Arsip untuk Agustus, 2003

Totto Chan: Belajar Dari Gadis Kecil di Tepi Jendela

My Mirror 27 Agustus 2003

Buku Totto Chan kuselesaikan dalam waktu kurang dari 8 jam, bukan karena tulisannya yang relatif besar-besar, bukan pula karena kecepatan membacaku yang tinggi, tapi kupikir karena kemampuan narasinya yang seolah-oleh menyihir pembacanya sampai-sampai tidak berhenti membaca kecuali selesai. Buku yang bercerita tentang masa kecil salah seorang penyiar terkenal di Jepang itu menunjukkan betapa seorang anak yang dianggap bermasalah oleh lingkungan tertentu bisa muncul menjadi pribadi yang layak diacungi jempol bila memperoleh intervensi yang tepat.

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Totto Chan, yang bahkan bukan nama sebenarnya, yang mengalami kesulitan konsentrasi pada pelajaran dengan metode yang konvensional. Dikeluarkan dari sekolah pertama Totto Chan masuk ke sebuah sekolah yang dipimpin Mr. Kobayashi yang sangat mengenal dunia anak-anak dan punya cara dan metode belajar yang unik yang membuat anak-anak di sekolahnya tidak hanya belajar reaksi fisika atau menghafalkan bagian-bagian bunga yang berperan dalam penyerbukan, tapi juga berperan aktif dalam proses penyerbukan, melakukan sendiri percobaan fisika, serta menginternalisasi nilai-nilai luhur seperti menghargai orang lain.

Metode pelajarannya yang unik membuat setiap anak cenderung menghargai perbedaan yang ada di antara mereka dan bukan menggunakannya untuk menghina satu sama lain. Anak yang terkenal polio, keterbelakangan perkembangan fisik menjadi tidak lagi malu dengan kondisi fisiknya yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Mengharukan melihat bahwa proses belajar yang sangat natural membangun rasa percaya diri yang tinggi pada anak-anak sehingga pada akhirnya yang bersangkutan memiliki energi yang cukup untuk berhadapan dengan dunia luar tanpa melupakan sisi lain tentang menghargai orang lain yang berbeda.

Sejak lama aku tertarik dengan metode belajar yang berbeda dari metode belajar datang-duduk-dengar, film-film dari barat menunjukkan beberapa contoh yang masih kuingat. Dead Poets Society yang mengajarkan anak-anak remaja tentang cara berpikir lateral, out of box, yang mungkin bisa membantunya memecahkan masalah dengan alternatif yang lebih segar. Dangerous Mind & Sister Act II yang menunjukkan seberapa pun seorang anak dianggap tidak bisa melakukan hal-hal besar yang diharapkan lingkungan ternyata tidak anak tetap menyimpan satu keunikan yang akan sangat berguna kalau dioptimalkan. Head of The Class film seri TV yang menunjukkan bahwa anak-anak yang dianggap sampah oleh lingkungannya bisa muncul jadi anak-anak dengan bakat yang berbeda dan menonjol dengan guru kelas yang punya taktik khusus menghadapinya.

Membayangkan setiap anak kelas satu SD di Indonesia diminta membaca cerita rakyat yang sesuai minatnya, dengan guru yang membawakan contoh-contoh bukunya, Sangkuriang, Legenda Kota Semarang, Joko Tingkir, kemudian mereka diminta Menulis pendapatnya atau menceritakannya lagi di depan kelas. Mungkin metode itu akan lebih mengenal untuk menanamkan rasa cinta bangsa sendiri dibandingkan pelajaran PMP (yang sekarang jadi PPKN), penataran P4 atau PSPB dengan cerita-ceritanya yang sama dari tiap tahunnya. Anak yang terlibat proses belajar aktif bagaimana pun akan menyimpan lebih banyak informasi dibandingkan anak dengan proses belajar yang pasif. Dan aku yakin setiap guru tahu tentang hal ini Namun sulit menerjemahkannya dalam proses belajar-mengajar.

Kesulitannya bisa jadi karena kurikulum yang mendesak diberikannya semua materi dalam satu waktu, bisa juga karena orang tua murid hanya ingin anak-anaknya mendapat nilai 8 pada rapornya, atau yang paling menyedihkan guru-guru merasakan ada rasa tidak nyaman ketika harus mengubah cara mengajarnya dengan cara lain yang diketahuinya lebih konstruktif. Walaupun sisi lain dari diriku bilang, kalau guru sudah mengalami stagnasi dalam mengembangkan dirinya, lalu apa jadinya murid-muridnya kelak, bicara makin global bagaimana masa depan mereka, bagaimana masa depan keluarganya, bangsanya? Ehm, terlalu membesar-besarkan barangkali ya…

Tapi menurutku pendidikan dasar, SD, SMP, SMA itu pendidikan yang membentuk semua pola yang dibutuhkan dalam hidup. Pola belajar, pola memandang orang lain, pola hidup, pola usaha, justru pola-pola itu didapatkan pada pendidikan dasar. Bayangkan saja anak usia sekolah awal harus berkenalan dengan 26 huruf abjad yang sama sekali tidak dikenalnya dan dalam waktu tertentu setiap anak juga harus menghafalkan perkalian 1 sampai sepuluh. Dari proses belajar itu saja setiap anak mulai belajar tentang bekerja keras, belajar apa yang cocok untuknya, juga tentang bahwa ada anak lain yang mungkin lebih bisa dibanding dirinya atau mungkin bahkan lebih tidak bisa. Pelajaran membaca dipelajari di pendidikan dasar dan terus digunakan sampai nenek-kakek, matematika dasar dipelajari di kelas satu dan terus dipakai bahkan sampai tes masuk pekerjaan.

Betapa peran yang diemban pendidikan dasar sangat besar sampai-sampai menjadi sangat tidak masuk akal kalau kurikulum kemudian jadi dipaksakan. Padahal dengan kurikulum yang “masuk akal” guru jadi punya banyak kesempatan untuk melakukan observasi pada anak-anak didiknya bukan sekedar menyampaikan materi, efeknya setiap anak bisa dipastikan mendapat perlakuan yang sesuai dengan setiap keunikan yang dibawanya. Dengan pendekatan yang seperti itu tentunya setia anak menjadi lebih optimal perkembangannya sehingga instead of (aku sudah berusaha keras mencari padanan kata bahasa Indonesia untuk kata itu tapi tidak berhasil kutemukan yang sesuai artinya bukan sekedar terjemahannya) menghafalkan kapan perang Diponegoro berlangsung (1825 sampai 1830 jawabannya) mereka menjadi lebih paham mengapa sang pangeran sampai harus berperang dan bukan menempuh jalan damai seperti harapan orang Indonesia saat itu secara umum.

Sistem pendidikan yang satu arah membuat kemudian mahasiswa juga muncul menjadi pelaku belajar pasif yang dipaksa dengan pola yang harus aktif. Bayangkan, dari pola belajar yang menunggu disuapin dalam sekejap mahasiswa diminta untuk mencari sendiri bahan kuliahnya. Walaupun membaca itu pun tidak pernah ada ruginya, tapi dosen yang berpikir bahwa mahasiswanya terbiasa belajar pasif dan tidak mungkin dengan sengaja datang ke perpustakaan untuk mencari bahan selain yang sudah diajarkan, langsung mengkonfirm asumsinya sendiri dan membuat soal ujian hanya berdasarkan bahan ajarannya. Lengkap sudah dunia pendidikan kita kan kalau begini? Diharap aktif, dianggap pasif, diperlakukan seolah pasif dan lalu kembali menjadi pasif sebelum sempat belajar aktif. Cukup membantu tidak contohku?

Kalau kemudian dijawab, masalahnya sistem pendidikan kita seperti itu dan merombak selain butuh waktu yang panjang juga butuh otoritas yang sering kali tidak dipunyai oleh orang-orang yang jago mendobrak metode-metode konvensional yang sudah tidak laku. Kalau sudah sampai situ lalu seolah setiap orang berhak melepaskan impian idealismenya karena merasa tidak punya otoritas yang cukup, dan kemudian sibuk menyalahkan pihak-pihak lain yang “bisa disalahkan”. Kemudian jadi bisa dibenarkan kalau Mr. Kobayashi menjadi kurang berminat atas publikasi metode pendidikannya yang sangat unik karena inti dari publikasi itu sendiri tidak akan tercapai.

Publikasi tentunya mengharapkan semakin banyak orang yang tahu sehingga pada akhirnya semakin banyak orang yang akan mencobakan metode holistik tersebut. Tapi bagi sebagian orang mengetahui satu metode yang lebih baik bukan berarti bahwa yang bersangkutan akan menerapkannya langsung, karena kemudian yang bersangkutan akan perlu beritanya bersediakah keluar dari comfort zone metode konvensional yang mungkin nampak kurang berhasil tapi toh sudah berjalan sekian lama tanpa kesulitan yang berarti?

Akhirnya metode-metode tertentu menjadi privilege bagi pihak-pihak yang “berani” keluar dari comfort zone-nya, mencobakan sesuatu yang mungkin berhasil mungkin tidak, but at least we give it a try. Tujuannya apa lagi kalau bukan for a better tomorrow?

Anak menunjukkan gambar pada ibunya, yang didapat; berapa nilainya?

Anak bercerita tentang usahanya mengerjakan soal ujian,

Ayah memotong dan bertanya tapi lulus tidak?

And the world would stay the same,

continuing the same mistakes for thousands of years…

fa laksmi-2003

Komentar (2)

Pemboman Hotel JW Marriot Jakarta

My Mirror 6 Agustus 2003

Terjadi lagi, pemboman misterius di Indonesia, tepatnya jam 12 siang kemarin hari Selasa, 5 Agustus 2003 di lobi hotel JW Marriot, Kuningan Jakarta. Waktu pertama kali mendengar berita itu dari e-mail teman-temanku, aku masih menganggapnya sebagai email hoax yang tidak perlu dipercaya. Namun kemudian beberapa orang teman yang berada di tempat-tempat yang berbeda menyatakan hal yang sama, sampai akhirnya aku percaya. Lucunya begitu aku tahu, langsung hp-ku berbunyi, sesuai prediksi tentunya itu dari Semarang yang menanyakan bagaimana keadaanku. Terharu juga melihat perhatian keluargaku.

Ada dua hal yang aku pelajari dari kejadian ini, yaitu tentang betapa kejadian seperti itu bisa menimpa siapa pun kapan pun tanpa permisi tapi ketika kita membaca beritanya, kita seolah-olah terpisah dari dunia si korban sehingga hampir merasa bahwa hal itu tidak mungkin menimpa kita. Sementara yang kedua, aku heran dengan apa pun alasan yang akan dikemukakan oleh si perencana ledakan itu. Karena menurut bahkan dengan mengatasnamakan Tuhan sekalipun yang sangat membuat hati miris karena menyandingkan kebesaran nama-Nya dengan tindakan keji, sangat tidak bisa diterima bahwa kemudian orang berhak mengakhiri kehidupan orang yang lain dengan cara apa pun. Walaupun nyatanya itu yang terjadi.

Hal pertama itu aku sadari ketika pertama kali menerima email dan menganggapnya tidak penting sehingga tidak kubaca. Juga ketika menonton TV yang menunjukkan para korban dan keluarganya yang sangat berduka, aku merasa sulit menerangkan perasaanku. Aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk berada di dunia yang sudah semakin tua ini tapi di sisi lain aku juga beritanya-tanya bagaimana satu rencana kematian bisa menentukan tiap targetnya dengan tepat dan jarang meleset. Aku seperti terpisah dengan dunia orang-orang yang ada di TV, padahal mereka ada di kota yang sama denganku, bahkan jaraknya pun mungkin tidak lebih dari 10-20 km.

Mungkin ini berhubungan dengan persepsi, aku merasa terpisah dari mereka karena aku punya persepsi yang berbeda dengan kebanyakan dari mereka. Buatku barangkali peristiwa Marriot tidak lebih dari satu berita yang cukup mengagetkan sementara buat para pelaku dan keluarganya kejadian itu sungguh-sunggguh kejadian yang menimbulkan ekses besar bagi keluarga mereka. Mungkin kemampuan empatiku masih rendah, sampai akhirnya aku masih belum bisa benar-benar menerima di kepalaku bahwa kejadian itu ada di kota yang sama dengan tempatku tinggal, dan orang yang ada di dalam bisa jadi keluargaku atau orang-orang yang aku cintai, yang kemudian membuat peristiwa ini menjadi signifikan bagi kelangsungan hidupku.

Mungkin memang benar bahwa masalah batas adalah semata-mata masalah persepsi, itu makanya setiap proses yang membutuhkan kerjasama membutuhkan penyamaan persepsi di awalnya. Karena tiap manusia memiliki persepsinya sendiri yang sangat berbeda dengan manusia lainnya, sesuai dengan latar belakang dan pengalamannya. Tapi seingatku setiap manusia juga dianugrahi hati nurani yang bagaimana pun memiliki pendapat yang mirip di seluruh belahan dunia. Seharusnya hati nurani ini berhasil mempengaruhi persepsi sehingga hasilnya menjadi suatu hal yang produktif bukan kontra produktif.

Lalu aku bingung dengan persepsi apa pula yang mendasari si pelaku sampai yang bersangkutan merasa berhak untuk melenyapkan nyawa orang lain? Persepsi yang diperoleh dari apa? Atau siapa? Bagaimana caranya? Apa proses yang dilaluinya sampai-sampai di satu titik tertentu yang bersangkutan bisa meyakinkan diri sendiri bahwa membunuh orang lain adalah satu aktivitas yang bisa di-“iya”-kan. Di mana peran hati nuraninya sampai-sampai menurutnya membunuh orang lain itu tidak masalah sejauh itu bisa membuat tujuannya tercapai. Pathetic ya?

Entah bagaimana proses yang dilalui setiap manusia, tapi Seharusnya segala prosesnya menggiringnya untuk menjadi manusia yang lebih baik, menurutku. Menjadi lebih berguna bagi sekelilingnya, menjadi lebih bisa jadi teladan bagi yang belum terbuka mata dan hatinya, menjadi lebih baik bagi Khaliknya, menjadi tangan-tangan malaikat yang membantu makhluk lain yang membutuhkan Bukannya malah menjadi malaikat pencabut nyawa bagi sesamanya. Bahkan Jibril pun harus menunggu perintah Tuhan-Nya untuk “action” mengambil nyawa manusia. Pencabutan nyawa oleh Jibril justru menunjukkan ketaatan-Nya kepada Sang Empunya Semesta, tapi yang dilakukan si pengebom misterius itu apakah betul sesuai dengan perintah-Nya? Atau jangan-jangan mis persepsi atas perintah-Nya yang kemudian dijadikan alasan?

Entahlah, toh setiap orang berhak punya pendapatnya sendiri dan bertahan atas keyakinannya, tapi apa layak semua itu dipertahankan bila keyakinannya kemudian menyakitkan orang lain yang juga punya hak yang sama? Entahlah, siapa aku merasa berhak menghakimi mereka?

(If only life were not this complicated, people might be able to live happily following their dreams, but life is not that complicated actually…)

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikan

My Mirror

(2 Agustus 2003)

Kali ini aku mau bicara tentang hewan, walaupun sebenarnya aku bukan penyuka hewan tapi aku pengamat yang baik kok. Sebelum lebih lanjut barangkali baik kalau kuterangkan di sini aku memang bukan penyuka hewan tapi aku menyayanginya just as a pet lover does, cuma kalau buat membelai-belainya atau memeliharanya di rumah, aku lebih pilih virtual pet kayak tamagochi.

Beberapa hari yang lalu mataku tertarik pada ikan-ikan di rumah tanteku yang berkejar-kejaran di akuarium. Tadinya aku berpikir mereka sedang bercengkrama tapi entah apa yang tiba-tiba melintas di kepalaku aku merasa mereka tidak sedang bermain-main, tapi justru ada pihak yang dikejar dan ada yang mengejar. Ikan yang dikejar bertubuh lebih kecil dan nampak ketakutan, lari sangat kencang bahkan kadang-kadang sambil menggoyang-goyangkan badannya supaya terlepas dari ikan yang mengejar. Sementara ikan yang bertubuh besar tetap saja mengejar sambil menggigit-gigit sirip si ikan kecil.

Aku mengamati peristiwa itu berdua, dengan salah seorang teman baikku, entah kenapa ku jadi sangat kesal pada si ikan besar yang nampak semena-mena ke ikan kecil. Kucoba menghalau si ikan besar dari si kecil yang ketakutan tapi tetap saja akhirnya dia kembali. Karena merasa tidak berdaya terhadap ikan yang sedang “teraniaya” akhirnya aku kembali duduk dan merenungkan kejadian itu.

Dalam ingatanku muncullah visualisasi tentang betapa manusia pun melakukan hal serupa, yang besar semena-mena terhadap yang kecil, yang punya kuasa terhadap si lemah, yang tahu terhadap yang belum tahu, yang kaya terhadap yang miskin. Selalu seperti itu, contoh yang paling dekat dan sangat kuingat dengan jelas adalah betapa satu mikrolet bisa semena-mena di jalan karena “badannya” yang lebih besar dibandingkan kendaraan lain di jalan. Dia bisa belok kanan, kiri sesuai kebutuhannya tanpa memperhatikan spionnya, memerika apakah dia menghalangi jalan bagi kendaraan lain. Satu hal yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya kepentingan dia bisa terselesaikan. Poor them, right?

Hidup jadi terkesan sangat dangkal, sempit, tidak berjiwa, miskin dan kering. (Tulisan ini kulanjutkan beberapa hari setelah tanggal di atas). Pengalaman dengan pihak kampus juga melibatkan kesemena-menaan. Bagaimana tidak semena-mena coba? Untuk daftar ulang saja, yang berarti kita harus membayar uang registrasi, dan itu berarti bahwa kita adalah konsumen, kita harus bolak-balik tidak jelas buat minta nomor mahasiswa, ambil berkas, fotocopi, ngukur jaket, beli meterai, baru kemudian resmi daftar ulang. Heran ya betapa konsumen dunia pendidikan disia-siakan?

Di UI lingkungan kampusnya tertutup bagi angkatan umum, jadi mahasiswa hanya bisa naik kendaraan pribadi, ojek atau bis kampus. Kendaraan pribadi berarti sangat bergantung pada status social dan ekonomimu, naik ojek juga sedikit membayar, yang gratis? Tentu saja bis kampus yang sayangnya sudah memonopoli transportasi kampus tapi tidak bisa memberikan pelayanan yang maksimal, mahasiswa harus menunggu sekitar setengah jam supaya bisa naik bis kampus. Seolah-olah bis itu berkata, take it or leave it, you don not have a better choice anyway…

Kubilang lucu betul dunia ini kalau begitu, manusia yang (dulu waktu SD ini yang kupelajari) memiliki akal dan budi, dan itu yang membedakannya dengan monyet yang memiliki volume otak paling dekat komposisinya dibandingkan manusia, justru cenderung berperilaku seperti hewan yang lebih banyak menggunakan instingnya dalam bersikap. Bukannya mencari jalan terbaik bagi kedua pihak, manusia cenderung mencari jalan terbaik bagi dirinya sendiri, tak peduli apakah itu akan mencelakakan orang lain. Lalu di mana letak “budi” yang dimaksudkan ada untuk “meninggikan” derajat manusia terhadap hewan dan tumbuhan?

Aku teringat pelajaran SMP tentang simbiosis mutualisme, cara hidup dua makhluk berdampingan dan saling menguntungkan. Aku ingat betul salah satu contoh yang diberikan guru biologiku adalah bagaimana kehidupan ikan paus dan ikan-ikan kecil di sekelilingnya. Paus yang berbadan besar serta ikan-ikan kecil yang bahkan namanya saja aku tidak tahu (pelajaran SMP hanya menyebut namanya sebagai “ikan kecil”) nampak seperti dua hal kontradiktif yang sepertinya ingin menunjukkan ke manusia betapa dua sisi itu selalu ada dan ditakdirkan untuk hidup berdampingan bukan untuk saling menjatuhkan.

Paus tidak keberatan ikan-ikan itu berenang bersama-samanya karena buatnya ikan-ikan itu membersihkan tubuhnya dari kotoran-kotoran kecil yang melekat di badannya yang besar. Sementara ikan-ikan kecil jelas membutuhkan perlindungan dari pemangsa mereka dan itu mereka dapatkan dengan berenang bersama paus, si raja ikan. Toh paus sebenarnya bisa saja menarik bayaran atas jawa guarding-nya, tapi toh itu tidak dilakukannya atau mungkin dia lakukan dengan barter. Apa begitu sulitnya ya buat manusia meniru perbuatan instingtif yang “konstruktif” sementara di lain sisi perbuatan instingtif yang destruktif malah sudah jadi aikonnya manusia sekarang. Wallahu alam…

Fa-laksmi

Komentar (1)