rencana kita sudah gak pakai tu grafis-grafis segala…”
-benarkah? -
Sepenggal kalimat di atas saya dengar dari salah seorang teman yang bekerja sebagai HR sebuah perusahaan yang cukup diakui di bidangnya dan merupakan bagian dari satu grup perusahaan besar Indonesia. Saat mendengarnya saya tidak bisa banyak bicara, selain tidak dalam posisi untuk mendebat juga menurut saya sebelum bicara seharusnya orang sudah punya bahan yang cukup dulu. Karena itu juga kemudian saya –yang pada dasarnya sudah memiliki keyakinan besar tentang adanya sesuatu yang salah dengan pernyataan di atas- menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mencari informasi tentang kompetensi dan hubungannya dengan grafis.
Pertemuan pertama saya dengan Spencer & Spencer (1993) menguatkan keyakinan saya tentang kompetensi yang tidak dalam posisi melawan konstruk psikologi lama tentang manusia. Spencer & Spencer (1993) menyatakan definisinya tentang kompetensi, yaitu underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion-referenced effective and/or superior performance in a job or situation. Spencer, yang dalam bukunya jelas-jelas menunjukkan posisi kompetensi sebagai serangkaian karakteristik individu tidak membatasi definisinya pada perilaku manusia saja. Definisi terakhir ini yang banyak diyakini kebenarannya oleh banyak praktisi HRD di banyak organisasi.
Seorang tokoh lain, Lepsinger (1999) menyatakan bahwa kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan dan karakteristik yang dapat mendorong efektifitas kinerja. Dalam definisi ini saja dapat dilihat bahwa perilaku bukanlah satu-satunya hal yang dapat menjadi tolok ukur kompetensi. Namun di lain sisi mengingat bahwa kompetensi adalah suatu hal yang harus dapat diukur dan nampak dalam perilaku sehari-hari, maka perilaku menjadi salah satu sarana dalam mengukur kompetensi seorang individu.
Dalam piramida Iceberg, seorang manusia pada dasarnya memiliki beberapa faktor pembentuk perilaku. Di antaranya adalah motive, traits, self concept, values, yang walaupun tidak nampak kasat mata namun memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perilaku seseorang. Seorang teman atau trainer pernah memberikan contohnya yang sangat menarik dan sangat menempel dalam ingatan saya. Begini katanya, kalau Anda bertemu dengan 2 orang di pinggir pantai yang sedang bermain layang-layang, apa yang akan Anda pikirkan?
Satu orang mungkin bermain layang-layang karena dia memang menyukainya sementara yang lain mungkin sedang dalam usaha menarik perhatian seorang perempuan yang ada di pantai tersebut. Jika hanya melihat perilaku yang muncul, tanpa memperhatikan motive yang ada di belakangnya, tentunya Anda akan terjebak dengan meng-hire keduanya (kalau Anda membutuhkan seorang pemain layang-layang di perusahaan Anda). Tentunya dalam beberapa bulan kemudian, Anda akan menemukan hasil yang berbeda pada kedua orang bersangkutan, kemudian Anda akan bertanya-tanya, apakah definisi kompetensi-nya yang salah atau asesor-nya yang kurang judgment rate-nya?
Bagi saya (dan Anda sangat boleh berbeda pendapat), masalahnya terletak pada motive atau apa pun di dalam individu tersebut yang tidak dapat diraba sekedar melihat pada perilakunya. Bagi saya (sekali lagi Anda boleh beda pendapat), kompetensi adalah specific characteristic, yang artinya karakteristik tersebut bisa berupa perilaku, nilai yang dianut, etos kerja, minat, dll. Jika perilaku saja yang digunakan sebagai acuan, maka saya pribadi merasa Anda sedang meng-hire orang untuk 1-2 tahun saja. Namun jika hanya melihat motive atau trait seseorang maka Anda sedang berharap seorang yang akan menjadi sangat produktif setelah belasan atau puluhan tahun ke depan. Dan keduanya tidak efektif…
Karena itu saya percaya betul tentang perlunya sebuah pendekatan yang menyeluruh dan integrate dalam usaha mengukur kompetensi seorang individu. Dalam hal ini drawing test adalah salah satu tool yang mampu membantu seorang asesor untuk mengetahui trait dan motive seorang individu. Sementara perilaku yang sesungguhnya dapat di-konfirm lebih lanjut lewat behaviour based interview. Pendekatan yang menyeluruh inilah yang sebenarnya diharapkan dari seorang dengan latar belakang psikologi, karena yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang ”lebih” tentang dinamika individu dibandingkan orang lain.
Biarpun banyak orang sudah meluntur kepercayaannya pada drawing test belakangan ini, saya pribadi termasuk seorang yang sangat percaya akan hasil interpretasi drawing tes (tentunya dengan syarat hal itu dilakukan oleh seorang yang benar-benar mampu). Berdasarkan pengalaman saya, saya hampir tidak pernah dikecewakan oleh hasil drawing test, tentunya juga dengan pemahaman bahwa setiap tes tidak mampu berdiri sendiri dalam memberikan gambaran yang menyeluruh tentang individu.
Karena itu, walaupun belum pernah lagi bertemu sang teman yang mengucapkan kata-kata di atas sejak pertemuan saya dengan Spencer seperti yang telah saya katakan di atas, tapi sekarang saya yakin betul bahwa drawing test tidak akan pernah menjadi tidak penting untuk dipelajari dalam konteks pemahaman dinamika seorang individu. Tapi kalau Anda atau teman Anda masih ada yang berpendapat berbeda, tentunya itu sah-sah saja, tapi sekali lagi ingat contoh pemain layang-layang yang akan Anda rekrut tadi. Apakah Anda bersedia terjebak dalam pemikiran ”judge the book by its cover”?
[1] Dibuat untuk 2nd Learning Session Arupakarta!, Hotel Sofyan Tebet, 29 – 30 Januari 2005




