“… at the end, we are all (just) fruits …”
(My Big Fat Greek Wedding, Oktober 2003)
Setelah kuliah statistik yang cukup “mengganggu” berikutnya kuliah metodologi penelitian kualitatif yang bertugas menggelitik syaraf kemanusiaanku. Kali ini lewat film yang judulnya sudah kutulis di atas, aku ingat betul ada kalimat yang diucapkan salah seorang tokohnya di saat yang bersangkutan Ian Miller sedang berduaan dengan kekasihnya seorang Yunani, Toula. Ini katanya,”… so you have a weird family, after all who doesn’t?”
Mulailah tersenyum kalau Anda berpikir saya pasti sedang Membayangkan keluarga. Sedikit review tentang keluarga, lahir di keluarga yang selalu tinggal bersama extended family memang membuat keluargaku nampak ramai dan kadang dengan beberapa caranya yang nampak tidak biasa cukup memalukan. Ini rupanya juga yang dirasakan oleh Toula, seorang perempuan di awal 30an yang lahir dari keluarga Yunani yang lama tinggal di Amerika. Orang tuanya sangat berharap Toula segera menikah, dengan orang Yunani tentunya, yang sayangnya tidak bisa dipenuhi karena Toula jauh cinta pada seorang lelaki kebangsaan ??? yang ditemuinya di kafe tempatnya bekerja.
Setelah usahanya yang nyaris habis-habisan untuk menarik lelaki pujaan hatinya, akhirnya mereka bisa bersama dan menghadapi bahwa kenyataan tak semanis bayangan mereka tentang hidup bahagia selamanya. Perbedaan budaya yang sangat crucial bagi orang tua Toula membuat hubungan mereka seolah-olah berhadapan dengan tembok batu yang hampir membuat Toula putus asa dan mengajak Ian, kekasihnya melarikan diri. Dengan keyakinan seorang lelaki Ian meyakinkan Toula sampai akhirnya mereka bisa menikah dengan dihadiri oleh orang tua dari kedua pihak. Happy ending….
Aku tertarik dengan banyak hal dalam film itu, cara Toula memandang keluarganya, cara ayahnya memandang Toula, cara seorang ibu menunjukkan kasih saying tanpa menjelekkan ayahnya. Ayah Toula adalah sosok utama dalam film yang menolak anaknya berhubungan dengan orang di luar lingkaran “yunani”. Ayahnya juga yang harus berkali-kali ribut dengan istrinya karena ulah Toula yang berpacaran dengan orang “bukan Yunani”. Tapi ayahnya juga yang menabung sekian banyak uang supaya dapat memberikan hadiah rumah baru bagi Toula dan Ian, suaminya, di hari pernikahan mereka.
Terbayang? Seorang laki-laki keras kepala yang sepanjang hidupnya harus berjuang di negeri orang untuk dapat menghidupi keluarganya, yang selalu berpikir bahwa bangsa Yunani adalah bangsa terbaik di seluruh dunia, yang selalu berpikir bahwa laki-laki adalah kepala keluarga yang tidak bisa begitu saja dibantah, harus berhadapan dengan anaknya sendiri yang dengan sepenuh hati dicintainya, yang secara tidak langsung mengatakan padanya bahwa pendapatnya tidak selalu benar. Isu apa yang diharapkan muncul dari situasi seperti ini? Harga diri? Kebenaran versus ketidak-benaran? Balas jasa seorang anak? Orang tua yang keras kepala?
Saudara sidang pembaca sekalian, tahu isu terbesar apa yang kemudian muncul mengikuti masalah di atas? Isu CINTA, saudara-saudara. Isu cinta 1, cinta yang mendasari ayah Toula untuk berharap hanya pada kebahagiaan anaknya, yang sayangnya diketahui hanya bisa diperoleh dengan menikahi sesama orang Yunani. Isu cinta 2, cinta yang mempertemukan Toula dan Ian yang datang dari dua kebudayaan yang berbeda, yang kemudian mendapatkan bahwa kebahagiaan mereka hanya mampu tumbuh di bawah rerimbunannya. Isu cinta 3, cinta Toula pada keluarganya yang sempat membuatnya kehilangan energi karena seolah dunia memaksanya memilih salah satu dari dua hal yang sangat dicintainya. Dan masih sederet isu cinta lainnya…
Dan menurutku dalam hidup yang riil pun setiap masalah bisa dilihat lewat kacamata cinta. Karena cinta, menurutku, satu-satunya isu yang bisa muncul dari satu masalah dan punya potensi untuk menyelesaikannya dan bukan memanaskannya. Isu apa yang mendasari bom yang meledak di Indonesia belakangan ini? Isu cinta terhadap agama secara berlebihan. Tunggu, berlebihan tidak termasuk kata kunci dalam menyelesaikan masalah. Kata berlebihan nampaknya sering muncul di sekitar akar masalah dan bukan penyelesaiannya.
Jangan menganggap tulisan ini terlalu provokatif, terlalu ngawang, kurang membumi, apa kata cinta kurang membumi. Cinta yang pas akan menghasilkan banyak energi positif di belakangnya, toleransi salah satunya. Ini kemudian yang muncul pada isu cinta di film yang sedang kubahas. Orang tua Toula menemukan bahwa kebahagiaan anaknya adalah yang utama ingin mereka dapatkan, dengan energi cintanya serta toleransi yang mau tidak mau muncul sebagai hasil dari cinta yang benar, mereka merestui pernikahan Toula dan Ian.
Di saat memberi sambutan pada acara pernikahan anaknya, ini yang diucapkan oleh ayah Toula tentang perbedaan kultur di antara dua keluarga yang sedang berbahagia itu,”… at the end, we are all (just) a bunch of fruits…” Ya, kupikir memang benar pada akhirnya kita semua bisa mengelompokkan diri dengan siapa pun, apa pun sejauh kita mau. Dan sebaliknya kita pun bisa menjadi “bukan segolongan” dengan orang lain.
fa laksmi – never give up on your love … but be precise…




