Ingat pelajaran waktu SD sekitar kelas 5-6 waktu pertama kali kita belajar pangkat dan akar? Aku ingat waktu itu aku diberitahu bahwa akar sembilan (√9) adalah tiga (3), betul tidak? Baru setelah memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi aku diberitahu bahwa ternyata akar sembilan adalah plus minus tiga. Waktu itu juga aku belajar tentang plus kali plus hasilnya sama dengan minus kali minus. Wah, rasanya pengetahuan jadi sangat berarti karena dulu waktu SD jawaban -3 salah untuk soal akar 9, tapi sekarang aku tahu betul bahwa jawaban itu pun benar.
Terus terang aku sudah lama lupa tentang hal ini sampai beberapa hari yang lalu waktu kuliah statistik, dosenku yang sangat kuhormati mengatakan hal ini dalam kaitannya dengan topik hari itu. Ini kata-katanya yang kukutip hampir persis,” Kebenaran empiris adalah benar sampai ditemukan kebenaran lain yang menyangkal kebenaran tersebut, oleh kita sendiri atau oleh orang lain.” Hah? Sedalam itukah ilmu statistik bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Kuliah hari itu cukup mengganggu pikiranku selama beberapa hari, bagaimana mungkin dua hal yang sangat bertolak belakang (+3 dan -3) memiliki bobot kebenaran yang sama untuk satu persoalan?
Aku sepakat bahwa dosen yang baik selalu membuat para mahasiswanya meninggalkan kelas dengan tanda tanya yang lebih besar dibandingkan sebelum masuk kelas. Dan dosenku satu ini nampaknya masuk kategori itu, karena dalam ilmu statistik yang sangat eksak yang bersangkutan bisa memasukkan aplikasinya dalam hidup sehari-hari yang sangat dinamis. Pelajaran statistik hari itu membuatku berjalan-jalan ke masa laluku, di saat-saat aku bertahan pada pendapatku dengan keyakinan utuh 100% dan tidak menyisakan kemungkinan bahwa pendapatku salah. Lagi-lagi aku dibuat malu….
Bertahan pada pendapat pribadi tanpa reserve rupanya juga bukan satu indikasi kematangan yang bisa dibanggakan. Aku jadi ingat kata-kata temanku tentang betapa orang berbintang Gemini bisa jadi orang yang plin-plan (aku orang Gemini jadi bebas kan buatku mengkritik diri sendiri?) sementara di sisi lain keukeuh pada pendapat pribadi juga tidak bisa dibanggakan, lalu harus apa kita sebagai manusia ya? Kupikir sebagai manusia kita memang banyak harus berperilaku “di tengah-tengah”. Mungkin yang diharapkan orang lain adalah orang yang mampu mempertahankan pendapatnya dengan tetap menyisakan kemungkinan pendapatnya salah, isn’t it a little bit difficult?
Bayangkan dalam ilmu statistika yang begitu pasti segala sesuatunya saja taraf kebenaran maksimal yang bisa diharapkan dari satu penelitian hanya sebesar 99%, menyisakan 1% untuk kesalahan yang mungkin muncul. Apalagi dalam hidup yang tidak bisa segala sesuatunya dipastikan? Tentunya kemungkinan munculnya kesalahan bisa lebih besar lagi kan? Kalau benar begitu lalu kenapa politikus berani mengatakan bahwa pendapatnya 100% benar? Bagaimana pula para imam satu aliran agama yang menyatakan bahwa hanya alirannya yang akan masuk surga? Kupikir terlalu beresiko ya mengambil kesimpulan itu?
Sebelumnya tentu maaf bagi yang berbeda pendapat denganku, karena tulisan ini sangat punya kemungkinan salah. Aku lalu juga ingat dengan serangan Amerika baru-baru ini ke Iraq dengan dasar keyakinannya tentang adanya senjata biologis di negara musuh abadi negeri paman Sam itu. Penyerangan yang melibatkan sekian ratus ribu anak muda Amerika juga membunuh sekian lagi anak muda Iraq, yang seharusnya tidak perlu dilakukan seandainya para pengambil keputusan sadar betul tentang kemungkinan -3 dan +3 adalah jawaban yang betul untuk akar 9.
Dua hal yang “nampak” sangat bertolak belakang bisa jadi adalah kebenaran, bisa jadi tidak ada satu jawaban yang lebih benar dari keduanya karena keduanya memiliki alasan kebenaran sendiri. Begitulah kebenaran milik manusia, kebenaran empiris yang mungkin tidak hanya punya dua sisi bisa jadi lebih dan selalu menyimpan kemungkinan salah. Beda dengan kebenaran absolut yang hanya privilege Yang Maha Kuasa, yang tidak terbantahkan. Tuhan itu ada itu kebenaran absolut, tapi bagaimana kita mengejawantahkan keberadaan Tuhan mungkin (sekali lagi mungkin) itu kebenaran empiris, karena berupa asumsi yang dibuat oleh manusia.
Sempat terpikir bagaimana kondisi dunia jika setiap orang punya pendapat dan perilaku yang sejalan dengan pendapat Pak Jahja Umar, dosen statistikku. Terbayang orang-orang yang memiliki keyakinan tinggi terhadap kebenaran-kebenaran absolut dan tetap memiliki toleransi yang luar biasa terhadap kebenaran-kebenaran empiris lainnya. Dunia pasti tempat yang sangat nyaman untuk ditinggali, orang saling menghargai orang lain dengan asumsi setiap orang memiliki kebenarannya sendiri. Dan hidup lalu jadi satu hal yang absolut kenikmatan dan kedamaiannya. Wah….
Dengan penuh rasa hormat dipersembahkan bagi inspirator tulisan ini Bapak Jahja Umar, seorang pendidik yang berhasil mengajarkan statistik dengan cara yang sangat humanis.
fa




