Arsip untuk Februari, 2005

Kenapa Kayu Galam Banyak di Kalimantan?

Kenapa Kayu Galam Banyak di Kalimantan?
(pertanyaan retoris yang gak perlu dijawab)

Pertengahan bulan Februari lagi-lagi aku diberi kesempatan untuk jalan-jalan keliling Indonesia, menambah perbendaharaan kota yang pernah kudatangi, Banjarmasin. Ini kota kedua di Kalimantan yang kudatangi setelah Balikpapan. Excited? Tentunya… Sampai di Banjar sekitar jam 8 pagi WIB yang artinya itu sudah jam 9 di Banjar, wah my biological clock jadi berantakan. Badan rasanya masih lemes dan ngantuk berat tapi di Banjar semua aktivitas sudah harus dimulai.
Di Banjar kebanyakan rumah dibuat berbentuk rumah Banjar, rumah adat daerah Banjar yang dibangun di atas potongan-potongan kayu galam yang ditanam bermeter-meter di bawah tanah gambut. Untuk membangun satu rumah ukuran biasa saja, dibutuhkan ratusan kayu galam yang ditanam di bawahnya. Dan uniknya kayu galam ini semakin kena air semakin kuat. Bayangkan saja, untuk membangun satu kompleks perumahan saja di Banjar dibutuhkan berapa banyak kayu galam kalau begitu?
Untungnya di Banjar, kayu galam ini ada banyak tumbuh liar walaupun gak dirawat. Bahkan konon kayu galam tumbuh terus menerus biar ditebang se-liar apa pun dan gak mati-mati. Hebat ya? Bukankah sebuah konspirasi yang manis? Menumbuhkan kayu galam di sembarang tempat dengan kekuatan hidup yang nyaris gak terpikir oleh manusia, yang tidak lapuk terkena air, di tengah tanah gambut Kalimantan yang fortunately membutuhkan kayu galam dalam jumlah yang tak terhingga. Bukankah manusia sungguh dimanja dengan adanya konspirasi ini?
After some thoughts then, kupikir ternyata ada juga kayu lain selain kayu jati yang punya harga sama mahalnya. Anehnya kayu jati justru lumayan banyak ditemukan di Jawa, walaupun gak bisa dibandingkan dengan jumlahnya di Kalimantan. Kenapa? Karena kayu jati, semakin tua semakin kuat selama tidak kena air. Dan untuk kondisi pulau Jawa yang relatif tanahnya kering dan miskin dari kayu-kayuan, kayu jati memang solusi yang tepat. Satu kali beli orang bisa memakai furniture itu sampai ke anak cucu, kecuali merasa modelnya sudah terlalu opa-oma.
Gimana? Menurutku ini konspirasi yang sangat ”licik” untuk memudahkan hidup manusia (jangan tangkap begitu saja kata-kataku ya?). Dalam kata-kata lain yang sebenarnya berarti sama, sebuah usaha yang sangat agung dalam membantu manusia melestarikan kehidupannya. Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Aku yakin seyakin-yakinnya, tidak ada lagi tangan lain yang mampu menyusun rencana yang se-agung ini kecuali Dia. Dalam kondisi seperti ini menurutku aneh kalau Dia dianggap sebagai Tuhan yang suka marah atas kelalaian manusia. Dia Maha Agung, menyiapkan every detail dari sebuah rencana besar dunia.
You know apa yang paling kusuka dari travelling? Selain belanja souvenir khas daerah tertentu tentunya (ihik…), aku melihat keagungan Dia di setiap sudut yang kulihat. Pernah kebayang apa jadinya kalau sungai Barito salah taruh di Pulau Jawa? He..he… di pulau yang luasnya cuma se-uprit itu ditaruh sungai Barito yang lebarnya bahkan jauh lebih lebar dari sungai Musi di Kalimantan, kebayang gak? Atau misalnya orang-orang di sekitar sungai Barito yang melihat ke mana-mana cuma ada air, tidak diberi pencerahan tentang adanya sungai apung untuk melakukan transaksi. Kenapa juga sungai apung adanya di Kalimantan?
Tenang saja, aku tidak bermaksud mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas untuk dijawab kok. Pertanyaan di atas, bagiku cuma sekedar penguat atas keyakinanku tentang ada sebuah super power yang mengatur jalannya dunia sampai-sampai sungai barito tidak salah tempat. He..he… Jadi lumayan terjawab kan kenapa pohon kayu galam hanya banyak di Kalimantan? For me, ya karena memang daerah itu yang paling banyak membutuhkan. Thanks God (Hope my answer is right).

Cengkareng, 24 Februari 2005
Pulang dari Banjar, nunggu pesawat ke Pont, capek.

Komentar (1)

Sukseskah Kita Semua?

Sukseskah Aku Sekarang?
(Biasanya: Sukseskah Aku Esok?)

Sering kali dalam hidup aku sibuk berpikir akan berakhir gimana nanti hidupku. Aku yakin banyak orang melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Tapi kemudian aku, bukan berarti orang lain juga begitu, jadi lupa sama indahnya hidup saat ini, sekarang bersama orang-orang yang dekat denganku, menikmati apa yang bisa dinikmati saat ini. Hari ini aku belajar banyak dari banyak orang yang bahkan belum pernah kutemui secara langsung. Aku belajar tentang anak-anak dari Kak Seto dan membuatku sangat ingin bekerja bareng beliau. Aku belajar tentang keluarga dan memaknai hidup dari Dik Doank.
Yang terutama aku belajar tentang sungguh-sungguh memaknai hidupku yang sekarang bukan yang lalu atau yang akan datang. Aku ingat dulu waktu aku masih anak-anak selalu kubayangkan betapa enaknya punya pendapatan sendiri dan bebas menentukan apa yang akan aku lakukan. Dan sekarang, sungguh aku ingin sekali kembali jadi anak-anak, yang tugasnya cuma bermain, bersenang-senang dan belajar. Kurang apa hidup kalau Anda boleh melakukan 3 hal di atas tanpa tanggung jawab apapun? Buat aku sih, rasanya pasti sangat menyenangkan.
Kadang-kadang aku dan beberapa teman juga sering bicara tentang masa depan, bagaimana kami akan sangat bahagia jika sudah mencapai tujuan-tujuan tertentu. Beberapa orang merasa akan bahagia kalau gajinya mencapai 7 juta. Sebagian lagi merasa akan bahagia kalau berhasil menurunkan berat badannya 3 kilo saja. Yang lain merasa akan bahagia kalau menemukan perempuan ”berkarakter” yang selama ini jadi dambaannya. Sebelum melihat Kak Seto dan Dik Doank hari ini aku berpikir akan merasa sangat bahagia kalau punya rumah sendiri dan tidak harus berangkat kerja pagi-pagi.
Tapi kupikir memang hidup adalah perjalanan menuju tempat yang sangat kita inginkan. Bayangkan saja kalau Anda ingin pergi ke Paris, sebenarnya aku lebih pilih pergi ke Tibet tapi takut banyak orang mengernyitkan dahinya kupilih saja kota yang katanya paling romantis itu, apakah Anda hanya menikmati saat Anda di sana atau juga menikmati perjalanannya? Saya sih belum pernah pergi ke Paris, tapi setiap pergi ke tempat baru rasanya memang saya tidak hanya menikmati tempatnya tapi juga perjalanannya. Kota-kota yang dilewatinya, pemandangan laut kalau Anda naik pesawat, taxi-nya yang nampak beda dari taxi Jakarta, orang-orangnya yang bicara dengan logat yang berbeda, istirahat sejenak di pesawat sambil baca buku dan tidak ada orang yang bisa mengganggu, hand phone yang mati jadi tidak ada orang yang bisa mengontak kita (dan ini satu-satunya alasan ”legal” kita untuk mematikan hp kan?), suasana pesawat yang tenang karena orang cenderung sibuk dengan dirinya sendiri, rasa takut yang ada tapi terasa jauh di dalam sana kalau-kalau mesin pesawat mati dan pesawatnya jatuh, rasa takjub yang tersimpan rapat atas penemuan pesawat terbang yang membuat kita bisa jalan-jalan ke tempat-tempat jauh dengan cepat. Apa lagi? For some people juga pramugarinya yang cantik-cantik tentunya….
Begitulah setiap orang rasanya menikmati perjalanannya, ketika sampai ke Paris tentunya akan menjadi sangat menyenangkan, tapi belum sampai Paris apakah kemudian jadi menyedihkan?
Beberapa orang, termasuk aku, sibuk bertanya apakah sukses ada di jalanku di masa depan. Padahal ternyata hari ini aku baru sadar bahwa sukses yang terpenting adalah suksesku hari ini. Kemampuan memaknai every little blessing yang kita terima, yang kuterima dalam konteks ini, yang kemudian menurutku menentukan apakah aku sukses atau tidak di hari ini. Jadi, sukseskah Anda hari ini? Sukseskah aku hari ini?

Penghargaan yang tinggi buat Kak Seto & Dik Doank.
Marsini, 7 Februari 2005
fa laksmi

Komentar (1)