Arsip untuk Januari, 2005

“Kalau sudah pakai competency based,
rencana kita sudah gak pakai tu grafis-grafis segala…”
-benarkah? -

Sepenggal kalimat di atas saya dengar dari salah seorang teman yang bekerja sebagai HR sebuah perusahaan yang cukup diakui di bidangnya dan merupakan bagian dari satu grup perusahaan besar Indonesia. Saat mendengarnya saya tidak bisa banyak bicara, selain tidak dalam posisi untuk mendebat juga menurut saya sebelum bicara seharusnya orang sudah punya bahan yang cukup dulu. Karena itu juga kemudian saya –yang pada dasarnya sudah memiliki keyakinan besar tentang adanya sesuatu yang salah dengan pernyataan di atas- menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mencari informasi tentang kompetensi dan hubungannya dengan grafis.
Pertemuan pertama saya dengan Spencer & Spencer (1993) menguatkan keyakinan saya tentang kompetensi yang tidak dalam posisi melawan konstruk psikologi lama tentang manusia. Spencer & Spencer (1993) menyatakan definisinya tentang kompetensi, yaitu underlying characteristic of an individual that is causally related to criterion-referenced effective and/or superior performance in a job or situation. Spencer, yang dalam bukunya jelas-jelas menunjukkan posisi kompetensi sebagai serangkaian karakteristik individu tidak membatasi definisinya pada perilaku manusia saja. Definisi terakhir ini yang banyak diyakini kebenarannya oleh banyak praktisi HRD di banyak organisasi.
Seorang tokoh lain, Lepsinger (1999) menyatakan bahwa kompetensi merupakan kombinasi dari pengetahuan, ketrampilan dan karakteristik yang dapat mendorong efektifitas kinerja. Dalam definisi ini saja dapat dilihat bahwa perilaku bukanlah satu-satunya hal yang dapat menjadi tolok ukur kompetensi. Namun di lain sisi mengingat bahwa kompetensi adalah suatu hal yang harus dapat diukur dan nampak dalam perilaku sehari-hari, maka perilaku menjadi salah satu sarana dalam mengukur kompetensi seorang individu.
Dalam piramida Iceberg, seorang manusia pada dasarnya memiliki beberapa faktor pembentuk perilaku. Di antaranya adalah motive, traits, self concept, values, yang walaupun tidak nampak kasat mata namun memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perilaku seseorang. Seorang teman atau trainer pernah memberikan contohnya yang sangat menarik dan sangat menempel dalam ingatan saya. Begini katanya, kalau Anda bertemu dengan 2 orang di pinggir pantai yang sedang bermain layang-layang, apa yang akan Anda pikirkan?
Satu orang mungkin bermain layang-layang karena dia memang menyukainya sementara yang lain mungkin sedang dalam usaha menarik perhatian seorang perempuan yang ada di pantai tersebut. Jika hanya melihat perilaku yang muncul, tanpa memperhatikan motive yang ada di belakangnya, tentunya Anda akan terjebak dengan meng-hire keduanya (kalau Anda membutuhkan seorang pemain layang-layang di perusahaan Anda). Tentunya dalam beberapa bulan kemudian, Anda akan menemukan hasil yang berbeda pada kedua orang bersangkutan, kemudian Anda akan bertanya-tanya, apakah definisi kompetensi-nya yang salah atau asesor-nya yang kurang judgment rate-nya?
Bagi saya (dan Anda sangat boleh berbeda pendapat), masalahnya terletak pada motive atau apa pun di dalam individu tersebut yang tidak dapat diraba sekedar melihat pada perilakunya. Bagi saya (sekali lagi Anda boleh beda pendapat), kompetensi adalah specific characteristic, yang artinya karakteristik tersebut bisa berupa perilaku, nilai yang dianut, etos kerja, minat, dll. Jika perilaku saja yang digunakan sebagai acuan, maka saya pribadi merasa Anda sedang meng-hire orang untuk 1-2 tahun saja. Namun jika hanya melihat motive atau trait seseorang maka Anda sedang berharap seorang yang akan menjadi sangat produktif setelah belasan atau puluhan tahun ke depan. Dan keduanya tidak efektif…
Karena itu saya percaya betul tentang perlunya sebuah pendekatan yang menyeluruh dan integrate dalam usaha mengukur kompetensi seorang individu. Dalam hal ini drawing test adalah salah satu tool yang mampu membantu seorang asesor untuk mengetahui trait dan motive seorang individu. Sementara perilaku yang sesungguhnya dapat di-konfirm lebih lanjut lewat behaviour based interview. Pendekatan yang menyeluruh inilah yang sebenarnya diharapkan dari seorang dengan latar belakang psikologi, karena yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang ”lebih” tentang dinamika individu dibandingkan orang lain.
Biarpun banyak orang sudah meluntur kepercayaannya pada drawing test belakangan ini, saya pribadi termasuk seorang yang sangat percaya akan hasil interpretasi drawing tes (tentunya dengan syarat hal itu dilakukan oleh seorang yang benar-benar mampu). Berdasarkan pengalaman saya, saya hampir tidak pernah dikecewakan oleh hasil drawing test, tentunya juga dengan pemahaman bahwa setiap tes tidak mampu berdiri sendiri dalam memberikan gambaran yang menyeluruh tentang individu.
Karena itu, walaupun belum pernah lagi bertemu sang teman yang mengucapkan kata-kata di atas sejak pertemuan saya dengan Spencer seperti yang telah saya katakan di atas, tapi sekarang saya yakin betul bahwa drawing test tidak akan pernah menjadi tidak penting untuk dipelajari dalam konteks pemahaman dinamika seorang individu. Tapi kalau Anda atau teman Anda masih ada yang berpendapat berbeda, tentunya itu sah-sah saja, tapi sekali lagi ingat contoh pemain layang-layang yang akan Anda rekrut tadi. Apakah Anda bersedia terjebak dalam pemikiran ”judge the book by its cover”?

[1] Dibuat untuk 2nd Learning Session Arupakarta!, Hotel Sofyan Tebet, 29 – 30 Januari 2005

Komentar (3)

Banyak Orang Baik di Dunia

Banyak Orang Baik di Dunia
dan tidak ada orang tidak baik… (believe me!)

Dalam banyak hal kadang-kadang aku merasa sangat-sangat putus asa, khususnya ketika harus berhadapan dengan banyak hal yang sangat tidak adil dan semena-mena. Pengendara mobil yang mengendarai mobilnya dengan sangat cepat melalui genangan air kotor dan membuat pejalan kaki berteriak karena kecipratan. Calo tiket ke Banda Aceh yang menaikkan harga seenak udelnya tanpa mau mengerti bahwa sebagian calon pembeli telah kehilangan hampir semua keluarganya di Aceh karena Tsunami 3 minggu yang lalu. Beberapa orang yang berduyun-duyun datang ke Aceh bukan untuk membantu tapi untuk di-shoot kamera, bertanya tentang kejadian dan berfoto. Melihat hal-hal di atas, aku yakin bukan aku sendiri yang mengelus dada karenanya.
But hari ini aku menemukan berita terbaik yang pernah kudapatkan, mau tahu? Masih banyak orang baik (ternyata) di dunia. Ha..ha.. Rasanya aku pengen teriak dan tertawa terbahak-bahak menemukan fakta ini. Puas, lega, haru, senang, optimis, sangat bersyukur bahwa akhirnya aku menemukan bukti bahwa manusia pada dasarnya baik. Ada sebagian orang yang sempat mematahkan pendapatku ini, ada yang bilang manusia tu imbang ada setan ada malaikat di dalamnya atau bahkan seorang pesimis bisa bilang bahwa manusia pada dasarnya jahat. Tapi dasar keras kepala, aku yakin seyakin-yakinnya dan bahkan semakin yakin sekarang, bahwa manusia pada dasarnya sangat sangat sangat baik.
Aku melihat banyak bukti hidup along my way. Bahkan aku yang bukan siapa-siapa bisa menemukan banyak bukti hidup, aku yakin Bunda Theresa, Colombus, Soekarno, dan orang-orang besar lain itu juga menemukannya dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Sampai-sampai mereka bisa begitu optimis dengan hidupnya dan penuh menjalani hidupnya. Aku yakin banyak orang juga menemui banyak orang baik dalam hidupnya. Aku bertemu Pak Pal Gunadi yang mantan direksinya Astra Internasional, suatu hari di beberapa tahun yang lalu, yang dari beliau aku tahu bahwa tidak semua orang berduit menggunakan uangnya demi kesenangan pribadi.
Aku juga bertemu dengan Raj, seorang praktisi HR dari India yang menikah dengan seorang Indonesia dan memilih tinggal di Indonesia karena merasa ingin memberikan kontribusi yang lebih bagi masyarakat Indonesia. Aku bertemu mamah-ku yang tidak pernah punya cukup uang untuk bersenang-senang tapi selalu punya uang untuk diberikan ke orang lain yang lebih membutuhkan. Aku juga menonton Aa’ Gym yang punya kepercayaan besar sama agama Islam namun juga menunjukkan toleransi yang tinggi untuk pemeluk agama lainnya. Aku melihat lewat koran seorang anak kecil yang rela menghabiskan uang tabungannya yang dikumpulkannya berbulan-bulan untuk membantu korban Tsunami di Aceh yang bahkan tidak dikenalnya.
Daftarnya masih bisa makin panjang. Ada Pak Fred, penerjemah Kedutaan Amerika untuk Indonesia, yang bersedia membuka rahasia besar negaranya demi kelangsungan masyarakat dunia yang lebih bermartabat. Ada Bu Nelly, seorang bidan di Aceh yang keluarganya jadi korban Tsunami namun menyediakan tenaganya untuk membantu korban lainnya. Ada mas-mas yang kutemui di bis yang bersedia berdiri dan memberikan tempat duduknya ke aku yang saat itu membawa banyak barang. Ada Tonny, one of my amazing friend, yang tidak lahir dengan berlebihan uang namun selalui bersedia memberikan semua (literally) yang dia punya untuk orang tua dan orang-orang dekatnya, sampai-sampai dia selalu harus menunda membeli barang yang diimpikannya bertahun-tahun. Pasti masih banyak lagi orang yang kutemui.
Intinya, aku bilang manusia pada dasarnya baik. Buatku Tuhan memberikan semangat buatku yang belakangan mulai kurang optimis akan hidup lewat orang-orang di atas. Buatku orang-orang di atas diciptakan memang untuk membuktikan bahwa manusia pada dasarnya baik. Manusia itu berlian. Even ketika nampak kotor berdebu dan nampak seperti sebongkah batu, manusia adalah berlian. Now I have to find my diamond inside, to give light to those around me, like those I mentioned above. Hope time would help…

Still di Depok, dengan optimisme yang melonjak tinggi.
Karena I’m part of makhluk-makhluk baik.
Fiuhh, Thank God.

fa laksmi – 14 Januari 2005

Komentar (2)

Lesson From Tsunami For Me

Lesson from Tsunami, Aceh, 26 Desember 2004


As you all know, tanggal 26 Desember 2004 jadi Natal paling kelabu bagi bangsa Indonesia dan beberapa negara lainnya. All of a sudden tsunami memukul habis Aceh, di ujung Barat Indonesia. Perhitungan terakhir yang kuadapat ada hampir 100.000 korban meninggal di propinsi NAD. Can you imagine? Sesaat everyone was people yang terbagi atas keluarga dan bukan keluarga. Dan sesaat kemudian semua orang jadi nampak jelas sebagai keluarga. Sesaat aku gemes sama orang Aceh yang mau memisahkan diri dari Indonesia, apa pun namanya, kebebasan, pemberontakan, separatis. Tapi kemudian aku jatuh cinta sama ketegaran orang Aceh dalam menghadapi cobaan besar dari Tuhannya.
Buatku musibah ini adalah musibah paling besar yang pernah kusaksikan selama 28 tahun perjalanan hidupku. Dan suddenly musibah ini membuatku berpikir bahwa di dunia segala sesuatu hampir gak ada batasnya, kalau toh ada mungkin sangat tipis. Batas antara hidup dan mati cuma 8 menit bagi Pak Sayyed, salah satu korban di Aceh, mantan Humas Polda NAD. Batas antara keluarga dan bukan keluarga ternyata hanya 3 meter air yang tiba-tiba menerjang. Batas antara korban dan penolong ternyata berbeda cuma dari perspektifnya. Batas antara syukur dan menuntut ternyata cuma beberapa detik meregang nyawa. Tiba-tiba smeua batas jadi sangat tipis dan tidak jelas, tiba-tiba semua klasifikasi jadi sangat sangat tidak penting.
Seluruh bangsa belajar sesuatu dari musibah ini, menurutku. At least, aku, sebagai seorang warga bangsa Indonesia yang sangat cinta akan bangsanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, belajar bahwa banyak hal yang selama ini kuanggap penting bukanlah hal penting. Kupikir memiliki pendidikan tinggi penting, tapi ternya yang penting adalah jangan berhenti belajar. Kupikir memiliki visi dan being optimis penting tapi ternyata yang lebih penting adalah visi tentang kehidupan setelah hidup yang ini. Kupikir mencapai cita-cita adalah dignity-ku ternyata berguna bagi orang bannyak adalah yang terpenting.
Salah seorang sahabat pernah berkata, katanya, ”Akhirnya aku tahu bahwa hidup adalah untuk berbagi …” Aku sepakat dengan kata-katanya, walaupun berbeda pendapat dengannya dalam konteks tertentu tentang jenis-jenis orang yang mau berbagi. Hidup memang utamanya adalah berbagi, berbagi kebahagiaan, kesenangan, rejeki, hei… bukankah itu yang memang diajarkan Islam bagi umatnya? What a coincidence?
Kembalo bicara tentang batas, yang saat ini –hampir 3 minggu sejak badai menerjang- sedang jadi isu hangat adalah bagaimana korban menanggapi cobaan ini semua. Batas antara berempati dan terus-terusan larut dalam kesedihan memang juga sangat tipis. Beberapa orang tetap mengumbar gambar-gambar menyayat hati tentang Aceh, membicarakan korban-korban yang meninggal dan lupa pada orang-orang yang masih hidup dan masih harus meneruskan hidupnya. Akhirnya, para korban yang masih hidup justru ikut terseret ke arus putus asa dan kesedihan yang tak berkesudahan dan lupa bahwa life goes on.
Aku tidak bermaksud mengkritik siapa pun, aku sangat sedih melihat apa yang menimpa Aceh. Tapi bukankah sudah saatnya kita berpikir tentang bagaimana cara mengatasi ini semua? Bukan sibuk dengan kesedihan dan terus-terusan mengeksplotasi kesedihan mereka sebagai cara mencari uang? Bukankah sudah saatnya mempertebal batas antara menyerah dan bangkit? Menyerah atas kemalangan yang menimpa atau bangkit dan menerimanya sebagai salah satu pengalaman terburuk dalam hidup. Aku pikir ini sudah saatnya bangkit, berdiri dan kembali berjuang, tapi kali ini bukan memperjuangkan kemerdekaan bagi Aceh tapi kemerdekaan untuk kembali menjalani hidup seperti layaknya manusia lainnya, bukan larut dan terbelit kesedihan yang tak ada habisnya.
Semoga tidak ada pihak yang merasa disakiti dengan kata-kataku atau merasa aku sangat tidak empatik. Semoga…

With love for all my ”sudden” family, Aceh…

fa laksmi, dengan keyakinan besar tentang kemungkinan bangkitnya sebuah bangsa besar yang menyebut dirinya Indonesia dengan berkaca pada natal paling kelabu dalam sejarah, 10 Januari 2004

Tinggalkan sebuah Komentar