The TAO of Love (Review Buku)
Marsini, 13 Maret 2004
Dibuka dengan satu kalimat yang bisa mengundang senyum bagi para pembacanya, buku ini membawa kita ke dalam proses perenungan bagi pengembangan kemampuan menemukan kedamaian dalam hidup. Kalimat pembukanya yang berbunyi:
“Life is like a parking garage; if you go backward, you get severe tire damage”
membuat pembaca mengira-ngira akan dibawa ke mana arah pembicaraan buku. Dengan kalimat yang cukup dalam buku ini ingin memberikan gambaran tentang inti memperoleh cinta dalam hidup untuk membuat hidup menjadi lebih penuh cinta.
Mengungkap bahwa pada umumnya manusia terikat pada masa lalunya sehingga mengalami kesulitan untuk mengembangkan dirinya pada masa sekarang, Ivan Hoffman (penulis) membeberkan bahwa tulisannya ini diperoleh berdasarkan proses perenungannya yang panjang. Kesulitan manusia untuk mendapatkan cinta yang seutuhnya dalam hidup berhubungan dengan pola hubungan antar manusia yang dipelajarinya dari awal masa hidupnya. Manusia pada dasarnya mempelajari hubungan antara manusia melalui kontak awalnya dengan dunia, yaitu melalui mempelajari hubungan orang tuanya.
Namun satu hal yang harus ditekankan adalah, menurut Hoffman, membebaskan diri dari masa lalu. Karena seperti kalimat di atas jika manusia terus-terusan menengok ke belakang seperti waktu sedang memarkir kendaraan akan ada kemungkinan bannya rusak. Seperti kehidupan manusia pada umumnya, hidup adalah masa sekarang dan masa yang akan datang bukan masa lalu. Masa lalu membentuk diri kita sekarang tapi bukan menentukan berhasil tidaknya atau bahagia tidaknya kita. Hidup manusia sekarang sangat bergantung pada bagaimana manusia menyikapi hidupnya di masa sekarang dengan ”hanya” bercermin sesaat pada perilakunya di masa lalu.
Hal lain yang juga menyebabkan sebagian besar manusia mengulang kegagalannya dalam kehidupan cinta karena bagaikan magnet, kita menarik orang-orang jenis tertentu yang cenderung tidak cocok bagi diri kita. Untuk melepaskan diri dari hal ini maka yang perlu dilakukan adalah membebaskan diri dari keinginan-keinginan menguasai, mengontrol, mendapatkan balasan yang sering kali mewarnai satu hubungan yang diawali cinta. Dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki misalnya, masing-masing berusaha menguasai pasangannya sehingga ketika yang bersangkutan melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya timbul masalah yang bisa membuat hubungan tidak berhasil sampai jenjang berikutnya.
TAO selain bertujuan untuk membebaskan manusia dari rasa haus untuk menguasai orang lain juga sangat menekankan tentang pentingnya hidup dalam harmoni, dalam keseimbangan. Belajar dari lambangnya yang sering disebut yin dan yang, pada dasarnya TAO mengajak manusia untuk melihat segala sesuatu yang dialaminya sebagai satu kesatuan dan bukan dikotomi yang saling bertentangan. Dengan cara ini tentunya diharapkan manusia lebih mudah untuk merasa ”utuh” hidup dalam lingkungannya dan bukan terus-terusan merasa menjadi korban atau menyalahkan lingkungan.
Sama dengan materi yang diterangkan dalam buku bahwa dalam hidup manusia butuh kemampuan untuk menggabung-gabungkan kejadian-kejadian dalam hidup untuk dapat mendapatkan gambar besar tentang rencana hidup kita, buku ini juga menuntut pembacanya untuk mampu melihat kepingan-kepingan ajaran TAO dalam kalimatnya yang panjang-panjang. Kata-kata yang digunakan pada dasarnya adalah kata-kata sehari-hari, namun rangkaian panjang kata-kata tersebut menjadi kalimat yang kadang perlu diulang-ulang untuk lebih mengerti apa maksud penulisnya. Tapi anehnya, sekali pembaca mendapatkan ide utama dari buku ini, maka sebenarnya ide-ide berikutnya merupakan ulangan atau pendalaman atas ide-ide yang sudah diterangkan di bagian awal buku ini.
Walaupun tanpa ada biografi penulisnya, sehingga pembaca pasti akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan latar belakang penulis dan menghubungkannya dengan ide dalam bukunya. Tapi secara keseluruhan, buku ini cukup memberikan ”pencerahan” bagi pembaca yang memang selama ini sudah memiliki ”preliminary knowledge” tentang TAO atau Budhisme. Dalam beberapa hal, tentunya sebagai pembaca muslim, muncul beberapa ide yang nampak kurang sesuai dengan pendapat sebagian besar kaum muslim.
Seperti ide tentang bahwa manusia hidup melalui beberapa kehidupan, sehingga karena manusia hanya memahami perjalanan hidup yang sekarang, kadang sulit bagi manusia untuk memahami pesan tentang arti keberadaannya di dunia. Ide ini tentunya akan banyak mendapatkan pertentangan jika ditilik dari sudut ilmu agama, sepengetahuan saya. Namun sebagai seorang Muslim yang juga tertarik mengetahui Taoisme, dengan harapan bisa memahami orang lain dengan lebih baik, secara pribadi beberapa ide yang tidak sesuai masih bisa disingkirkan dan sebagai pembaca saya mendapatkan banyak ide baru yang membuat hidup menjadi lebih utuh.
Jadi, jika Anda masih mencari-cari keyakinan yang sesuai atau sedang dalam tahap keingin-tahuan seperti saya, buku ini layak dibaca. Satu hal yang sangat perlu dalam membaca buku ini adalah bahwa pembaca sebaiknya menggunakan pola berpikir yang terbuka, sehingga semua ide bisa dicerna dengan penuh cinta, tanpa harapan. Seperti tulisan ini, ditulis tanpa harapan apa pun kecuali dibaca oleh orang lain, karena itulah esensi tulisan bukan? Dibaca orang lain.
(selesai 19 Maret 2004, sebelum berangkat kuliah)




