Arsip untuk Februari, 2002

WISUDA Kompromis

WISUDA Kompromis

Oleh : Fanny Herdina

Siapa orangnya yang mampu dengan suara lantang berkata,” Aku tak butuh wisuda?”, tanpa segala emosi negatif yang mungkin dimiliki manusia. Wisuda, upacara dambaan setiap mahasiswa dengan segala atribut toga, ijasah, sanggul buat sebagian perempuan, dasi kupu-kupu buat yang lelaki[i], selalu jadi impian akhir setiap mahasiswa sebelum kemudian mereka melanjutkan hidup di masyarakat.

Beberapa saat yang lalu -setelah menunggu-nunggu selama hampir 8 tahun-, aku pun mengalaminya. Dengan toga hitam pinjaman kampus, tas berisi penuh dengan makanan dan minuman di dalamnya serta sedikit keengganan, karena setelah 8 tahun, apa masih ada sisa-sisa kebanggaan yang pantas disandang? Rupanya tidak sesederhana itu.

Hasrat besar orang tua untuk melihat anaknya diwisuda, barang kali salah satu dari sekian banyak alasan bagi beberapa orang untuk mengambil keputusan datang pada hari wisudanya. Begitu juga aku, kompromi dengan segala impian orang tua dan kesadaran bahwa inilah persembahan pertama kita untuk mereka dan kemudian memutuskan untuk dengan resmi mewisuda diriku sendiri, tentunya dengan toga dan segala atribut wajibnya.

Hanya setelah itu beberapa hal mendengung di kepalaku. Salah satunya adalah betapa manusia dihadapkan terus-menerus pada pilihan-pilihan yang harus diambilnya, segera atau hilang kesempatan. Betapa kita tanpa henti harus melakukan kompromi-kompromi sejak awal kehidupan kita sampai kemudian hari, dengan istilah yang berbeda-beda, namun punya satu inti sikap yang idem.

Waktu kecil kita berkompromi dengan menganggap bahwa setiap orang yang lebih tua jauh lebih tahu apa yang baik untuk kita dan yang buruk. Kita menyerahkan hampir semua keputusan besar di tangan orang-orang yang merasa lebih tahu tentang kita dibandingkan orang lain. Keputusan-keputusan ini pada satu saat dalam hidup kita akan banyak menentukan. Mereka memutuskan sekolah mana yang akan kita masuki, cara berpakaian apa yang baik atau buruk buat kita, makanan apa yang boleh kita makan bahkan sampai hal-hal apa saja yang harus kita pelajari. Namun saat itu kompromi yang kita lakukan diberi judul “menurut pada orang tua, yang lebih tahu dari kita”.

Kemudian setelah remaja, ketika segala keingin-tahuan muncul begitu saja dari balik pori-pori kulit kita dengan asap pemberontakannya, muncul lagi kompromi dengan judul “demi masa depan kita”. Well, apa mau dikata? They have been there -in our future-
[ii], they said. Walaupun nyatanya mereka tidak pernah berada di masa depan kita, mereka berada di masa depan mereka sendiri. Namun atas nama semua nilai-nilai “baik” yang dijejalkan dalam lipatan-lipatan abu-abu kita[iii], maka siapa yang berani melawan pengalaman? Mulailah kita mengadopsi segala nilai “baik” dan segera mengakuisisi mereka menjadi milik pribadi. Tapi, benarkah nilai-nilai itu milik kita?

Sedikit berbeda dengan tahap-tahap sebelumnya, di mana kita tidak dengan sadar dan suka rela melakukan kompromi –mungkin lebih tepat kalau kusebut tidak tahu-, tahap kompromi berikutnya kita lakukan dengan sadar dan rela. Dengan penuh kesadaran kita menekan segala keinginan kita yang sudah entah berapa lama kita tekan dengan segala alasan kompromi yang “mereka” miliki, namun kali ini kita lakukan dengan fully aware. Bahkan kesadaran itu pun kadang-kadang tak mampu menghilangkan rasa “galau” yang muncul pada saat maupun setelah keputusan untuk berkompromi diambil.

Perbedaan tingkat kesadaran kita ketika berkompromi adalah hal yang membedakan proses kompromi kita pada masa-masa tertentu. Sementara persamaannya adalah kompromi melibatkan satu proses menekan, memberikan toleransi, kesediaan untuk melakukan sesuatu untuk orang lain, pengorbanan dan masih sederet kata lain yang terdengar indah di telinga, namun apa juga terdengar indah di hati?

Pada akhirnya nampaknya enak jadi Sartre yang dapat dengan mudah berkata,”Persetan dengan orang lain.” Karena pada satu situasi, berpikir tentang hal itu saja sudah jadi satu proses mental yang dianggap menyimpang karena dianggap nggak mau tahu perasaan orang lain. Kalau Jodie Foster bilang di film Dangerous Mind bahwa to live is to choose, maka mungkin sekarang waktunya kita memilih menjadi kompromis dengan sadar dan suka rela atau tetap bersedia menjadi kompromis paksaan? Karena ternyata hidup penuh dan butuh banyak kompromi.

21 Februari 2002

©fa ©

[i] Seragam wisuda untuk laki-laki di UGM, aku nggak tahu di kampus lain.

[ii] Aku ingat kata-kata salah seorang distributor Amway,” We’ve been to your future. Now we come back to tell you what It’s like.”

[iii] Aku ambil dari kata-kata yang sering diucapkan oleh Hercule Poirot, detektif Belgia bertubuh kecil yang memiliki kemampuan luar biasa dalam memecahkan misteri, tokoh imajinatif milik Agatha Christie.

Komentar (1)