(pertanyaan retoris yang gak perlu dijawab)
Pertengahan bulan Februari lagi-lagi aku diberi kesempatan untuk jalan-jalan keliling Indonesia, menambah perbendaharaan kota yang pernah kudatangi, Banjarmasin. Ini kota kedua di Kalimantan yang kudatangi setelah Balikpapan. Excited? Tentunya… Sampai di Banjar sekitar jam 8 pagi WIB yang artinya itu sudah jam 9 di Banjar, wah my biological clock jadi berantakan. Badan rasanya masih lemes dan ngantuk berat tapi di Banjar semua aktivitas sudah harus dimulai.
Di Banjar kebanyakan rumah dibuat berbentuk rumah Banjar, rumah adat daerah Banjar yang dibangun di atas potongan-potongan kayu galam yang ditanam bermeter-meter di bawah tanah gambut. Untuk membangun satu rumah ukuran biasa saja, dibutuhkan ratusan kayu galam yang ditanam di bawahnya. Dan uniknya kayu galam ini semakin kena air semakin kuat. Bayangkan saja, untuk membangun satu kompleks perumahan saja di Banjar dibutuhkan berapa banyak kayu galam kalau begitu?
Untungnya di Banjar, kayu galam ini ada banyak tumbuh liar walaupun gak dirawat. Bahkan konon kayu galam tumbuh terus menerus biar ditebang se-liar apa pun dan gak mati-mati. Hebat ya? Bukankah sebuah konspirasi yang manis? Menumbuhkan kayu galam di sembarang tempat dengan kekuatan hidup yang nyaris gak terpikir oleh manusia, yang tidak lapuk terkena air, di tengah tanah gambut Kalimantan yang fortunately membutuhkan kayu galam dalam jumlah yang tak terhingga. Bukankah manusia sungguh dimanja dengan adanya konspirasi ini?
After some thoughts then, kupikir ternyata ada juga kayu lain selain kayu jati yang punya harga sama mahalnya. Anehnya kayu jati justru lumayan banyak ditemukan di Jawa, walaupun gak bisa dibandingkan dengan jumlahnya di Kalimantan. Kenapa? Karena kayu jati, semakin tua semakin kuat selama tidak kena air. Dan untuk kondisi pulau Jawa yang relatif tanahnya kering dan miskin dari kayu-kayuan, kayu jati memang solusi yang tepat. Satu kali beli orang bisa memakai furniture itu sampai ke anak cucu, kecuali merasa modelnya sudah terlalu opa-oma.
Gimana? Menurutku ini konspirasi yang sangat ”licik” untuk memudahkan hidup manusia (jangan tangkap begitu saja kata-kataku ya?). Dalam kata-kata lain yang sebenarnya berarti sama, sebuah usaha yang sangat agung dalam membantu manusia melestarikan kehidupannya. Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Aku yakin seyakin-yakinnya, tidak ada lagi tangan lain yang mampu menyusun rencana yang se-agung ini kecuali Dia. Dalam kondisi seperti ini menurutku aneh kalau Dia dianggap sebagai Tuhan yang suka marah atas kelalaian manusia. Dia Maha Agung, menyiapkan every detail dari sebuah rencana besar dunia.
You know apa yang paling kusuka dari travelling? Selain belanja souvenir khas daerah tertentu tentunya (ihik…), aku melihat keagungan Dia di setiap sudut yang kulihat. Pernah kebayang apa jadinya kalau sungai Barito salah taruh di Pulau Jawa? He..he… di pulau yang luasnya cuma se-uprit itu ditaruh sungai Barito yang lebarnya bahkan jauh lebih lebar dari sungai Musi di Kalimantan, kebayang gak? Atau misalnya orang-orang di sekitar sungai Barito yang melihat ke mana-mana cuma ada air, tidak diberi pencerahan tentang adanya sungai apung untuk melakukan transaksi. Kenapa juga sungai apung adanya di Kalimantan?
Tenang saja, aku tidak bermaksud mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas untuk dijawab kok. Pertanyaan di atas, bagiku cuma sekedar penguat atas keyakinanku tentang ada sebuah super power yang mengatur jalannya dunia sampai-sampai sungai barito tidak salah tempat. He..he… Jadi lumayan terjawab kan kenapa pohon kayu galam hanya banyak di Kalimantan? For me, ya karena memang daerah itu yang paling banyak membutuhkan. Thanks God (Hope my answer is right).
Cengkareng, 24 Februari 2005
Pulang dari Banjar, nunggu pesawat ke Pont, capek.




