Buku Totto Chan kuselesaikan dalam waktu kurang dari 8 jam, bukan karena tulisannya yang relatif besar-besar, bukan pula karena kecepatan membacaku yang tinggi, tapi kupikir karena kemampuan narasinya yang seolah-oleh menyihir pembacanya sampai-sampai tidak berhenti membaca kecuali selesai. Buku yang bercerita tentang masa kecil salah seorang penyiar terkenal di Jepang itu menunjukkan betapa seorang anak yang dianggap bermasalah oleh lingkungan tertentu bisa muncul menjadi pribadi yang layak diacungi jempol bila memperoleh intervensi yang tepat.
Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto Chan, yang bahkan bukan nama sebenarnya, yang mengalami kesulitan konsentrasi pada pelajaran dengan metode yang konvensional. Dikeluarkan dari sekolah pertama Totto Chan masuk ke sebuah sekolah yang dipimpin Mr. Kobayashi yang sangat mengenal dunia anak-anak dan punya cara dan metode belajar yang unik yang membuat anak-anak di sekolahnya tidak hanya belajar reaksi fisika atau menghafalkan bagian-bagian bunga yang berperan dalam penyerbukan, tapi juga berperan aktif dalam proses penyerbukan, melakukan sendiri percobaan fisika, serta menginternalisasi nilai-nilai luhur seperti menghargai orang lain.
Metode pelajarannya yang unik membuat setiap anak cenderung menghargai perbedaan yang ada di antara mereka dan bukan menggunakannya untuk menghina satu sama lain. Anak yang terkenal polio, keterbelakangan perkembangan fisik menjadi tidak lagi malu dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Mengharukan melihat bahwa proses belajar yang sangat natural membangun rasa percaya diri yang tinggi pada anak-anak sehingga pada akhirnya yang bersangkutan memiliki energi yang cukup untuk berhadapan dengan dunia luar tanpa melupakan sisi lain tentang menghargai orang lain yang berbeda.
Sejak lama aku tertarik dengan metode belajar yang berbeda dari metode belajar datang-duduk-dengar, film-film dari barat menunjukkan beberapa contoh yang masih kuingat. Dead Poets Society yang mengajarkan anak-anak remaja tentang cara berpikir lateral, out of box, yang mungkin bisa membantunya memecahkan masalah dengan alternatif yang lebih segar. Dangerous Mind & Sister Act II yang menunjukkan seberapa pun seorang anak dianggap tidak bisa melakukan hal-hal besar yang diharapkan lingkungan ternyata tidak anak tetap menyimpan satu keunikan yang akan sangat berguna kalau dioptimalkan. Head of The Class film seri TV yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dianggap sampah oleh lingkungannya bisa muncul jadi anak-anak dengan bakat yang berbeda dan menonjol dengan guru kelas yang punya taktik khusus menghadapinya.
Membayangkan setiap anak kelas satu SD di Indonesia diminta membaca cerita rakyat yang sesuai minatnya, dengan guru yang membawakan contoh-contoh bukunya, Sangkuriang, Legenda Kota Semarang, Joko Tingkir, kemudian mereka diminta Menulis pendapatnya atau menceritakannya lagi di depan kelas. Mungkin metode itu akan lebih mengenal untuk menanamkan rasa cinta bangsa sendiri dibandingkan pelajaran PMP (yang sekarang jadi PPKN), penataran P4 atau PSPB dengan cerita-ceritanya yang sama dari tiap tahunnya. Anak yang terlibat proses belajar aktif bagaimana pun akan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan anak dengan proses belajar yang pasif. Dan aku yakin setiap guru tahu tentang hal ini Namun sulit menerjemahkannya dalam proses belajar-mengajar.
Kesulitannya bisa jadi karena kurikulum yang mendesak diberikannya semua materi dalam satu waktu, bisa juga karena orang tua murid hanya ingin anak-anaknya mendapat nilai 8 pada rapornya, atau yang paling menyedihkan guru-guru merasakan ada rasa tidak nyaman ketika harus mengubah cara mengajarnya dengan cara lain yang diketahuinya lebih konstruktif. Walaupun sisi lain dari diriku bilang, kalau guru sudah mengalami stagnasi dalam mengembangkan dirinya, lalu apa jadinya murid-muridnya kelak, bicara makin global bagaimana masa depan mereka, bagaimana masa depan keluarganya, bangsanya? Ehm, terlalu membesar-besarkan barangkali ya…
Tapi menurutku pendidikan dasar, SD, SMP, SMA itu pendidikan yang membentuk semua pola yang dibutuhkan dalam hidup. Pola belajar, pola memandang orang lain, pola hidup, pola usaha, justru pola-pola itu didapatkan pada pendidikan dasar. Bayangkan saja anak usia sekolah awal harus berkenalan dengan 26 huruf abjad yang sama sekali tidak dikenalnya dan dalam waktu tertentu setiap anak juga harus menghafalkan perkalian 1 sampai sepuluh. Dari proses belajar itu saja setiap anak mulai belajar tentang bekerja keras, belajar apa yang cocok untuknya, juga tentang bahwa ada anak lain yang mungkin lebih bisa dibanding dirinya atau mungkin bahkan lebih tidak bisa. Pelajaran membaca dipelajari di pendidikan dasar dan terus digunakan sampai nenek-kakek, matematika dasar dipelajari di kelas satu dan terus dipakai bahkan sampai tes masuk pekerjaan.
Betapa peran yang diemban pendidikan dasar sangat besar sampai-sampai menjadi sangat tidak masuk akal kalau kurikulum kemudian jadi dipaksakan. Padahal dengan kurikulum yang “masuk akal” guru jadi punya banyak kesempatan untuk melakukan observasi pada anak-anak didiknya bukan sekedar menyampaikan materi, efeknya setiap anak bisa dipastikan mendapat perlakuan yang sesuai dengan setiap keunikan yang dibawanya. Dengan pendekatan yang seperti itu tentunya setia anak menjadi lebih optimal perkembangannya sehingga instead of (aku sudah berusaha keras mencari padanan kata bahasa Indonesia untuk kata itu tapi tidak berhasil kutemukan yang sesuai artinya bukan sekedar terjemahannya) menghafalkan kapan perang Diponegoro berlangsung (1825 sampai 1830 jawabannya) mereka menjadi lebih paham mengapa sang pangeran sampai harus berperang dan bukan menempuh jalan damai seperti harapan orang Indonesia saat itu secara umum.
Sistem pendidikan yang satu arah membuat kemudian mahasiswa juga muncul menjadi pelaku belajar pasif yang dipaksa dengan pola yang harus aktif. Bayangkan, dari pola belajar yang menunggu disuapin dalam sekejap mahasiswa diminta untuk mencari sendiri bahan kuliahnya. Walaupun membaca itu pun tidak pernah ada ruginya, tapi dosen yang berpikir bahwa mahasiswanya terbiasa belajar pasif dan tidak mungkin dengan sengaja datang ke perpustakaan untuk mencari bahan selain yang sudah diajarkan, langsung mengkonfirm asumsinya sendiri dan membuat soal ujian hanya berdasarkan bahan ajarannya. Lengkap sudah dunia pendidikan kita kan kalau begini? Diharap aktif, dianggap pasif, diperlakukan seolah pasif dan lalu kembali menjadi pasif sebelum sempat belajar aktif. Cukup membantu tidak contohku?
Kalau kemudian dijawab, masalahnya sistem pendidikan kita seperti itu dan merombak selain butuh waktu yang panjang juga butuh otoritas yang sering kali tidak dipunyai oleh orang-orang yang jago mendobrak metode-metode konvensional yang sudah tidak laku. Kalau sudah sampai situ lalu seolah setiap orang berhak melepaskan impian idealismenya karena merasa tidak punya otoritas yang cukup, dan kemudian sibuk menyalahkan pihak-pihak lain yang “bisa disalahkan”. Kemudian jadi bisa dibenarkan kalau Mr. Kobayashi menjadi kurang berminat atas publikasi metode pendidikannya yang sangat unik karena inti dari publikasi itu sendiri tidak akan tercapai.
Publikasi tentunya mengharapkan semakin banyak orang yang tahu sehingga pada akhirnya semakin banyak orang yang akan mencobakan metode holistik tersebut. Tapi bagi sebagian orang mengetahui satu metode yang lebih baik bukan berarti bahwa yang bersangkutan akan menerapkannya langsung, karena kemudian yang bersangkutan akan perlu beritanya bersediakah keluar dari comfort zone metode konvensional yang mungkin nampak kurang berhasil tapi toh sudah berjalan sekian lama tanpa kesulitan yang berarti?
Akhirnya metode-metode tertentu menjadi privilege bagi pihak-pihak yang “berani” keluar dari comfort zone-nya, mencobakan sesuatu yang mungkin berhasil mungkin tidak, but at least we give it a try. Tujuannya apa lagi kalau bukan for a better tomorrow?
Anak menunjukkan gambar pada ibunya, yang didapat; berapa nilainya?
Anak bercerita tentang usahanya mengerjakan soal ujian,
Ayah memotong dan bertanya tapi lulus tidak?
And the world would stay the same,
continuing the same mistakes for thousands of years…
fa laksmi-2003




