Arsip untuk Juli, 2003

Multi self or multi role?

My-28 Juli 2003-Mirror

Ini kisah yang menyedihkan sebenarnya, tapi masih bisa dianggap lucu kalau bersedia melihatnya dari sisi lain. Aku lahir jadi anak pertama di satu keluarga besar. Adikku 3 orang, 1 laki-laki dan 2 perempuan. Karena adikku persis laki-laki dan adik terkecilku terpaut usia yang cukup jauh denganku, jadilah aku lebih banyak dibandingkan dengan adik perempuanku yang nomor tiga. Kami berdua dekat pada dasarnya tapi punya sifat yang hampir bisa dibilang sangat bertolak belakang.

Mulai dari fisik, aku berbadan besar, dia kurus. Kulitku putih dan dia sawo matang. Aku cenderung ekstroversif dan dia lebih introversif. Kalau wajah sih mungkin kita ada miripnya. Cerita lucunya seperti ini; adikku, Iya namanya terkenal di keluargaku sebagai orang yang sangat supel, penyabar, suka mengalah, pokoknya segala sesuatu tentang dunia feminin melekat padanya. Sementara aku dikenal emosional, ekspresif, selektif kalau berteman dan punya pace hidup yang lebih cepat.

Nah, belakangan ini aku bekerja di satu grup perusahaan yang salah satu core human value-nya adalah social competency. Dan Iya yang sudah kucoba masukkan lamarannya ke grup perusahaan yang sama tidak pernah dapat panggilan. Kejadian ini lalu nge-link ke cerita tentang salah seorang saudaraku yang ikut tes di perusahaan tempatku bekerja dan gagal. Sebagai alasannya aku menerangkan bahwa social competency anak ini memang kurang, jadi sulit untuk diterima. Kuterangkan juga bagaimana grup ini sangat memilih orang-orang yang mampu bersosialisasi dengan baik sebagai pilihan utamanya.

Lucunya lalu salah seorang pamanku berkomentar,” Lha kamu? Kamu kan nggak kayak gitu orangnya? Kok bisa diterima?” Sesaat aku terperangah, dalam hatiku aku berpikir, betul juga komentar pamanku ini. DI keluarga aku memang dikenal tidak punya social competency yang lebih tinggi dari Iya. Sayangnya, yang tidak diketahui oleh lingkungan keluargaku adalah aku dikenal sebagai orang yang punya interpersonal skill (yang adalah salah satu bagian dari social competency) yang cukup tinggi di lingkungan luar. Kejadian itu membuatku jadi bertanya-tanya, apa betul ya manusia itu memang terdiri dari beberapa self yang bisa sangat berbeda-beda dan bisa muncul dalam lingkungan yang berbeda pula?

Beberapa tahun yang lalu aku pernah menyampaikan pikiranku ini ke salah seorang teman, yang kemudian menolak dengan keras dengan alasan bahwa tujuan manusia hidup itu kan cuma satu, ya kembali kepadaNya dengan menjadi lebih baik sebagai manusia. Tersenyum mengingat itu, barangkali memang akhirnya self-self itu bisa dianggap sebagai peran yang harus dimainkan seseorang ketika berhadapan dengan situasi tertentu. Manusia pada dasarnya pemain peran yang bagus, jadi sepanjang hidupnya sebenarnya yang bersangkutan sedang sibuk bermain peran.

Dalam usaha bermain peran dengan baik itulah maka lalu muncul beberapa self yang berbeda disesuaikan dengan masing-masing situasi. Aku yang lahir sebagai anak pertama di keluarga yang sangat memperhatikan tanggung jawab anak pertama, menjadi sangat tegas, cenderung galak, lack of social skills, mandiri, delegator yang baik. Sementara Iya yang anak ketiga dan selalu tinggal bersama keluarga besar cenderung lebih kompromis, komunikator yang baik, penyabar, toleran. Mungkin ya?

Di lingkungan yang lebih luas di mana kita tidak terikat dengan drama pengendalian masa kecil, kita lebih bisa mengeksplorasi peran dengan luas tanpa merasa terbeban dengan peran yang sudah kita bawa sejak kecil. Lalu muncullah Fanny yang “ternyata” diakui mempunyai social skill yang lebih tinggi dari Fanny yang dikenal di keluarga. Sementara mungkin Iya juga lebih dikenal sebagai Iya dengan atribut yang lain lagi. Berasumsi pada hal itu maka lalu aku sangat bisa menerima ucapan pamanku yang mengatakan bahwa aku diterima di perusahaan tempatku bekerja sekarang semata-mata karena luck-ku yang lebih besar dari Iya.

Aku sama sekali tidak sadar bahwa selama ini peranku membuatku banyak berganti-ganti self, sampai beberapa tahun yang lalu di mana aku keluar dari keluargaku untuk belajar hidup mandiri ngekos di kota yang sama sekali tidak kukenal. Tapi kemudian kupikir menyenangkan juga punya banyak peran yang harus dimainkan dengan karakternya sendiri-sendiri, sejauh kita tidak terjebak dengan banyak peran itu lalu bingung menentukan yang mana self kita yang asli dan mana self yang murni hanya peran.

Bulan Agustus ini aku dan Iya sama-sama sekolah lagi untuk ambil S2 kami, Iya di Yogya, aku di Jakarta dan keluargaku tetap tinggal di Semarang. Mungkin dengan berpisah dari keluarga, Iya bisa menemukan perannya yang lain yang bisa jadi pada akhirnya membuat dia bisa melihat seperti caraku melihat. Begitu juga sebaliknya, I guess, aku belajar gimana iya melihat satu masalah. Mungkin dengan berpisah dari keluarga, Iya dan aku kemudian juga menyadari bahwa menjadi people pleasers tidak selalu menyenangkan. Mungkin kan?

1 Agustus 2003

fa (moga-moga my multi self pada akhirnya menemukan titik temu)

btw now, kami masih sekolah di dua kota berbeda now. Aku personally merasa jadi orang yang lebih imbang. Dan iya? Gak tau soal imbang, yang jelas dia sekarang sudah punya pacar (11 Januari 2005)

Komentar (1)