingatku dan berdasarkan informasi dari sekelompok teman baikku, aku adalah perempuan tergalak sepanjang masa sekaligus menjengkelkan. Beberapa teman bahkan bilang bahwa pada masa-masa itu aku banyak menerkam teman-temanku sendiri karena kelakuan mulut harimauku yang buas. Berita baiknya (atau buruknya) aku bahkan tidak ingat kata-kata yang waktu itu aku keluarkan. Tapi bagi korban terkaman harimau mulutku tentunya sampai sekarang masih ada juga yang teringat. Ihik, mohon maaf sebesar-besarnya…
Masih ada contoh yang lain lagi. Seorang teman, sebut saja begitu, laki-laki dan sudah bekerja di perusahaan yang cukup besar, punya hobi menerkam teman-temannya dengan mulutnya. Hobi lho, bayangkan? Kacaunya dia sepertinya tidak tahu bahwa mulutnya telah berubah fungsi jadi harimau bagi teman-temannya. Bagi sekelompok teman yang belum pernah diterkam, tentu kata-kataku jadi terasa membesar-besarkan, tapi bagi yang sudah, percayalah, kalian semua pasti setuju sama kata-kataku tentang harimau yang hidup dalam mulutnya ini.
Si harimau ini terakhir menerkam seorang temannya yang keluar dari tempatnya bekerja dengan menyebarkan berita yang salah tentang alasan keluarnya si teman tersebut. Alhasil, tentunya sang teman sempat tidak diterima di salah satu tempatnya melamar karena ada isu negatif tersebut. Bayangkan, rejeki sang teman jadi terhambat karena isu yang dilemparkan si harimau tak bertanggung-jawab tersebut ke khalayak tanpa mengecek lebih dulu kebenarannya. Dan sebagai catatan si empunya mulut harimau adalah teman baik sang teman tersebut.
Si mulut harimau juga pernah menyatakan keberatan untuk datang ke sebuah pernikahan teman di luar kota dengan alasan tidak punya uang tapi kemudian datang ke pernikahan teman lainnya yang jedanya dekat dan berada di luar kota yang sama. Dalam konteks ini si mulut harimau sudah menerkam teman yang pertama karena mengumumkan di depan umum, seolah-olah pernikahan teman pertama tidak penting baginya. Dalam lain kesempatan si mulut harimau juga menerkam teman lainnya yang mungkin memiliki gaji jauh lebih kecil darinya dengan bercerita bahwa hampir setiap weeken dia menghabiskan banyak uang di cafe-cafe tempatnya nongkrong.
Masih banyak korban terkaman harimau yang satu ini, tapi yang jelas harimau ini bisa siapa saja, bisa seorang teman tersebut, bisa-bisa aku sendiri atau bisa juga Anda pembaca sekalian. Harimau ini juga bisa menerkam siapa pun tanpa pandang bulu, temannya, kakaknya, pacar temannya, pacarnya sendiri, keluarganya, adik kelasnya, teman kantornya atau aku, Anda, kita semua. Celakanya harimau ini juga bisa tidak tahu bahwa dirinya sudah menerkam dan membunuh banyak orang dengan mulutnya.
Bagi sang mulut harimau mungkin 1-2 tahun lagi bahkan sudah tidak ingat akan kata-katanya, tapi bagaimana dengan sang korban? Bisa-bisa ingatan tentang peristiwa traumatis diterkam mulut harimau bisa teringat terusa sampai bertahun-tahun, bahkan mungkin sakit hatinya masih bisa dibayangkan sampai sekarang. Apakah salah sebagai manusia kita merasa sakit hati? Apakah salah sebagai manusia kita sulit melupakan kejadian yang menyakitkan? Aku bahkan masih ingat sampai sekarang betapa beberapa orang teman memusuhiku tanpa sebab yang kuketahui di pertengahan tahun 90-an. Walaupun sekarang aku tahu alasannya dan merasa itu bukan salahku, tapi toh beberapa terkaman sudah menghambatku di beberapa jalan. Kalau aku tidak bisa lupa -bukan berarti aku tidak berusaha melupakannya, aku berusaha keras melupakannya- sebagai manusia apakah aku salah?
Lepas dari pengerti to forgive and to forget, lepas dari ajaran Islam yang menyuruhku bersabar, ikhlas, tulus dan memaafkan, lepas dari semua virtue tentang kebaikan yang kuyakini kebenarannya, aku yakin sebagai manusia rasa sakit akibat terkaman harimau sulit dilupakan. Jadi buatku pribadi apa pun alasannya (dan tentunya demi kemudahan hidup setelah hidup yang satu ini), akan lebih mudah bagiku untuk menjaga mulutku sendiri supaya tidak menjadi harimau ketimbang harus memperbaiki luka akibat terkaman mulut harimauku ke orang lain.
Lebih-lebih kalau harimauku menyerang temanku sendiri… Lebih-lebih lagi kalau itu berakibat buruk bagi kelancaran rejeki seorang teman di masa lalu… Masih lebih-lebih lagi kalau aku sebenernya bisa mengklarifikasi berita menggunakan mulutku sebelumnya menyebarkannya dengan harimauku… Dan yang paling penting lebih-lebih kalau aku masih belum yakin atas kebenaran informasi yang mau kusebarkan dengan mulut harimauku… Takutnya mulutku berubah jadi harimau bagi orang lain dan akhirnya juga harimau bagi… diriku sendiri. Masya Allah.
fa-laksmi
Marsini, 18 Mei 2005
Berjuta maaf bagi korban mulut harimauku di masa lalu dan sekarang.
Berjuta maaf juga bagi para empunya mulut harimau yang merasa terganggu oleh tulisan ini.
Berjuta maaf, karena mulutku memang sungguh-sungguh harimauku.
Berjuta maaf, karena semoga dia hanya jadi harimauku tapi bukan harimau bagi kalian.
Berjuta maaf… tambah berjuta lagi… tambah berjuta lagi… tambah berjuta lagi… untuk membayar terkaman mulut harimauku yang pernah, sedang dan akan ada… berjuta maaf kuhaturkan…




