Matahari, Cahaya & Cinta
Only for those who are willing to understand
Pernah bayangin gimana rasanya terjebak di bawah timbunan salju dipegunungan Himalaya? Gak ada orang yang tahu persis posisi kita, Cumabisa dengar suara orang yang kita cintai dari walkie talkie. Pernah merasa hidup rasanya malem terus? Gak ada terang, gak ada matahari,gak ada kegembiraan? Pernah merasa malam rasanya gak habis-habissampai hampir mau putus asa nunggu terang?
Pernah merasa ternyata hamparan salju putih yang sangat diidam-idamkan oleh masyarakat yangtinggal di negara tropis ternyata jahat banget? Pernah merasa duniaini tidak adil? Sangat tidak adil dan there’s nothing you can doabout it? Membuatmu jadi tidak tahu seperti apa masa depan yangmenanti? So confuse sampai hampir, so close to desperate.Tiba-tiba di atas ada sedikit cahaya, sedikit sekali dan sangat jauh.Tapi beberapa saat yang lalu bahkan setitik cahaya itu pun tidak ada.Atau tiba-tiba ada rasa hangat di ujung jempol dari sinar matahariyang mulai muncul di ujung hari baru. Seluruh badan masih merasakandinginnya malam atau salju yang menyelimuti tapi ada rasa ringan,hangat yang menjalar pelan sangat pelan dari ujung badan yang selamaini tidak diperhitungkan.
Hangatnya matahari setelah malam yangsangat gelap dan dingin, indahnya secercah sinar menembus timbunansalju yang sangat membuat putus asa, atau buat sebagian orang jugaperasaan cinta yang pelan-pelan menghangatkan hati setelah kebekuanyang cukup lama…Rasanya indah kan? Hangat, penuh harapan, lembut dan segala rasapositif yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Apa sih arti setitiksinar bagi seorang yang jatuh tertimbun salju? Apa arti rasa hangatdi ujung jempol bagi orang yang menunggu malam berakhir? Apa artirasa hangat di dalam hati bagi orang yang telah lama menunggu cinta?Solusi? Pertolongan? Harapan?Orang bijak berkata, “If you wait long enough, the right bus wouldcome.”
Sering dalam hidup di mana masalah tidak bisa mengkategorikandirinya sendiri menurut kepentingannya –urgent, agak penting, tidakpenting-, aku sering dibingungkan dengan banyak pilihan tentangprioritas apa yang harus diambil pada satu kesempatan. Saat iturasanya banyak bis yang lewat tapi tidak satu pun yang sesuai dengantujuanku. Rasanya semua orang mendapatkan bis sesuai tujuannya dantidak seorang pun menemaniku menunggu bis yang tepat itu.Saat-saat seperti itu aku selalu membayangkan diriku terjebak dalamtimbunan salju di pegunungan Himalaya seperti dalam film VerticalLimit atau sedang dalam perjalanan naik gunung Sindoro yang tiba-tibacuaca berubah tidak bersahabat dan aku terpaksa menunggu malamberganti pagi. Perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, seolah-olahberdiri di antara dua jurang yang dalam, membuatku kembali menyebutnama Sang Khalik. Kecil rasanya aku dibandingkan dengan kekuasaan-Nya.Sebagai manusia nampaknya batas antara putus asa dan harapan dancelah kecil di antaranya-lah yang membuatku jadi makin manusiawi.
Kalau dalam pendakian Himalaya, secercah sinar menjadi tumpuanharapan. Sementara dalam pendakian Sindoro, hangatnya matahariberarti “selamat datang” di hari baru maka pada hati yang terlalulama beku hangatnya uap cinta seperti terlepas dari himpitan batubesar.Jika hidup adalah sebuah perumpamaan, aku yakin manusia bagaikanseekor keledai yang masih sering terjatuh dalam lubang yang sama duakali, bahkan lebih. Jika Tuhan boleh diumpamakan maka Ia adalahseorang ibu yang tak hentinya memaafkan anak-Nya dan menasehatinyaagar jangan mengulang kesalahannya.
Dan jika cinta juga bolehdiumpamakan maka ialah perekat antara keledai dan ibu tersebut, bisamelalui keledai lain atau melalui anaknya. Well, anyway, aku percayabahwa kalau aku bertahan cukup lama, dalam banyak hal, then setitikcahaya, hangatnya fajar dan bahkan lembutnya cinta will come my way.
With all my love…
fa, Depok, 6 September 2004




