“Seenak-enak hujan emas di negeri orang,
lebih enak hujan batu di negeri sendiri”
(Peribahasa lama mewakili obrolan dengan saudara sepupuku yang lama tinggal di Belanda)
Ini pertanyaan yang mengganggu tidurku beberapa saat belakangan ini, sampai-sampai aku memutuskan untuk absen di salah satu kuliahku karena sudah tidak sabar ingin menuliskan pikiranku. Mungkin karena takut hilang atau mungkin juga karena ingin segera bebas dari beban ini. Pertanyaannya apakah nilai seseorang ditentukan oleh nilai yang dianut secara umum pada masyarakat tempatnya tinggal? Maksudku kalau pembentukan nilai pasti secara tidak langsung dipengaruhi oleh nilai setempat, tapi ketika beranjak dewasa bisakah satu saat kita percaya bahwa kumpul kebo itu sah karena dilakukan oleh semua orang?
Baiknya kumulai dari awal, jika seseorang sebut saja X tinggal di negara A yang menyatakan bahwa kumpul kebo dilarang dengan segala alasannya dan X sepakat dengan nilai itu. Kemudian jika X pindah ke negara B yang melegalkan kumpul kebo apakah kemudian X bisa juga melegalkan kumpul kebo untuk dirinya sendiri dengan alasan karena semua orang melakukan hal yang sama? Perhatikan betul pertanyaanku, melegalkan karena semua orang melakukan hal yang sama bukan karena dia secara pribadi percaya bahwa kumpul kebo itu diperbolehkan. BTW kumpul kebo di sini cuma contoh dari prinsip-prinsip umum yang dimiliki seseorang dan kusebut dengan “nilai”.
Saudara sepupuku yang lama tinggal di luar negeri sempat bercerita tentang bagaimana proses pergeseran nilai yang dilaluinya dengan adanya perpindahan tempat tinggalnya. Sebelum berlanjut lebih dalam lagi mungkin juga baiknya kukatakan bahwa aku tidak bermaksud untuk memberikan judgment tentang nilai mana yang lebih baik dibandingkan nilai lainnya. Aku hanya ingin memberikan opiniku tentang pembentukan nilai dalam diri seseorang. Aku concern dengan prosesnya bukan materinya, mungkin itu yang tepat.
Saudaraku cerita tentang bagaimana dia harus bekerja keras mengikuti ritme kerja orang bule yang on time dan disiplin, satu pergeseran kebiasaan yang kemudian diikuti perubahan nilai pribadinya bahwa sebagai seorang pegawai yang baik being punctual dan disiplin is a must. Dia juga bercerita bahwa banyak nilai-nilainya yang mengalami perubahan sehubungan dengan hidupnya di negara orang. Kalau begitu aku berpikir bisa jadi hal yang baik dilakukan di satu daerah belum tentu baik di daerah lain? Dengan kesimpulan ini tulisanku sebelumnya tentang nilai dari akar sembilan menemukan teman seperjalanan.
Lalu bagaimana menentukan nilai yang akan diadopsi dan mana yang akan ditolak? Itulah pertanyaan yang memunculkan peribahasa di atas, karena akhirnya kami sepakat bahwa berada di satu tempat yang merupakan awal kita berhubungan dengan dunia luar, tempat kelahiran, selalu merupakan pilihan yang jauh lebih menyenangkan. Lagi-lagi tolong betul diperhatikan bahwa pilihan itu lebih menyenangkan bukan lebih baik. Pertanyaan berikutnya tentu saja berhubungan dengan identifikasi mana kebaikan yang menyenangkan dan mana kebaikan yang tidak menyenangkan? Dan mana yang harus diambil?
Aku pribadi, walaupun sepakat dengan esensi pendapat di atas, tidak mengingkari keinginanku untuk sesaat tinggal di luar negeri tempat kelahiranku. Untuk apa adalah pertanyaan yang belum utuh kudapatkan jawabannya. Dari sisi idealisme mungkin untuk menguji nilai-nilai pribadiku, apakah akan bergeser, luntur, berganti atau tetap? Dari sisi praktis mungkin kepentingan pribadi, mengingat kenyataan di luar sana yang lebih menghargai segala sesuatu yang berhubungan dengan luar negeri, sehingga mungkin aku akan mendapat keuntungan jika mendapat kesempatan ke luar negeri barang setahun dua tahun.
Aku ingat cerita salah seorang dosenku yang sempat sekolah di luar negeri dan mendapat Tawaran untuk mengajar di salah satu universitas ternama di sana. Dalam kebimbangannya, pada akhirnya yang bersangkutan memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menyebarkan ilmu yang didapatnya kepada ratusan atau mungkin ribuan mahasiswanya. Salah satu alasannya adalah dia merasa berhutang pada generasi muda negerinya yang mungkin jauh lebih pintar darinya tapi tidak mendapat kesempatan yang sama. Dalam kasus ini nilai-nilai pribadi dosenku sudah mengalami pengujian di tempat yang jauh dari kelahirannya dan beliau kembali demi nilai-nilai yang lebih tinggi.
Ada temanku yang pulang dari luar negeri kemudian menghujat negaranya. Ada yang kemudian hobi minum minuman beralkohol. Ada yang semakin giat membaca buku ikut kebiasaan akademis di sana yang sangat proaktif. Ada yang kembali dengan idealisme yang berlipat-lipat jumlahnya dibandingkan saat berangkat, ada juga yang menipis cenderung habis jatuh dalam perjalanannya melintasi lautan dan benua. Yang tidak pergi keluar negeri pun ada yang mengalami hal serupa, mungkin being away dari tanah kelahiran hanya satu supporting event yang bisa mempercepat atau memperlembat prosesnya.
Tapi kalau boleh kumasukkan sedikit pendapatku, apa pun pengaruh yang didapat dari dunia luar sana, bukankah nilai-nilai pribadi berhubungan dengan keyakinan kita pribadi? Bukan dengan berapa banyak orang yang menganut nilai yang sama di tempat kita tinggal? Jadi kalau ada orang memilih hujan emas di negeri orang pun itu karena keyakinannya bahwa hal itu baik bagi dirinya sendiri bukan sekedar mengikuti tren. Begitu pula bagi yang memilih hujan batu di negeri sendiri, moga-moga bukan karena merasa tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Semoga…
fa laksmi-di kamar kos




